Polresta Cilacap Ungkap Dugaan Pencabulan Anak Selama 11 Tahun
Polresta Cilacap mengungkap dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dengan 24 korban selama 11 tahun. Polisi membuka posko pengaduan.
Suasana pantai selatan/Harian Jogja-Salsabila Annisa Azmi
Harianjogja.com, JOGJA--Misteri Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul kerap dihubungkan dengan penyebab peristiwa pengunjung pantai terseret ombak.
Namun apakah mitos tersebut dapat dipandang secara ilmiah?
Menyimak berbagai laporan terkait Pantai Parangtritis tidak terlepas dari banyaknya korban sapuan ombak di pantai yang berada di Bantul, Jogja ini.
Mengingat adanya larangan memakai baju hijau saat berkunjung ke Pantai Parangtritis, sering kali, laporan kehilangan ini dikaitkan dengan mitos Nyi Roro Kidul. Mitos tersebut menyebutkan jika siapa saja yang mengenakan baju hijau akan terseret ombak dan dibawa oleh Nyi Roro Kidul untuk menjadi pengikutnya.
Terlepas dari benar atau tidak, mitos ini sudah menyebar dan dipercaya oleh beberapa orang. Jika dilihat dari sisi lain, mitos ini rupanya dapat dijelaskan secara ilmiah.
Dilansir dari Jurnal Oseanografi tahun 2015 yang diterbitkan di E-Journal Universitas Diponegoro, maraknya kecelakaan hingga telan banyak korban di Pantai Parangtritis ini disebabkan oleh tarikan pergerakan massa air yang kembali ke laut. Arus ini dikenal sebagai Rip current.
Arus Rip current ini merupakan arus yang bergerak dari pantai menuju laut dan dapat terjadi setiap hari dengan kondisi bervariasi, mulai dari yang kecil, pelan, dan tidak berbahaya. Paling berbahaya, arus ini dapat menyeret orang ke tengah laut.
Rip current ini biasanya terkonsentrasi melewati jalur sempit atau rip chanel yang mengalir kuat ke arah laut dari zona hempasan. Kemudian melintasi gelombang pecah hingga masuk ke laut lepas pantai.
Di sepanjang pantai selatan yang terdapat di tiga kabupaten Yogyakarta, antara lain Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul, fenomena Rip current dibagi ke dalam empat segmen. Pantai Parangtritis masuk ke dalam segmen 2 dengan bentuk pantai lurus.
Mengutip Jurnal Oseanografi, Pantai Parangtritis menempati urutan kedua dengan kecepatan dan arah Rip current yang paling besar yaitu mencapai angka 225, tepat dibawah Pantai Wediombo.
Setelah dilakukan analisa korelasi, lokasi kemunculan Rip current diketahui paling dominan terjadi pada pantai yang berada di segmen 2 antara lain termasuk Pantai Parangtritis. Pasalnya, Rip current yang terjadi di segmen 2 berasosiasi dengan beach cups atau migratory rip.
Migratory rip sendiri merupakan proses erasional yang menimbulkan arus yang berasosiasi dengan gelombang lebih dari 1,5 meter dan terjadi di pantai yang tererosi dan bergelombang tinggi.
Secara sederhana, jika kamu ingin mengetahui apakah pantai yang kamu kunjungi memiliki Rip current atau tidak, kamu perlu membiarkan sebuah botol terapung. Saat tersapu ombak, jika botol tersebut bergerak ke arah bibir pantai, maka lokasi tersebut tidak memiliki Rip current. Namun, jika botol tersebut mengarah mengikuti arus, dapat dipastikan jika lokasi tersebut terdapat Rip current.
Jika dijelaskan secara ilmiah mengenai bagaimana Pantai Parangtritis disebut sering menelan korban, dapat dipastikan jika bukan karena Nyi Roro Kidul, melainkan karena adanya Rip current.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Polresta Cilacap mengungkap dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dengan 24 korban selama 11 tahun. Polisi membuka posko pengaduan.
Harga buyback emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian turun pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Cek harga berdasarkan berat emas.
Perempuan muda dan lansia di DIY serta Klaten mengolah kain perca menjadi tenun dan kerajinan bernilai ekonomi di Rumah Kreatif Tukik.
BMKG menetapkan status Siaga tsunami hingga 3 meter setelah gempa M7,7 mengguncang Nagekeo, NTT, Sabtu pagi.
Artis Celine Evangelista hadir dalam gelaran Jogja Fashion Week (JFW) 2026 dengan membagikan pengalaman dalam berbinis busana muslimah syar'i.
Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika tidak hanya merusak kondisi fisik, tetapi juga dapat memicu kecanduan berat akibat perubahan sistem dopamin di otak