Selisih Data PHK Jadi Sorotan, Kemenaker Siapkan Klarifikasi
Kemenaker akan mengklarifikasi perbedaan data PHK dengan Apindo setelah muncul selisih angka pekerja terdampak sepanjang 2026.
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020)./ANTARA FOTO-Septianda Perdana
Harianjogja.com, JAKARTA – Tren penjualan ponsel pintar tanpa menghadirkan pengisi daya (charger) dalam kotak diperkirakan menjadi strategi yang dipilih vendor ponsel pada 2021.
Sebelumnya, perusahaan teknologi asal California, Apple menjual iPhone 12 mini, iPhone 12, iPhone 12 Pro, dan iPhone 12 Pro Max tanpa charger dalam kotak.
Dilansir melalui phonearena, vendor Samsung dan Xiaomi diprediksi meniru langkah serupa. CEO Xiaomi Lei Jun menyatakan Xiaomi Mi 11 akan diluncurkan tanpa dilengkapi pengisi daya.
Selain itu, dilansir melalui Gizmochina ponsel flagship Samsung yang disinyalir merupakan Galaxy S21 juga hadir tanpa disertai charger. Hal ini disampaikan oleh National Telecommunications Agency (Anatel), Brazil.
Namun, saat dihubungi oleh Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) kedua perusahaan tersebut enggan memberikan konfirmasi.
Menanggapi hal tersebut, pendiri dan pemerhati gawai dari komunitas Gadtorade Lucky Sebastian mengatakan dengan bungkamnya kedua perusahaan tersebut memberikan kejelasan bahwa isu tersebut besar kemungkinan benar adanya. “Brand seperti Xiaomi dan Samsung akan menjadi yang pertama di sistem operasi Android untuk menjual ponsel tanpa charger,” katanya saat dihubungi JIBI, Senin (28/12/2020).
Lebih lanjut, dia melihat alasan saat ini dari versi vendor adalah meminimalkan masalah lingkungan, yakni limbah dari charger. Tetapi, menurutnya, penjelasan yang lebih masuk akal adalah masalah penjualan untuk antisipasi dampak pandemi Covid-19 pada 2020.
“Menghilangkan charger ini akan banyak manfaatnya untuk vendor. Pertama, charger termasuk biaya produksi. Dengan dijual tanpa charger berarti bisa memotong modal produksi,” ujarnya.
Dia melanjutkan pengaruh lainnya berefek pada sistem distribusi. Bila dianalogikan, jika satu kotak bulk saat distribusi terisi 12 unit ponsel pintar (dengan charger), tetapi menghilangkan charger membuat bulk lebih tipis dan bisa membuat vendor mendistribusikan barangnya sebanyak 20 unit.
“Ini membuat ongkos packaging, handling, dan distribusi jauh lebih murah. Bahkan, charger original bisa dijual terpisah, ini menambah keuntungan bagi vendor,” ujarnya.
Menurut Counterpoint, harga modal charger dan kabel yaitu US$6. Sebaliknya, charger adaptor sekitar US$4—US$5 untuk kebutuhan modalnya. “Bila dikalkulasikan dari jutaan pengguna yang membeli [charger terpisah] keuntungannya cukup besar,” kata Lucky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Kemenaker akan mengklarifikasi perbedaan data PHK dengan Apindo setelah muncul selisih angka pekerja terdampak sepanjang 2026.
MA mengoreksi perhitungan kerugian negara kasus korupsi timah. Dari Rp300 triliun, kerugian keuangan negara ditetapkan Rp28,9 triliun.
Pemkab Temanggung mendukung wacana guru PPPK menjadi ASN pusat. Beban APBD daerah berpotensi berkurang sekitar Rp150,5 miliar.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.
Perpres ojol masih difinalisasi Komdigi. Pemerintah menguji formula bagi hasil yang adil bagi pengemudi dan menjaga bisnis platform ride-hailing.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan kasus sabu 98 kg, di salon Mangga Besar. BNN juga menyita uang dan aset Rp39,95 miliar.