Buntut Serangan Ransomware, Jokowi Minta BPKP Audit Tata Kelola Pusat Data Nasional
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Mi soba Jepang. - Unsplash
Harianjogja.com, NAGANO—Jika mengacu pada sajian makanan, setiap orang bisa memiliki penilaian masing-masing untuk menentukan kelezatannya. Namun, di tengah perkembangan teknologi seperti sekarang, mesin yang bisa menilai kelezatan makanan pun mulai dikembangkan.
Sebuah perusahaan yang berbasis di Nagano, Jepang baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah menciptakan mesin penganalisa rasa pada mi yang pertama di dunia. Mesin itu secara ilmiah dapat memperkirakan kelezatan mi soba dalam hitungan detik.
Melansir Oddity Central, Prefektur Nagano terkenal dengan mi sobanya, varietas populer yang dibuat dengan tepung soba. Tepung itu terbuat dari buckwheat Jepang atau sejenis biji-bijian bernama latin Fagopyrum esculentum.
Untuk mendukung produksi mi soba di wilayah setempat, produsen perkakas lokal Yatsurugigiken Inc. bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Shinshu untuk menciptakan mesin penganalisa kelezatan mi pertama di dunia. Perangkat berteknologi tinggi itu menerapkan fluoresensi yang diinduksi LED ultraviolet ke sekitar 2 gram tepung soba dan mengukur tingkat fosfolipid, protein, dan zat terkait rasa lainnya. Dalam hitungan detik, peringkat rasa dalam empat kategori berbeda (rasa, aroma, kehijauan, kesegaran) ditampilkan di layar LED.
“Penggiling mengandalkan wawasan pekerja terampil untuk penilaian rasa, tapi saya ingin mengevaluasi rasa soba dalam bentuk numerik dan menunjukkan kualitas mi secara objektif,” kata Naoya Shimizu, presiden Yatsurugigiken.
Kita semua sepakat bahwa rasa adalah hal yang sangat subjektif. Namun, Yatsurugigiken mengakui bahwa rasa mi dapat dipengaruhi oleh cara merebus dan menyiapkannya, sehingga perusahaan mengatakan bahwa dalam hal kualitas tepung soba, mesin penganalisanya memberikan hasil yang objektif.
Perusahaan yang berbasis di Nagano ini telah mendapatkan paten untuk perangkat cerdiknya dan yakin bahwa operator restoran, pabrik, koperasi pertanian, dan entitas lain akan tertarik untuk membelinya.
Rupanya, Yatsurugigiken sudah bekerja sama dengan Universitas Shinshu sekitar tujuh tahun lalu, ketika mencoba membuat mesin yang dapat memilah biji soba berdasarkan kualitasnya. Namun, rencana dibatalkan karena membuat versi komersial terbukti sulit, sehingga minat studi beralih ke analisis rasa dan kualitas tepung soba.
Dalam beberapa bulan mendatang, Yatsurugigiken berencana mengadakan tes sensorik berulang kali untuk membuktikan korelasi antara hasil penganalisis kelezatan minya dan seberapa tinggi orang menilai rasa dan aroma berbagai mi soba. Perusahaan mengklaim bahwa perangkatnya dapat sangat bermanfaat bagi petani soba karena dapat membantu mereka membuktikan kualitas produk mereka.
“Menunjukkan nilai objektif akan membantu memperbaiki harga soba, yang berbeda di antara daerah penghasil,” kata Naoya. “Itu akan memberikan dorongan bagi petani yang terganggu oleh harga pasar yang lebih murah dan mengarah pada peningkatan nilai soba.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Oddity Central
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Menteri PPPA menyebut paparan judi online terhadap 200 ribu anak menjadi ancaman serius bagi perlindungan dan tumbuh kembang anak.
Pemkab Bantul menargetkan 10 Koperasi Desa Merah Putih siap diresmikan Agustus 2026 dengan fokus usaha kebutuhan pokok dan produk lokal.
Kemenhub menyesuaikan fuel surcharge pesawat domestik mulai 13 Mei 2026 akibat kenaikan harga avtur demi menjaga operasional maskapai.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 17 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta, tersedia keberangkatan pagi sampai malam hari.
Manchester City juara Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di final Wembley lewat gol Antoine Semenyo.