Perbankan Pilih Teknologi AI untuk Cegah Kejahatan Fraud

Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana Selasa, 21 Mei 2024 13:17 WIB
Perbankan Pilih Teknologi AI untuk Cegah Kejahatan Fraud

Ilustrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA–Perbankan menilai artificial intelligence (AI) atau teknologi kecerdasan buatan dapat membantu lembaga keuangan mencegah risiko kejahatan fraud.

Director & Country Manager 1datapipe untuk Indonesia, Herrias Yusmawan mengatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam mencegah risiko kejahatan fraud, yaitu analisis mendalam terhadap perilaku, model yang berjalan serta disupervisi secara berkala, dan data yang digunakan sesuai kaidah. Menurutnya, teknologi AI bisa mentransformasi data menjadi sebuah informasi dengan cara mengkombinasikan antara data, analitik dan model.

“Atribut seperti credit-score dan fraud menjadi modal bagi perbankan untuk mendapat gambaran yang jelas dari calon nasabah sehingga lembaga tersebut bisa lebih yakin dalam menyetujui sebuah pengajuan kredit,” katanya dalam siaran pers, Senin (20/5/2025).

Baca Juga

Kemendikbud: Guru dan Dosen Perlu Integrasikan AI di Pembelajaran

Rektor ITD Adisutjipto Jadi Narasumber Rakertas Wantannas soal Transformasi Ekonomi lewat AI

UMY Akan Masukkan Mata Kuliah AI ke Semua Prodi

Dia menambahkan apabila nasabah tersebut dinilai baik, maka ini menjadi dasar bagi lembaga keuangan untuk menentukan jumlah kredit yang bisa diberikan. Dia menyebut tantangan lembaga keuangan, sekitar 60 persen dari total nasabah di Indonesia segmennya adalah unbanked dan underbanked. Lembaga keuangan belum memiliki gambaran secara lengkap terhadap segmen ini. 1datapipe, lanjutnya, menawarkan solusi bersifat analiticy-based untuk memberikan gambaran secara lengkap tentang calon nasabah dari segmen tersebut sehingga lembaga perbankan dapat menjadikannya dasar untuk credit decision.

Senada, Chief Compliance Officer and Group Data Protection Officer 1datapipe Claire Hartley menambahkan AI punya peran besar dalam meningkatkan perlindungan data dan mengelola pelanggaran. Apalagi dalam sektor perbankan, keamanan dan kepatuhan merupakan hal yang sangat penting.

“Dalam pencegahan penipuan, algoritma AI adalah pola pendeteksian adaptif dan anomali yang bisa mengidentifikasikan aktivitas penipuan, bahkan sebelum hal itu terjadi," ujarnya.

Model machine learning belajar dari data transaksi historis dan terus beradaptasi dengan pola baru yang mencurigakan sehingga secara signifikan mengurangi risiko pelanggaran dan insiden data. Claire menegaskan bahwa AI juga membantu menganalisis penyebab dan cakupan pelanggaran. Dengan mengintegrasikan ke dalam strategi keamanan siber, AI dapat meningkatkan keamanan secara keseluruhan sehingga mampu melindungi pelanggan yang sensitif dan menjaga kepercayaan pada sistem keuangan.

CEO 1datapipe Carey Anderson mengatakan bahwa perusahaannya memahami peraturan privasi data di Indonesia. “Kami bekerjasama dengan badan pengawas seperti OJK dan juga fintek untuk memastikan bahwa kami mematuhi Undang-Undang setempat," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online