Indonesia vs Malaysia Malam Ini, Garuda Bidik Posisi Teratas Grup A
Timnas Indonesia menghadapi Malaysia pada laga kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Kedua tim sama-sama mengoleksi tiga poin.
Mobil listrik Vinfast VF8 yang akan diekspor sedang diangkut ke kapal di Haiphong, Vietnam pada Jumat (25/11/2022). Bloomberg/Linh Pham
Harianjogja.com, JOGJA—Industri otomotif global menghadapi tantangan baru setelah laporan terbaru mencatat lonjakan tajam klaim perbaikan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sepanjang 2025. Kondisi ini terbilang kontras karena pada saat yang sama, penjualan unit EV baru justru melambat di sejumlah pasar utama.
Berdasarkan data dari Mitchell, klaim perbaikan EV meningkat 14% di Amerika Serikat dan melonjak hingga 24% di Kanada. Tingginya angka Biaya Perbaikan Kendaraan Listrik 2025 ini mulai menekan margin perusahaan asuransi sekaligus menuntut kesiapan lebih dari bengkel spesialis.
Sementara itu, laporan Cox Automotive mencatat penjualan EV baru turun sekitar 2% setelah sejumlah insentif pajak berakhir dan sebagian konsumen beralih ke kendaraan hybrid. Meski penjualan melambat, populasi EV yang sudah beredar di jalan justru lebih sering terlibat insiden, sehingga memicu peningkatan klaim secara signifikan.
Eksekutif Mitchell, Ryan Mandell, menjelaskan arsitektur kelistrikan yang padat serta sistem berbasis perangkat lunak menjadi penyebab utama mahalnya biaya perbaikan. Kerusakan ringan pada bodi kendaraan kerap berdampak pada sensor yang saling terhubung, sehingga memerlukan proses diagnosis dan kalibrasi ulang yang kompleks.
“Komponennya dipenuhi sensor saling terhubung, sehingga kerusakan kecil sekalipun memerlukan proses diagnosa dan kalibrasi ulang yang memakan waktu serta biaya besar,” ujar Mandell. Hal tersebut membuat pengerjaan teknis EV jauh lebih kompleks dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
Dari sisi merek, Tesla masih mendominasi klaim perbaikan. Model Tesla Model Y dan Tesla Model 3 disebut mencakup lebih dari 50% total klaim EV di Amerika Utara. Meski rata-rata biaya perbaikan global turun tipis 5% menjadi US$6.395, angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan biaya servis mobil berbahan bakar bensin.
Ketergantungan pada suku cadang asli pabrikan (OEM) turut menjadi faktor utama. Sekitar 86% biaya perbaikan EV dialokasikan untuk komponen baru, sementara kendaraan ICE rata-rata hanya sekitar 62%. Selain itu, depresiasi nilai jual EV di Kanada dilaporkan mencapai 13%, dipicu kehadiran model baru yang lebih terjangkau.
Kondisi ini diperkirakan akan terus menjadi tantangan bagi industri asuransi dan bengkel perbaikan seiring kompleksitas teknologi otomotif yang kian meningkat. Pemilik kendaraan listrik pun disarankan lebih cermat memilih perlindungan asuransi agar tidak terbebani biaya perbaikan tinggi di tengah penurunan nilai jual kendaraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Timnas Indonesia menghadapi Malaysia pada laga kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Kedua tim sama-sama mengoleksi tiga poin.
Harga minyak dunia melonjak setelah Trump menolak tawaran damai Iran. Brent naik ke US$106,31 dan WTI US$93,62 per barel.
Wacana pendidikan gratis Prabowo hingga PTN membutuhkan anggaran dan skema jelas, termasuk untuk PTS serta daerah 3T.
YouTube memperketat rekomendasi untuk remaja guna mengurangi paparan berulang konten standar tubuh dan penampilan tertentu.
Fajar/Fikri gagal ke final Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah kalah dari Liang/Wang. Leo/Daniel melaju ke partai puncak.
Ditjenpas memeriksa Ferdy Sambo dan 54 warga binaan lain usai temuan Ombudsman RI terkait fasilitas mewah di Lapas Cibinong.