Messi Digaji Rp462 Miliar di MLS, Son Heung-min Kalah Jauh
Lionel Messi menjadi pemain bergaji tertinggi MLS 2026 dengan pendapatan Rp462 miliar per tahun, jauh meninggalkan Son Heung-min.
Ilustrasi server internet - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pernah frustrasi saat video streaming terus buffering atau gagal mengirim file besar karena koneksi lambat? Keluhan itu ternyata bukan sekadar perasaan. Laporan terbaru menunjukkan kecepatan internet Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara lain, bahkan menjadi salah satu yang termahal di Asia Tenggara jika dihitung berdasarkan biaya per Mbps.
Berdasarkan laporan Digital 2025 Global Overview Report dari We Are Social, rata-rata kecepatan internet seluler di Indonesia saat ini hanya mencapai 29,06 Mbps. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata global yang sudah menembus 61,52 Mbps.
Di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia juga belum kompetitif. Malaysia tercatat memiliki kecepatan internet seluler rata-rata mencapai 104,99 Mbps, sedangkan Singapura menjadi salah satu negara dengan koneksi fixed broadband tercepat di dunia dengan kecepatan hingga 324,46 Mbps.
Untuk internet rumah atau fixed broadband, Indonesia juga masih tertinggal. Rata-rata kecepatan koneksi tetap nasional hanya berada di angka 32,05 Mbps, sedangkan rata-rata global sudah mencapai 95,10 Mbps.
Situasi tersebut terasa kontras dengan perkembangan teknologi internet dunia yang terus melesat. Jepang bahkan sempat mencatat rekor kecepatan transmisi data hingga 402 terabit per detik dalam pengujian teknologi jaringan terbaru.
Yang paling disorot justru soal biaya internet di Indonesia yang dinilai tidak sebanding dengan kualitas layanan. Data dari Cable.co.uk menyebut tarif internet Indonesia mencapai sekitar US$0,41 atau setara Rp6.800 per Mbps per bulan.
Biaya tersebut disebut sebagai salah satu yang paling mahal di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, Singapura hanya berada di kisaran US$0,03 per Mbps atau hampir 14 kali lebih murah dibandingkan Indonesia.
Kondisi ini memberi dampak langsung bagi masyarakat yang semakin bergantung pada internet untuk aktivitas sehari-hari. Mulai dari pelajar yang mengikuti pembelajaran daring, pekerja kreatif yang membutuhkan upload data besar, hingga pelaku UMKM yang mengandalkan penjualan digital.
Selain faktor geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, persoalan pemerataan infrastruktur dan dominasi operator besar juga dinilai menjadi tantangan utama dalam peningkatan kualitas layanan internet nasional.
Meski demikian, ada sedikit perkembangan positif. Berdasarkan laporan Ookla melalui Speedtest Global Index per September 2025, rata-rata kecepatan internet seluler Indonesia sempat meningkat menjadi 45,01 Mbps.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengklaim kualitas layanan broadband di sejumlah ibu kota provinsi mulai membaik dengan kecepatan rata-rata mencapai 63,5 Mbps.
Namun, tantangan terbesar masih berada pada pemerataan akses dan keterjangkauan harga layanan internet, terutama bagi masyarakat di daerah pinggiran dan pelosok yang hingga kini belum menikmati kualitas jaringan setara kota besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lionel Messi menjadi pemain bergaji tertinggi MLS 2026 dengan pendapatan Rp462 miliar per tahun, jauh meninggalkan Son Heung-min.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya Jumat 15 Mei 2026 berdasarkan data resmi KAI Access.
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
KKP mempercepat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat hilirisasi perikanan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Komdigi meminta seluruh platform digital menyelesaikan self assessment PP Tunas sebelum 6 Juni 2026 untuk perlindungan anak di ruang digital.
Pemkot Yogyakarta kembangkan Program Bule Mengajar di kampung wisata untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat dan UMKM lokal.