Gol Justin Hubner Muncul Bersamaan dengan Kabar Pahit Garuda
Justin Hubner mencetak gol saat Fortuna Sittard menghadapi FC Metz, di tengah kepastian dirinya absen membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026.
Ilustrasi BBM/Ist. dok. Pertamina Patra Niaga
Harianjogja.com, JOGJA—Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter membuat sebagian pemilik kendaraan mempertimbangkan beralih ke Pertalite. Namun, keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan spesifikasi mesin karena perbedaan angka oktan dapat memengaruhi performa hingga usia pakai komponen kendaraan.
Disarikan dari berbagai sumber, Pertamax memiliki Research Octane Number (RON) 92, sedangkan Pertalite berada pada RON 90. Perbedaan angka oktan tersebut menentukan kemampuan bahan bakar menahan tekanan sebelum terbakar di dalam ruang bakar.
Risiko Knocking pada Mesin Kompresi Tinggi
Salah satu dampak yang paling sering dikaitkan dengan penggunaan BBM beroktan lebih rendah pada mesin berkompresi tinggi adalah munculnya gejala knocking atau ngelitik. Kondisi ini terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar sebelum waktu yang seharusnya akibat tekanan tinggi di ruang bakar.
Knocking dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan dalam jangka panjang berpotensi mempercepat keausan sejumlah komponen mesin. Namun, tingkat risiko sangat bergantung pada rasio kompresi mesin dan teknologi pengaturan pembakaran yang digunakan kendaraan.
Performa Berpotensi Menurun
Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan juga dapat memengaruhi performa kendaraan. Pada beberapa mesin modern, tenaga dan respons akselerasi bisa berkurang karena sistem manajemen mesin menyesuaikan waktu pengapian untuk mencegah knocking.
Akibatnya, kendaraan dapat terasa kurang responsif saat berakselerasi, terutama ketika membawa beban berat atau melaju di tanjakan.
Konsumsi BBM Bisa Kurang Efisien
Meski harga Pertalite lebih murah, penghematan belum tentu sebanding apabila konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Pada kendaraan yang dirancang menggunakan RON 92 atau lebih tinggi, efisiensi pembakaran dapat menurun ketika menggunakan BBM dengan oktan lebih rendah.
Kondisi tersebut berpotensi membuat pemilik kendaraan lebih sering mengisi bahan bakar dibandingkan saat menggunakan BBM sesuai spesifikasi.
Potensi Penumpukan Kerak Karbon
Pembakaran yang tidak optimal juga dapat meningkatkan pembentukan deposit atau kerak karbon pada ruang bakar, katup, maupun injektor. Seiring waktu, akumulasi kerak dapat memengaruhi kinerja mesin dan meningkatkan kebutuhan perawatan.
Meski demikian, pembentukan kerak karbon tidak hanya dipengaruhi jenis BBM, tetapi juga kondisi mesin, kualitas perawatan, pola berkendara, dan kualitas bahan bakar secara keseluruhan.
Sesuaikan dengan Rekomendasi Pabrikan
Pengamat otomotif umumnya menyarankan pemilik kendaraan mengikuti spesifikasi bahan bakar yang direkomendasikan pabrikan. Informasi tersebut biasanya tercantum pada buku manual kendaraan atau penutup tangki bahan bakar.
Apabila kendaraan dirancang untuk menggunakan RON 92 atau lebih tinggi, penggunaan Pertamax atau bahan bakar dengan spesifikasi setara dinilai lebih sesuai untuk menjaga performa dan keawetan mesin. Sebaliknya, kendaraan dengan rekomendasi RON 90 masih dapat menggunakan Pertalite tanpa masalah.
Perbedaan Pertamax dan Pertalite
| Aspek | Pertamax | Pertalite |
|---|---|---|
| RON | 92 | 90 |
| Harga per liter* | Rp16.250 | Lebih rendah |
| Cocok untuk | Mesin kompresi menengah-tinggi | Mesin kompresi rendah-menengah |
| Risiko knocking pada mesin RON 92 | Rendah | Lebih tinggi |
| Potensi performa | Optimal | Bisa menurun pada mesin tertentu |
| Efisiensi pembakaran | Lebih baik pada mesin RON 92 | Tergantung spesifikasi mesin |
Pada akhirnya, keputusan memilih BBM sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kesesuaian dengan spesifikasi kendaraan. Penggunaan bahan bakar yang tepat dapat membantu menjaga performa, efisiensi, dan umur mesin dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Justin Hubner mencetak gol saat Fortuna Sittard menghadapi FC Metz, di tengah kepastian dirinya absen membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026.
Imigrasi Manado menunda 24 keberangkatan PMI terindikasi TPPO hingga Juli 2026 sebagai upaya mencegah pekerja migran nonprosedural.
Rusia mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas produksi drone Ukraina, sementara Iran memprotes serangan Ukraina di Laut Kaspia.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.