In This Ekonomi, Ini Cara Efektif Mengelola Keuangan di Tengah Inflasi
Biaya hidup yang terus meningkat menuntut pengelolaan keuangan yang lebih disiplin. Simak delapan langkah praktis agar kondisi finansial tetap aman hingga akhir
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pelecehan digital kini menjadi ancaman yang dampaknya jauh melampaui ruang maya. Tidak hanya memengaruhi aktivitas seseorang saat berselancar di internet, tindakan tersebut juga terbukti berdampak terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, hingga kondisi ekonomi para korbannya.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan terbaru perusahaan keamanan siber Kaspersky yang melibatkan 7.600 responden dari 19 negara. Studi itu menunjukkan bahwa mayoritas korban pelecehan digital di kawasan Asia Pasifik mengalami konsekuensi serius yang berlanjut ke kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 80 persen responden mengaku mengalami tekanan psikologis berupa depresi, trauma, kecemasan, hingga stres berkepanjangan setelah menjadi target pelecehan di dunia digital. Dampak tersebut menjadikan pelecehan online bukan lagi sekadar persoalan komentar negatif atau intimidasi di media sosial, melainkan masalah kesehatan mental yang nyata.
Selain gangguan psikologis, korban juga menghadapi tekanan sosial. Sebanyak 73 persen responden melaporkan mengalami kerusakan reputasi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau mengalami kesulitan dalam menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.
Laporan tersebut juga menemukan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap dampak yang lebih luas dari pelecehan digital. Hanya 59 persen korban yang menyadari adanya potensi kerugian ekonomi akibat insiden tersebut. Sementara itu, hanya 53 persen yang memahami bahwa pelecehan di ruang digital dapat berkembang menjadi ancaman atau kekerasan fisik di dunia nyata.
Dampak yang muncul tidak hanya bersifat emosional. Sebagian korban mengubah pola interaksi mereka setelah mengalami pelecehan. Sebanyak 55 persen responden mengaku menjadi jauh lebih waspada saat menggunakan internet.
Perubahan perilaku lainnya juga cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 18 persen korban membatasi komunikasi dengan keluarga atau teman dekat. Bahkan 12 persen mengaku harus mengakhiri hubungan personal akibat tekanan yang mereka alami.
Dalam kasus yang lebih serius, pelecehan digital juga berdampak terhadap pendidikan dan pekerjaan. Studi tersebut mencatat empat persen korban kehilangan pekerjaan, sementara tiga persen lainnya terpaksa menghentikan pendidikan mereka.
Meski dampaknya begitu besar, tidak semua korban memilih untuk mencari bantuan atau melaporkan kejadian yang dialami. Sekitar 13 persen korban mengaku tidak mengambil tindakan apa pun setelah mengalami pelecehan digital.
Fenomena serupa juga terlihat pada para saksi. Sebanyak sembilan persen responden yang menyaksikan pelecehan digital memilih tidak terlibat atau membantu korban.
Alasan utama di balik sikap diam tersebut adalah kurangnya pengetahuan mengenai langkah yang harus dilakukan. Sebanyak 32 persen responden mengaku tidak mengetahui cara memberikan bantuan yang tepat, sementara 23 persen lainnya ragu apakah keterlibatan mereka akan diterima secara sosial.
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky, Tatyana Shishkova, mengatakan banyak korban tidak mengambil langkah karena tidak mengetahui saluran bantuan yang tersedia.
Sementara itu, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai keamanan digital harus menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya saling mendukung agar korban tidak merasa menghadapi masalah tersebut sendirian.
Sebagai langkah pencegahan, Kaspersky menyarankan masyarakat untuk lebih waspada terhadap aktivitas mencurigakan di ruang digital, menyimpan bukti setiap insiden yang terjadi, serta memperkuat keamanan akun melalui penggunaan kata sandi yang kuat dan autentikasi dua faktor.
Lebih dari itu, masyarakat juga didorong untuk aktif memberikan dukungan kepada korban, baik dengan mendengarkan, membantu mendokumentasikan kejadian, maupun mengarahkan mereka ke lembaga atau layanan yang dapat memberikan bantuan profesional.
Di tengah semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap teknologi digital, perlindungan terhadap keamanan pribadi tidak lagi hanya soal menjaga data dan akun. Melindungi kesehatan mental, reputasi, dan rasa aman pengguna internet kini menjadi bagian penting dari keamanan digital yang tidak boleh diabaikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Biaya hidup yang terus meningkat menuntut pengelolaan keuangan yang lebih disiplin. Simak delapan langkah praktis agar kondisi finansial tetap aman hingga akhir
Pengaspalan Jalan Janti-Prambanan berlangsung Senin 3 Agustus 2026 pukul 08.00-12.00 WIB. Pengendara diminta waspadai penyempitan jalur.
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Pemkot Jogja akan menurunkan alat berat untuk membersihkan dan menata kawasan Sungai Code sisi selatan di Sorosutan dalam dua pekan mendatang.
Sekaten Solo 2026 resmi dimulai. Simak jadwal Miyos Gangsa, Grebeg Maulud, hingga pasar malam di Alun-Alun Keraton Solo.
Jadwal KRL Solo-Jogja Senin 3 Agustus 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak jam keberangkatan dan tarif terbaru Rp8.000.