Ini Beda B50 dengan B40 dan Dampaknya ke Kendaraan Diesel

Jumali
Jumali Jum'at, 19 Juni 2026 17:17 WIB
Ini Beda B50 dengan B40 dan Dampaknya ke Kendaraan Diesel

Toyota Hilux. - TAM

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah memastikan program Biodiesel B50 akan mulai diterapkan pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi langkah lanjutan dalam pengembangan energi berbasis sawit setelah sebelumnya Indonesia menjalankan program B35 dan B40.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah optimistis implementasi B50 dapat berjalan sesuai jadwal. Selain memperkuat ketahanan energi nasional, program ini juga ditargetkan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.

“Insya Allah kami sangat optimistis untuk implementasi launching daripada B50 itu akan dilakukan nanti pada 1 Juli 2026,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Pemerintah menetapkan harga B50 sebesar Rp6.800 per liter melalui skema dukungan dan subsidi yang telah disiapkan. Kehadiran bahan bakar baru ini diproyeksikan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong transisi energi sekaligus memperbesar pemanfaatan minyak sawit dalam negeri.

Apa Itu Biodiesel B50?

Disarikan dari berbagai sumber, B50 merupakan bahan bakar diesel yang tersusun dari campuran 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit dan 50% solar konvensional. Angka “50” menunjukkan persentase kandungan biodiesel dalam campuran tersebut.

Perjalanan program biodiesel Indonesia berkembang secara bertahap:

JenisBiodiesel (FAME)Solar
B3535%65%
B4040%60%
B5050%50%

Dengan komposisi baru tersebut, kandungan energi terbarukan pada B50 menjadi lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Pemerintah menyebut hasil pengujian menunjukkan kualitas B50 lebih baik dibandingkan B40, termasuk dari sisi kadar air yang lebih rendah.

Mengapa Pemerintah Mendorong B50?

Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai melalui implementasi B50.

1. Mengurangi Ketergantungan Impor Solar

Kementerian ESDM memperkirakan penggunaan B50 dapat mengurangi kebutuhan solar berbasis fosil hingga jutaan kiloliter per tahun. Program ini juga diproyeksikan menghemat devisa negara mencapai Rp157,28 triliun sepanjang 2026.

Pemerintah bahkan menargetkan impor solar tertentu dapat ditekan secara signifikan seiring meningkatnya penggunaan biodiesel domestik.

2. Mendukung Target Lingkungan

B50 diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 pada 2026. Karena berasal dari bahan baku nabati, biodiesel dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil murni.

3. Mendorong Industri Sawit Nasional

Peningkatan penggunaan biodiesel diperkirakan menciptakan nilai tambah industri minyak sawit mentah (CPO) hingga Rp24,68 triliun dan menyerap sekitar 2,21 juta tenaga kerja.

Keunggulan B50 yang Perlu Diketahui

Sejumlah manfaat yang ditawarkan B50 antara lain:

  • Mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.
  • Memiliki sifat pelumas yang membantu melindungi komponen mesin diesel.
  • Kandungan sulfur lebih rendah dibandingkan solar konvensional.
  • Bilangan cetane lebih tinggi sehingga pembakaran lebih efisien.
  • Meningkatkan penyerapan produksi sawit dalam negeri.

Risiko dan Tantangan Penggunaan B50

Di balik berbagai manfaatnya, B50 juga memiliki sejumlah tantangan teknis yang perlu diperhatikan pengguna kendaraan diesel.

Pertama, biodiesel memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air. Kondisi ini berpotensi memicu pertumbuhan mikroorganisme di tangki bahan bakar jika penyimpanan tidak dilakukan dengan baik.

Kedua, kandungan senyawa organik yang lebih tinggi dapat membuat filter bahan bakar lebih cepat kotor dibandingkan penggunaan solar biasa.

Ketiga, nilai kalor biodiesel lebih rendah daripada solar murni. Beberapa hasil pengujian menunjukkan konsumsi bahan bakar dapat meningkat sekitar 3,12% dibandingkan penggunaan B40.

Selain itu, pengguna juga perlu mewaspadai potensi peningkatan biaya perawatan akibat risiko korosi pada komponen tertentu serta kemungkinan kontaminasi pelumas.

Kendaraan yang Bisa Menggunakan B50

Berdasarkan hasil pengujian pemerintah, B50 dapat digunakan pada berbagai kendaraan dan mesin diesel, baik generasi lama maupun terbaru.

Beberapa di antaranya:

  • Truk logistik dan bus angkutan
  • Mitsubishi Fuso
  • Hino Ranger
  • Isuzu Elf
  • Toyota Fortuner
  • Toyota Hilux
  • Mitsubishi Pajero Sport
  • Isuzu MU-X
  • Toyota Innova Zenix Diesel
  • Alat berat pertambangan
  • Mesin pertanian
  • Genset diesel
  • Lokomotif dan kapal berbasis mesin diesel

Meski demikian, pemerintah masih melakukan evaluasi lanjutan pada sektor tertentu seperti perkeretaapian dan pembangkit listrik yang memiliki karakteristik operasional khusus.

Tips bagi Pengguna Kendaraan Diesel

Menjelang implementasi B50, pengguna kendaraan diesel disarankan melakukan beberapa langkah antisipasi, antara lain memeriksa filter bahan bakar secara berkala, menjaga tangki tetap bersih dan kering, serta meningkatkan frekuensi servis pada sistem injeksi.

Pengguna juga perlu memantau perubahan performa kendaraan dan konsumsi bahan bakar setelah beralih ke B50 agar dapat mendeteksi potensi masalah lebih awal.

Dengan berbagai manfaat ekonomi, lingkungan, dan ketahanan energi yang ditawarkan, B50 menjadi salah satu program strategis pemerintah pada 2026. Namun, pemilik kendaraan diesel tetap perlu memahami karakteristik bahan bakar ini agar dapat memperoleh manfaat optimal tanpa mengabaikan aspek perawatan kendaraan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online