Smartwatch Ternyata Bisa Bantu Ungkap Penyebab Kematian Seseorang

Sunartono
Sunartono Rabu, 01 Juli 2026 17:12 WIB
Smartwatch Ternyata Bisa Bantu Ungkap Penyebab Kematian Seseorang

Gambar proses akuisisi data dalam smartwatch untuk mengungkap kronologi forensik penggunanya. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Pemanfaatan smartwatch sebagai bukti digital dalam investigasi kriminal menjadi temuan penting dari penelitian Universitas Islam Indonesia (UII). Melalui pendekatan digital forensik, perangkat yang selama ini identik dengan pemantauan kesehatan ternyata mampu menyajikan rekam data yang membantu penyidik menyusun kronologi kejadian hingga mengungkap dugaan penyebab kematian seseorang.

Penelitian tersebut dilakukan alumnus Program Magister Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Rohsan Nur Marjianto. Hasil riset itu memperoleh pengakuan internasional setelah dipresentasikan dalam International Conference on Digital Applications and Technology (ICDAT) 2025 dan diterbitkan oleh IEEE.

Rohsan mengungkapkan, meningkatnya penggunaan smartwatch di berbagai negara membuka peluang baru dalam dunia digital forensik. Berdasarkan proyeksinya, jumlah pengguna perangkat tersebut diperkirakan mencapai 740,53 juta orang pada 2029. Angka itu menunjukkan semakin besarnya potensi smartwatch sebagai sumber barang bukti digital karena mampu merekam lokasi GPS, aktivitas harian, hingga berbagai parameter fisiologis pemakainya.

Meski menyimpan data yang bernilai tinggi bagi proses penyelidikan, pengambilan informasi dari smartwatch bukan pekerjaan sederhana. Saat melakukan penelitian menggunakan Samsung Galaxy Watch 5 berbasis Wear OS Android, Rohsan harus melewati sejumlah kendala teknis sebelum menemukan metode yang dinilai aman bagi integritas barang bukti.

"Awalnya kami mencoba metode Logical Acquisition menggunakan Android Debug Bridge [ADB], namun terbentur hak akses pengguna [permission denied]. Kami juga mencoba Physical Acquisition dengan membongkar casing untuk mencari service port pada PCB-nya. Namun, metode-metode konvensional ini membutuhkan penyuntikan firmware khusus yang justru berisiko merusak integritas barang bukti asli," ujar Rohsan, Rabu (1/7/2026).

Setelah mengevaluasi berbagai pendekatan, Rohsan kemudian memanfaatkan metode Data Collection melalui fitur bawaan yang tersedia dalam ekosistem aplikasi smartwatch. Cara tersebut memungkinkan proses ekstraksi data dilakukan tanpa mengubah isi asli perangkat sehingga keaslian barang bukti tetap terjaga selama proses investigasi digital berlangsung.

Melalui metode tersebut, ia berhasil memperoleh berkas cadangan berukuran 30,8 MB. Setelah diekstraksi, ukuran data meningkat menjadi 187 MB yang berisi 25 file berformat CSV dan 15.204 file JSON. Ribuan berkas tersebut menyimpan data mentah mengenai aktivitas harian pengguna, catatan kesehatan, hingga berbagai artefak digital yang dapat dianalisis lebih lanjut dalam proses penyidikan.

Simulasi Investigasi Berbasis Smartwatch

Untuk menguji efektivitas metode yang dikembangkan, Rohsan membuat simulasi investigasi terhadap seorang pria berusia 26 tahun yang ditemukan tidak sadarkan diri di Taiwan pada 4 Juni 2025. Dalam skenario tersebut, smartwatch masih terpasang di pergelangan tangan korban sehingga seluruh data aktivitasnya masih dapat diakses.

Pada aspek What atau apa yang terjadi, rekaman data detak jantung (heart rate) menunjukkan adanya lonjakan denyut jantung dari sekitar 110 BPM menjadi 180 BPM dalam waktu kurang dari satu menit pada pukul 16.24. Sekitar dua menit kemudian, tepatnya pukul 16.26, grafik detak jantung turun hingga 0 BPM sehingga mengindikasikan korban mengalami serangan jantung mendadak yang berakibat fatal.

Data yang tersimpan juga menjawab aspek Who. Berdasarkan profil kesehatan pengguna, smartwatch merekam identitas biologis korban sebagai laki-laki berusia 26 tahun dengan tinggi badan 128 sentimeter dan berat badan 55 kilogram.

Lokasi hingga Waktu Kejadian Terekam Otomatis

Selain identitas pengguna, data yang berhasil diekstraksi juga mampu mengungkap lokasi kejadian. Pada aspek Where, informasi koordinat GPS yang tersimpan dalam aktivitas S-Health Exercise menunjukkan titik lintang dan bujur secara presisi. Setelah dicocokkan dengan Google Maps, koordinat tersebut mengarah ke sebuah jalan umum dengan tingkat akurasi sekitar enam meter pada ketinggian 186 meter di atas permukaan laut.

Aspek When pun dapat disusun melalui data timestamp atau penanda waktu yang tersimpan dalam sistem perangkat. Berdasarkan hasil konversi data tersebut, aktivitas terakhir korban tercatat berlangsung sekitar pukul 16.24 waktu setempat. Waktu itu selaras dengan keterangan saksi yang menemukan korban sekitar pukul 16.30 sehingga memperkuat penyusunan kronologi kejadian.

Sementara itu, aspek Why dan How diperoleh dari rekaman aktivitas fisik yang dilakukan korban sepanjang hari. Data harian memperlihatkan korban menjalani lima sesi olahraga jalan kaki dengan total durasi mencapai 109 menit dan jarak tempuh sekitar 7,72 kilometer.

"Aktivitas fisik yang cukup berat tersebut diduga memicu kelelahan ekstrem hingga berujung pada gagal jantung, sebagaimana ditunjukkan oleh perubahan data detak jantung yang terekam secara otomatis oleh smartwatch," katanya.

Dapat Mendukung Penyidikan dan Pemeriksaan Forensik

Dosen pembimbing penelitian sekaligus pakar digital forensik UII Ahmad Lutfi, mengatakan hasil riset tersebut menunjukkan bahwa smartwatch memiliki nilai strategis sebagai pendukung proses investigasi kriminal. Menurutnya, data yang dihasilkan perangkat ini dapat melengkapi hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik maupun tim kedokteran forensik.

"Jika selama ini kedokteran mengetahui penyebab kematian secara biologis lewat otopsi atau visum post-mortem, maka digital forensik dari smartwatch ini hadir memberikan kontribusi dari aspek teknologi. Ini menjadi data pembanding sekaligus pendukung yang sangat kuat," katanya.

Lutfi menjelaskan, keunggulan utama smartwatch dibandingkan smartphone terletak pada kemampuannya merekam data fisiologis secara real-time. Karena dikenakan langsung di tubuh pengguna, perangkat tersebut dapat mencatat perubahan kondisi fisik, seperti detak jantung, secara terus-menerus. Sebaliknya, data pada smartphone umumnya direkam secara berkala dan tidak selalu menggambarkan kondisi pengguna saat kejadian berlangsung.

Menurutnya, keberadaan data digital dari smartwatch juga dapat dimanfaatkan penyidik untuk menguji kesesuaian antara kronologi yang terekam perangkat dengan keterangan saksi maupun alibi pihak-pihak yang berkaitan dengan suatu perkara. Proses verifikasi tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan investigasi berbasis bukti ilmiah dalam penegakan hukum.

"Data ini bisa digunakan oleh penyidik untuk memverifikasi alibi. Misalnya, apakah klaim waktu dari kesaksian para saksi atau pelaku di lapangan itu sesuai atau justru bertentangan dengan rekaman linimasa digital yang dicatat oleh smartwatch korban. Ini adalah langkah maju bagi dunia penegakan hukum berbasis ilmiah [scientific crime investigation] di Indonesia," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online