Indonesia Kejar Posisi Global AI, Compute Cluster Jadi Kunci

Newswire
Newswire Selasa, 07 Juli 2026 12:37 WIB
Indonesia Kejar Posisi Global AI, Compute Cluster Jadi Kunci

Wamenkomdigi Nezar Patria menyampaikan sambutan dalam acara Pertemuan dan Kolaborasi Menyatukan Inovasi, Mengakselerasi Perkembangan Ekosistem AI Nasional di Media Center, Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital)

Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah mulai menyiapkan langkah besar untuk mendorong Indonesia menjadi pemain utama dalam industri kecerdasan artifisial (AI) global. Salah satu strategi kunci yang disorot adalah pembangunan compute cluster nasional sebagai fondasi utama penguatan ekosistem AI.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus naik kelas sebagai produsen dan inovator di bidang AI.

“Setidaknya ada dua strategi utama, yaitu memperkuat infrastruktur AI, termasuk pembangunan compute cluster, serta meningkatkan kualitas talenta digital agar mampu bersaing di tingkat global,” ujar Nezar, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, kebutuhan terhadap compute cluster semakin mendesak seiring perkembangan AI modern yang sangat bergantung pada kapasitas komputasi berskala besar. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung dalam pengembangan model AI, riset teknologi, hingga inovasi berbasis data yang kompetitif.

Tanpa dukungan kapasitas komputasi yang memadai, Indonesia berisiko tertinggal dan hanya menjadi pasar bagi teknologi asing. Karena itu, pembangunan infrastruktur digital harus berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem nasional.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pengguna. Kita harus menjadi pemain penting yang ikut menentukan arah perkembangan AI, baik di dalam negeri maupun global,” tegasnya.

Nezar menambahkan, keberhasilan pengembangan AI tidak hanya bergantung pada investasi besar, tetapi juga kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, industri, akademisi, BUMN, komunitas, hingga para inovator harus terhubung dalam satu ekosistem yang solid.

Penguatan AI sendiri telah masuk dalam agenda besar Visi Indonesia Digital 2045. Pemerintah menargetkan pengembangan teknologi ini mampu mendorong tiga hal utama, yaitu inklusivitas teknologi, penguatan ekosistem nasional, dan kedaulatan digital.

Data terbaru menunjukkan, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan terus tumbuh signifikan dan berpotensi menembus lebih dari US$130 miliar dalam beberapa tahun ke depan. AI dipandang sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut, terutama di sektor industri, kesehatan, pendidikan, hingga layanan publik.

Indonesia juga dinilai memiliki modal kuat untuk bersaing, mulai dari ketersediaan mineral kritis seperti nikel yang dibutuhkan untuk perangkat komputasi, sumber energi untuk mendukung pusat data, hingga bonus demografi yang menghasilkan talenta digital dalam jumlah besar.

Namun demikian, Nezar mengingatkan bahwa perkembangan AI kini tidak hanya menjadi isu teknologi, melainkan juga bagian dari persaingan geopolitik global. Negara-negara besar berlomba menguasai infrastruktur dan standar teknologi AI untuk memperkuat pengaruhnya.

Dalam konteks tersebut, Indonesia perlu membangun kemandirian teknologi agar tidak bergantung pada pihak luar sekaligus mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang terbuka lebar.

“Yang terpenting adalah membangun kolaborasi yang kuat dan sinergis. Dengan begitu, kita bisa menciptakan ekosistem AI yang inklusif, berdaya saing, dan berdaulat,” kata Nezar.

Langkah ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen inovasi dalam peta industri AI dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online