Banjir Thailand Hentikan 4 Pabrik Toyota, Rantai Pasok Kembali Tertekan

Jumali
Jumali Kamis, 01 Oktober 2026 09:47 WIB
Banjir Thailand Hentikan 4 Pabrik Toyota, Rantai Pasok Kembali Tertekan

penampakan Toyota Land Cruiser FJ saat diuji di kawasan pantai wilayah DIY / Istimewa-TAM

Harianjogja.com, JOGJA— Banjir yang melanda Thailand mulai mengganggu aktivitas industri otomotif. Toyota untuk sementara menghentikan operasi empat pabrik di negara tersebut setelah pengiriman komponen dari pemasok terganggu akibat banjir.

Reuters mengungkapkan, penghentian produksi itu mencakup tiga fasilitas milik unit Toyota di Thailand serta satu fasilitas perusahaan patungan Toyota Auto Works. Toyota menyatakan sedang berkoordinasi dengan pemasok untuk memulihkan pengiriman komponen dan mengupayakan agar operasional pabrik dapat kembali berjalan secepat mungkin.

Perusahaan belum memberikan kepastian kapan empat fasilitas tersebut akan kembali berproduksi. Kondisi ini membuat gangguan banjir tidak hanya menjadi persoalan di tingkat pabrik, tetapi juga menunjukkan bagaimana terhambatnya distribusi komponen dapat memengaruhi kegiatan manufaktur.

Banjir Bangkok Ganggu Aktivitas Ekonomi

Gangguan pada pabrik Toyota terjadi ketika Thailand masih berusaha menangani banjir yang meluas. Bangkok menerima curah hujan sekitar 320 milimeter dalam tiga hari pada akhir pekan lalu, jumlah yang hampir setara dengan curah hujan yang biasanya diterima ibu kota Thailand tersebut sepanjang September.

Pemerintah kemudian menetapkan Bangkok sebagai wilayah terdampak bencana. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengatakan Bangkok, kawasan metropolitan di sekitarnya, serta wilayah tengah Thailand masih menghadapi risiko masuknya air dari wilayah utara. Pemerintah juga membentuk pusat komando untuk memantau perkembangan kondisi banjir.

Data korban juga mengalami pembaruan. Pada Selasa (29/9), Reuters melaporkan sedikitnya 23 orang meninggal akibat hujan dan banjir sejak 16 September. Sehari kemudian, juru bicara pemerintah Ekkapob Pianpises menyebut jumlah korban tewas telah mencapai 40 orang dengan merujuk data Kementerian Kesehatan Thailand.

Banjir turut menghambat kegiatan masyarakat dan transportasi. Di Bandara Suvarnabhumi pada Selasa (29/9), sekitar separuh pekerja Thai Airways tidak dapat masuk kerja sehingga ribuan bagasi menumpuk dan sejumlah penerbangan mengalami pembatalan.

Dampaknya juga mulai terlihat pada sejumlah sektor ekonomi. Asisten Gubernur Bank of Thailand Chayawadee Chai-anant mengatakan banjir telah memengaruhi sektor jasa, ritel, grosir, dan konstruksi. Namun, menurutnya, dampak terhadap sektor manufaktur secara luas belum terlihat, meski Toyota telah menghentikan sementara empat pabriknya karena gangguan pengiriman komponen.

Toyota Tunggu Pasokan Komponen Pulih

Bagi industri otomotif, ketersediaan komponen menjadi faktor penting untuk menjaga lini produksi tetap berjalan. Dalam kasus Toyota, persoalan yang terjadi bukan disebut karena empat pabrik tersebut mengalami kerusakan langsung, melainkan karena banjir mengganggu pengiriman komponen dari pemasok.

Toyota kini bekerja bersama para pemasok untuk memulihkan aliran komponen. Perusahaan belum menyampaikan jadwal pasti dimulainya kembali produksi sehingga perkembangan kondisi banjir dan distribusi menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam beberapa hari mendatang.

Gangguan tersebut juga terjadi ketika Thailand bersiap menghadapi potensi hujan deras berikutnya. Badan cuaca Thailand memperkirakan hujan lebat pada 5-8 Oktober, dengan peningkatan curah hujan diperkirakan terjadi di wilayah utara dan timur laut.

Pemerintah Thailand masih berupaya mengurangi genangan di Bangkok. Ekkapob mengatakan otoritas mengalirkan air banjir ke kanal dan menargetkan kondisi di wilayah terdampak dapat kembali normal dalam dua atau tiga hari.

Namun, risiko belum sepenuhnya hilang karena pemerintah masih mengantisipasi aliran air dari wilayah utara serta hujan tambahan pada pekan berikutnya. Situasi tersebut menjadi perhatian bagi kegiatan industri dan distribusi barang di wilayah yang terdampak.

Banjir Thailand Pernah Ganggu Produksi Toyota pada 2011

Gangguan produksi Toyota akibat banjir Thailand bukan kejadian yang sepenuhnya baru. Pada 2011, banjir besar di negara tersebut juga membuat Toyota Motor Thailand menghentikan operasi tiga pabriknya setelah pemasok mengalami keterlambatan pengiriman komponen.

Dalam pengumuman resmi pada 14 Oktober 2011, Toyota menyebut tiga fasilitas produksi di Samrong, Gateway, dan Ban Pho tidak mengalami dampak langsung dari banjir. Namun, sejumlah pemasok menghadapi keterlambatan pengiriman komponen sehingga Toyota menghentikan produksi di ketiga fasilitas tersebut.

Penghentian itu kemudian berlangsung lebih lama. Toyota pada 10 November 2011 menyatakan produksi di Thailand, yang terhenti sejak 10 Oktober, direncanakan kembali pada 21 November. Pada saat yang sama, gangguan pasokan dari Thailand telah memengaruhi penyesuaian produksi di sejumlah negara lain.

Dalam rilis yang sama, Toyota menyebut pabrik kendaraan di Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Afrika Selatan menyesuaikan jam produksi untuk pekan yang dimulai 14 November 2011. Artinya, gangguan pada rantai pasok di Thailand ketika itu turut merambat ke fasilitas produksi Toyota di negara lain.

Toyota kemudian menyatakan pada 18 November 2011 bahwa operasi tiga pabrik di Thailand akan kembali dimulai pada 21 November. Pada periode yang sama, fasilitas produksi di Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Afrika Selatan masih melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi pasokan komponen.

Untuk gangguan banjir Thailand pada September 2026, Reuters dalam laporan 30 September belum menyebut adanya penyesuaian produksi Toyota di luar Thailand. Perusahaan masih berfokus memulihkan pengiriman komponen dan mengembalikan operasi empat fasilitas yang terdampak.

Prakiraan hujan lebat pada 5-8 Oktober menjadi perkembangan berikutnya yang perlu diperhatikan karena Bangkok dan sejumlah wilayah Thailand masih menghadapi risiko banjir.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online