3 Chipset Smartphone yang Bersaing pada 2026, Apa Dampaknya bagi Pengguna?
Persaingan chipset smartphone 2026 melibatkan Snapdragon, Dimensity, dan Exynos. Simak dampaknya pada AI, gaming, dan baterai.
Pabrik mobil - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Produksi kendaraan China mencapai 34,53 juta unit sepanjang 2025, sedangkan Indonesia berada di peringkat ke-15 dunia dengan output sekitar 1,15 juta unit. Jarak produksi kedua negara itu menunjukkan besarnya skala manufaktur otomotif China sekaligus tantangan yang dihadapi industri kendaraan di Indonesia di tengah persaingan global.
Berdasarkan data International Organization of Motor Vehicle Manufacturers (OICA), produksi kendaraan dunia meningkat dari 92,72 juta unit pada 2024 menjadi 96,38 juta unit pada 2025. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 3,9%, tetapi pertumbuhan produksi tidak tersebar merata di semua negara.
China menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut. Produksi kendaraan di negara itu bertambah sekitar 3,25 juta unit dalam setahun, sementara produksi Indonesia justru turun 4,1% dibandingkan 2024.
China mempertahankan posisi sebagai negara dengan produksi kendaraan terbesar di dunia. Dengan output 34,53 juta unit, produksinya lebih dari tiga kali lipat Amerika Serikat yang berada di posisi kedua dengan 10,24 juta kendaraan.
Produksi China juga meningkat 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Tambahan sekitar 3,25 juta unit dalam satu tahun itu bahkan melampaui keseluruhan produksi Brasil pada 2025 yang mencapai sekitar 2,64 juta kendaraan.
Jepang menempati posisi ketiga dengan produksi 8,41 juta unit, disusul India sebanyak 6,49 juta kendaraan. Berikutnya, Jerman menghasilkan sekitar 4,15 juta unit, Korea Selatan 4,10 juta unit, dan Meksiko 4,09 juta unit.
Angka tersebut menggambarkan konsentrasi manufaktur kendaraan di sejumlah negara Asia. Selain China, India dan Jepang juga menjadi pusat produksi penting, meskipun skala output China masih jauh lebih besar.
Untuk memahami perbandingan tersebut, angka produksi perlu dibaca sebagai jumlah kendaraan yang dibuat di suatu negara, bukan jumlah kendaraan yang dibeli masyarakatnya. Produksi, penjualan domestik, dan ekspor merupakan indikator berbeda yang masing-masing menggambarkan sisi tersendiri dari industri otomotif.
Indonesia menghasilkan 1.147.600 kendaraan pada 2025 dan menempati peringkat ke-15 dunia. Angka ini turun 4,1% dibandingkan produksi sekitar 1,20 juta unit pada 2024.
Dibandingkan China, volume produksi Indonesia masih sekitar tiga puluh kali lebih kecil. Perbedaan skala tersebut penting dalam melihat persaingan manufaktur, terutama ketika produsen besar memiliki kapasitas untuk memasok pasar domestik sekaligus mengirim kendaraan ke berbagai negara.
Posisi Indonesia juga perlu dibaca bersama perkembangan pasar otomotif regional. Produsen tidak hanya bersaing untuk menjual kendaraan kepada konsumen, tetapi juga dalam hal kapasitas pabrik, efisiensi produksi, ketersediaan komponen, dan akses ke pasar ekspor.
India, yang berada di posisi keempat dunia, menunjukkan bagaimana pasar domestik dapat menjadi salah satu penopang industri. Pada 2025, penjualan kendaraan penumpang di India mencapai sekitar 4,49 juta unit, sedangkan ekspornya berada di kisaran 860.000 unit. Kedua angka itu merujuk pada kendaraan penumpang, sehingga tidak bisa disamakan langsung dengan total produksi kendaraan India yang mencapai 6,49 juta unit.
Besarnya kapasitas manufaktur menjadi salah satu keunggulan produsen China, termasuk dalam kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Pabrik berkapasitas besar dapat menyebarkan biaya fasilitas dan proses produksi ke lebih banyak unit, sedangkan jaringan pemasok baterai yang berkembang membantu menjaga efisiensi rantai produksi.
Biaya tenaga kerja, dukungan kebijakan, dan ekosistem industri baterai turut menopang daya saing tersebut. Di segmen kendaraan listrik, baterai lithium iron phosphate (LFP) yang relatif ekonomis juga menjadi salah satu pilihan teknologi yang digunakan produsen untuk menekan biaya.
Dampaknya terlihat pada perdagangan kendaraan listrik internasional. International Energy Agency (IEA) mencatat ekspor mobil listrik China meningkat dua kali lipat pada 2025 hingga melampaui 2,5 juta unit. Produksi mobil listrik China pada tahun yang sama mencapai sekitar 16 juta unit, dengan output yang melampaui permintaan domestik.
Perubahan lain terlihat dari asal merek kendaraan yang diekspor. Pada 2025, sekitar empat dari lima mobil listrik buatan China yang dijual ke luar negeri diproduksi oleh pabrikan asal China. Pada 2021, proporsinya masih kurang dari dua dari lima unit.
Bagi konsumen Indonesia, penguatan produsen China menjadi perkembangan yang perlu dicermati karena persaingan kendaraan listrik juga berkaitan dengan harga, pilihan model, dan teknologi yang ditawarkan. Bagi industri nasional, kapasitas produksi dan kemampuan membangun rantai pasok menjadi bagian penting dalam menghadapi kompetisi tersebut.
Berbeda dengan pertumbuhan produksi global, tiga negara utama Amerika Utara mencatat penurunan output pada 2025. Produksi Amerika Serikat dan Meksiko masing-masing turun 2,6%, sementara Kanada mengalami penurunan lebih dalam sebesar 7,6%.
Jika digabungkan, produksi ketiga negara itu berkurang sekitar 491.000 kendaraan dibandingkan 2024 atau turun sekitar 3,1%. Penurunan tersebut terjadi ketika produksi kendaraan dunia secara keseluruhan justru meningkat.
Salah satu karakter penting industri otomotif Amerika Utara adalah rantai pasok lintas negara yang terintegrasi. Komponen dapat berpindah melewati perbatasan beberapa kali sebelum kendaraan selesai dirakit, sehingga perubahan aktivitas produksi di satu negara bisa berdampak pada pemasok di negara lain.
Penurunan permintaan komponen dari pabrik perakitan, misalnya, dapat merambat ke perusahaan pemasok yang memasok fasilitas di negara tetangga. Kondisi tersebut membuat kinerja industri otomotif di kawasan itu tidak hanya bergantung pada penjualan kendaraan, tetapi juga kelancaran produksi lintas batas.
Pada 2025, tarif tambahan dan persyaratan pelaporan juga menambah beban biaya serta administrasi bagi rantai produksi lintas negara. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa persaingan industri otomotif global tidak hanya ditentukan kapasitas pabrik dan teknologi kendaraan, tetapi juga kondisi perdagangan internasional.
Di tengah perubahan tersebut, produksi kendaraan China tetap menjadi tolok ukur utama dalam persaingan manufaktur global. Ekspor mobil listriknya yang melampaui 2,5 juta unit pada 2025, dengan sekitar empat dari lima unit buatan produsen asal China, menunjukkan besarnya peran pabrikan negara itu dalam perdagangan kendaraan listrik internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Persaingan chipset smartphone 2026 melibatkan Snapdragon, Dimensity, dan Exynos. Simak dampaknya pada AI, gaming, dan baterai.
Manchester City menghadapi Liverpool pada 11 Oktober saat banding kasus finansial masih berjalan. Liverpool berpeluang memangkas jarak enam poin.
Polda Metro Jaya akan menggelar perkara setelah memeriksa Betrand Peto selama sekitar delapan jam terkait laporan dugaan kekerasan seksual.
John Herdman antusias menghadapi Jepang, Qatar, dan Thailand di Grup F Piala Asia 2027. Simak jadwal dan kesiapan Timnas Indonesia.
Mario Aji finis ke-16 pada FP1 Moto2 Mandalika 2026. Izan Guevara menjadi yang tercepat setelah persaingan ketat di menit akhir.
Enam pebalap binaan Astra Honda siap berlaga di IM4AC 2026 seri Mandalika pada 9–11 Oktober. Mereka membidik podium di hadapan publik Indonesia.