Meutya Hafid Ajak Orang Tua Dampingi Anak Bangun Kebiasaan Digital Sehat

Newswire
Newswire Sabtu, 10 Oktober 2026 14:57 WIB
Meutya Hafid Ajak Orang Tua Dampingi Anak Bangun Kebiasaan Digital Sehat

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. /Instagram-Meutya Hafid.

Harianjogja.com, JOGJA—Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak orang tua dan tenaga pendidik mendampingi anak membangun kebiasaan digital yang sehat. Anak juga perlu didorong menyeimbangkan aktivitas di ruang digital dengan kegiatan fisik dan interaksi langsung di luar ruangan.

Meutya mengatakan kegiatan seperti berolahraga, bersepeda, membangun pertemanan, dan mengembangkan bakat dapat menjadi pilihan bagi anak untuk mengisi waktu di luar aktivitas digital.

"Sekali lagi saya mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan perlu berjalan bersama upaya menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung," katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya saat berdialog dengan para siswa dalam sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS di Tabanan, Bali, Jumat (9/10/2026). Keterangan mengenai kegiatan itu disampaikan dalam siaran pers pemerintah yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dalam kegiatan tersebut, Meutya berbincang dengan siswa dari sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Tabanan. Ia juga berinteraksi dengan anggota komunitas pesepeda untuk menunjukkan manfaat aktivitas fisik yang dilakukan bersama komunitas.

Anak Perlu Memahami Risiko Ruang Digital

Meutya menjelaskan ruang digital menyediakan kesempatan bagi anak untuk belajar, tetapi juga memiliki risiko. Karena itu, penggunaan platform digital perlu disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak.

Pemerintah menerbitkan PP TUNAS untuk melindungi anak dari risiko penggunaan platform digital yang tidak sesuai dengan usia dan tingkat kematangan mereka. Salah satu ketentuannya mencakup pembatasan akses anak berusia di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi.

Meutya mengibaratkan pembatasan tersebut seperti aturan bagi anak yang belum siap menggunakan kendaraan di jalan raya. Menurut dia, akses ke layanan digital tertentu juga perlu menunggu hingga anak dinilai siap menghadapi risikonya.

"Bukannya dilarang seumur hidup naik mobil, tapi tunggu mereka siap. Karena jalanan itu berbahaya untuk anak kecil. Demikian juga sosial media, game online yang kita anggap risikonya tinggi," kata Meutya.

Selain pengaturan akses, anak perlu memahami berbagai ancaman yang dapat muncul saat berinteraksi di internet. Meutya mengingatkan para siswa agar berhati-hati ketika berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal di ruang digital.

Risiko yang perlu diwaspadai antara lain penipuan, perundungan, serta pendekatan yang mengarah pada eksploitasi anak di dunia maya. Pemahaman mengenai risiko tersebut diperlukan agar anak lebih berhati-hati sebelum melakukan aktivitas maupun berinteraksi melalui platform digital.

"Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menetapkan batas usia. Anak perlu memahami alasan di balik aturan tersebut agar dapat mengenali risiko dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika menggunakan teknologi," katanya.

Platform Digital Turut Bertanggung Jawab

Meutya menjelaskan PP TUNAS disusun dengan pendekatan berbasis risiko. Melalui pendekatan ini, platform digital memiliki tanggung jawab memenuhi ketentuan pelindungan anak sesuai profil risiko layanan masing-masing.

Di sisi lain, orang tua dan guru tetap berperan penting dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Pendampingan tersebut mencakup penjelasan mengenai batasan penggunaan teknologi serta bantuan ketika anak menghadapi persoalan di ruang digital.

Dengan demikian, pelindungan anak tidak hanya bergantung pada pembatasan akses terhadap platform tertentu. Anak juga perlu dibekali pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara aman, sementara orang tua dan tenaga pendidik perlu menyediakan ruang bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online