Pengguna Tinggalkan Windows, Beralih ke Linux karena Privasi

Jumali
Jumali Sabtu, 07 November 2026 10:17 WIB
Pengguna Tinggalkan Windows, Beralih ke Linux karena Privasi

Foto ilustrasi menulis menggunakan laptop. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Beralih dari Windows ke Linux kini bukan lagi pilihan yang hanya diambil oleh pengguna komputer berlatar belakang teknologi. Sejumlah orang dengan profesi dan kemampuan teknis berbeda mulai meninggalkan sistem operasi Microsoft tersebut karena ingin memiliki kendali lebih besar atas privasi, data, dan perangkat yang mereka gunakan.

Perubahan itu dialami empat pengguna yang diwawancarai TechRadar. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, yakni psikolog klinis di Queensland, seniman grafis di Atlanta, ilmuwan perilaku-biologis di North Carolina, serta insinyur teknologi di Hungaria. Keempatnya beralih ke Linux dalam enam bulan terakhir, meski alasan dan proses migrasinya tidak sama.

Salah satu pemicu meningkatnya perhatian terhadap Linux adalah berakhirnya dukungan Windows 10 pada 14 Oktober 2025. Setelah tanggal tersebut, Microsoft tidak lagi menyediakan bantuan teknis, pembaruan fitur, maupun pembaruan keamanan reguler untuk sistem operasi itu.

Komputer yang masih menggunakan Windows 10 sebenarnya tidak langsung berhenti berfungsi. Namun, perangkat tanpa pembaruan keamanan berkelanjutan memiliki risiko lebih besar terhadap virus dan malware. Pengguna yang belum siap berpindah masih dapat mengikuti program Extended Security Updates (ESU) konsumen untuk memperoleh pembaruan keamanan hingga 12 Oktober 2027.

Di sisi lain, Microsoft mendorong pengguna beralih ke Windows 11. Persyaratan perangkat keras untuk menjalankan sistem operasi terbaru tersebut dan ketidaknyamanan terhadap praktik pengumpulan data turut menjadi pertimbangan sebagian pengguna dalam mencari alternatif.

Ketertarikan terhadap Linux juga tercermin dari perkembangan sejumlah distribusi sistem operasi tersebut. Zorin OS 18, misalnya, dilaporkan telah melampaui dua juta unduhan dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak dirilis. Zorin Group menyebut lebih dari tiga perempat unduhan berasal dari pengguna Windows. Meski demikian, angka unduhan tidak serta-merta menunjukkan jumlah orang yang telah sepenuhnya meninggalkan Windows.

Empat pengalaman meninggalkan Windows

1. Christopher Smith memilih Linux Mint

Christopher Smith, ilmuwan perilaku-biologis yang telah menggunakan produk Microsoft selama sekitar 25 tahun, merasa semakin kehilangan keleluasaan dalam mengatur komputernya. Ia tidak memiliki latar belakang pemrograman, tetapi keberadaan perangkat lunak dan layanan yang menurutnya tidak dibutuhkan membuatnya mulai mencari sistem operasi lain.

Kepada TechRadar, Smith menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi ketika pemilik laptop justru tidak sepenuhnya menentukan cara perangkatnya digunakan. Ia merasa Microsoft terlalu banyak mengambil keputusan terkait penggunaan komputer yang telah dibelinya.

Smith mengawali perpindahan dengan menjalankan Linux melalui USB bootable. Setelah mencoba sistem tersebut, ia menggunakan konfigurasi dual-boot agar Windows dan Linux bisa tersedia dalam satu komputer. Pilihannya kemudian jatuh pada Linux Mint dengan lingkungan desktop Cinnamon karena tampilannya relatif akrab bagi pengguna Windows.

Perubahan itu berlanjut. Smith membeli laptop yang menggunakan Linux dan mulai menyiapkan server Linux sendiri. Ia juga memanfaatkan bantuan model bahasa besar atau large language model (LLM) untuk mempelajari perintah terminal dan mencari solusi teknis.

2. Imre Lóránt Dévai ingin mengurangi ketergantungan aplikasi

Bagi Imre Lóránt Dévai, insinyur teknologi yang berbasis di Budapest, persoalan kendali perangkat terlihat dari pengalaman sederhana saat menggunakan mouse Logitech. Di Windows, pengaturan tombol dan firmware perangkat tersebut memerlukan aplikasi khusus, akun, serta program yang berjalan di latar belakang.

Setelah menggunakan Linux, ia dapat membuat skrip sederhana untuk menjalankan fungsi yang dibutuhkan, seperti memetakan tombol dan memeriksa kondisi baterai. Pengalaman itu membuatnya merasa tidak perlu memasang banyak perangkat lunak tambahan hanya untuk mengatur aksesori komputer.

Dévai juga menilai pengumpulan data tidak hanya berkaitan dengan privasi. Perangkat lunak yang mengirimkan data dapat menggunakan sumber daya komputer, seperti prosesor, memori, dan bandwidth internet. Karena itu, mengurangi aktivitas aplikasi yang tidak diperlukan juga menjadi salah satu pertimbangannya.

3. Aaron Frost mempertimbangkan kerahasiaan data pasien

Psikolog klinis Aaron Frost di Brisbane memiliki alasan yang berkaitan langsung dengan pekerjaannya. Ia mengkhawatirkan perlindungan informasi pasien dan menilai pengelolaan data kesehatan membutuhkan perhatian khusus.

Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah muncul kontroversi fitur Recall dari Microsoft. Fitur berbasis kecerdasan buatan itu dirancang untuk mengambil tangkapan layar aktivitas pengguna secara berkala sehingga riwayat kegiatan komputer dapat dicari kembali.

Frost kemudian menghapus sistem operasi dari salah satu komputer Windows lamanya dan mulai menggunakan Linux. Ia sempat mencoba Ubuntu sebelum beralih ke Fedora dengan lingkungan desktop GNOME untuk menemukan konfigurasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Ia mengakui proses awal tidak selalu mudah. Frost bahkan mengatakan kemungkinan dirinya tidak akan mampu melewati pekan pertama migrasi tanpa bantuan LLM seperti Claude, Gemini, atau ChatGPT. Menurutnya, bantuan AI membuat pengguna lebih mudah memahami perintah dan menyelesaikan persoalan teknis Linux.

4. Dan Rodda memperluas penggunaan perangkat lunak terbuka

Seniman grafis Dan Rodda di Atlanta tidak hanya mengganti sistem operasi. Ia juga mulai mengalihkan berbagai layanan digital, mulai dari penyimpanan cloud, mesin pencari, hingga perangkat lunak produktivitas, ke layanan sumber terbuka atau yang lebih berorientasi pada privasi.

Pada ponsel Google Pixel miliknya, Rodda menggunakan GrapheneOS, sistem operasi yang menekankan privasi dan keamanan. Ia juga mencoba memanfaatkan model AI terbuka untuk membantu persoalan teknis, meski tetap memeriksa kembali jawaban yang diperoleh karena solusi AI tidak selalu tepat.

AI membantu pengguna mengenal Linux

Pengalaman keempat pengguna tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan teknis bukan lagi satu-satunya faktor yang menentukan seseorang bisa menggunakan Linux. Bantuan LLM membuat proses belajar terasa lebih mudah, terutama ketika pengguna menghadapi perintah terminal atau masalah konfigurasi.

Dévai menggambarkan AI sebagai semacam administrator virtual yang sabar dan tidak menghakimi. Bantuan seperti itu dapat berguna bagi pengguna yang merasa sungkan bertanya di forum komunitas atau belum memahami istilah teknis.

Meski demikian, penggunaan AI tetap membutuhkan kehati-hatian. Dévai mengingatkan pengguna agar memeriksa perintah yang berpotensi menghapus atau mengubah data penting sebelum menjalankannya. Pengguna juga perlu memperhatikan informasi pribadi yang diberikan kepada layanan AI, terutama ketika komputer sudah menyimpan dokumen atau foto pribadi.

Perpindahan ke Linux juga mendorong mereka menata ulang layanan digital lain. Smith meninggalkan Microsoft Edge dan Google Chrome untuk menggunakan Brave serta Vivaldi. Rodda mengganti sebagian besar layanan cloud, mesin pencari, dan aplikasi produktivitas dengan alternatif yang lebih sesuai dengan prinsip privasinya.

Sementara itu, Dévai membangun home lab menggunakan laptop Linux lama. Ia menjalankan Pi-hole untuk menyaring permintaan DNS, menggunakan Bitwarden yang dihosting sendiri untuk mengelola kata sandi, serta menyiapkan layanan analitik mandiri sebagai alternatif Google Analytics. Dengan cara tersebut, data layanan yang digunakan dapat disimpan pada infrastruktur yang berada dalam kendalinya.

Pindah sistem operasi bukan solusi tunggal

Keempat pengguna itu masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan teknologi besar. Dévai, misalnya, menyebut rencana meninggalkan ekosistem Google sepenuhnya sebagai proses yang jauh lebih sulit karena banyak layanan digital telah saling terhubung.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa migrasi sistem operasi dapat menjadi langkah awal untuk mengatur ulang kebiasaan digital. Namun, berpindah ke Linux tidak otomatis menjamin seluruh aktivitas pengguna menjadi privat. Perlindungan data tetap dipengaruhi aplikasi yang dipasang, layanan yang digunakan, konfigurasi keamanan, serta kebiasaan pengguna dalam mengelola perangkat.

Bagi pengguna Windows yang tertarik mencoba Linux, perpindahan tidak harus dilakukan sekaligus. Linux dapat dijalankan lebih dulu melalui USB bootable untuk mengenali tampilan dan fitur dasarnya. Pengguna juga bisa mempertahankan Windows melalui konfigurasi dual-boot sebelum memutuskan sistem operasi yang paling sesuai.

Pada akhirnya, pilihan antara Windows dan Linux bergantung pada kebutuhan masing-masing. Windows menawarkan ekosistem yang sudah akrab bagi banyak pengguna, sedangkan Linux memberi keleluasaan lebih besar dalam memilih dan mengatur sistem. Keduanya tetap membutuhkan perhatian terhadap keamanan dan privasi agar data pribadi tidak dikelola secara sembarangan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online