Advertisement

Venezuela hingga Iran Kuasai Cadangan Minyak Dunia

Gaida Salsabila
Rabu, 15 April 2026 - 10:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Venezuela hingga Iran Kuasai Cadangan Minyak Dunia Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Peta cadangan minyak dunia masih didominasi negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin. Data tahun 2024 yang dirilis Data Indonesia menunjukkan bahwa Venezuela, Arab Saudi, dan Iran menempati posisi teratas sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia.

Total cadangan minyak global diperkirakan mencapai sekitar 1,79 triliun barel. Venezuela memimpin dengan cadangan sekitar 303,22 miliar barel atau hampir 17% dari total dunia. Posisi berikutnya ditempati Arab Saudi dengan 267,2 miliar barel dan Iran sebesar 208,6 miliar barel.

Advertisement

Selain tiga negara tersebut, cadangan besar juga dimiliki Kanada, Irak, hingga Rusia. Negara-negara ini menjadi pemain penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah dinamika geopolitik.

Cadangan Terbukti dan Produksi Global

Menurut Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), total cadangan minyak terbukti dunia pada 2024 mencapai sekitar 1,57 triliun barel, meningkat tipis dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi produksi, tren global menunjukkan peningkatan dalam satu dekade terakhir. Rata-rata produksi minyak dunia pada periode 2014–2024 berada di kisaran 92,90 juta barel per hari. Pada 2024, angka tersebut naik menjadi sekitar 96,89 juta barel per hari.

Kenaikan produksi tertinggi terjadi pada 2022 dengan lonjakan 4,50%, sedangkan penurunan terdalam terjadi pada 2020 sebesar 6,49% akibat tekanan pandemi global. Meski begitu, permintaan minyak tetap tumbuh secara moderat seiring pemulihan ekonomi dunia.

Langkah Indonesia Perkuat Ketahanan Energi

Di tengah dinamika tersebut, Indonesia terus berupaya memperkuat kemandirian energi nasional. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui pembangunan kilang minyak dalam negeri.

Presiden RI Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026 meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Proyek ini menjadi salah satu kilang terbesar di Indonesia yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak domestik.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan, optimalisasi kilang ini diharapkan mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin dan solar. Produksi bensin beroktan tinggi (RON di atas 90) ditargetkan mencapai 5,8 juta kiloliter per tahun.

Dengan peningkatan kapasitas tersebut, impor bensin diproyeksikan dapat ditekan hingga 3,6 juta kiloliter per tahun. Selain itu, penerapan bahan bakar campuran seperti biofuel E10 juga berpotensi mengurangi impor hingga 3,9 juta kiloliter.

Menuju Swasembada Energi

Pemerintah juga menargetkan penghentian impor solar secara bertahap mulai pertengahan 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menuju swasembada energi.

Penguatan infrastruktur kilang dan diversifikasi energi dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global. Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga meningkatkan kapasitas pengolahan dalam negeri agar lebih efisien dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya

BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya

News
| Rabu, 15 April 2026, 12:07 WIB

Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Wisata
| Selasa, 14 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement