OPINI: Ketika Tindakan Bunuh Diri Terinspirasi Film Drama Korea
Benarkah film dan drama Korea dapat memicu bunuh diri? Simak kajian tentang Werther Effect, Papageno Effect, serta pentingnya literasi media.
Siluet laptop dan pengguna gadget terlihat di samping proyeksi layar logo Google dalam ilustrasi foto yang diambil 28 Maret 2018. /REUTERS-Dado Ruvic
Harianjogja.com, JAKARTA--Google membuat perangkat yang memudahkan mengatur jarak fisik di tengah pandemi Covid-19.
Salah satu protokol kesehatan saat pandemi ini berlangsung adalah menjaga jarak satu sama lain saat di tempat ramai. Selain wajib menggunakan masker, jarak sosial sangatlah penting untuk mencegah penularan virus.
Meski sepertinya mudah, namun protokol ini dirasa paling sulit, pasalnya tak semuanya yakin bahwa tempatnya berdiri adalah jarak yang aman satu sama lain.
Diketahui jarak sosial satu sama lain adalah satu hingga 2 meter. Hal ini tentu kesulitan untuk orang-orang yang tak bisa mengukur tanpa meteran.
Kini Google membuatnya makin mudah, dengan perangkat augmented reality yang akan memudahkan penggunanya mendapatkan jarak yang tepat.
Dilansir dari laman The Verge, untuk mengakses fitur Google ini kamu perlu masuk di halaman browser Chrome dan membuka halaman dengan alamat goo.gle/sodar untuk masuk pada perangkat bernama SODAR.
Bukan sebuah aplikasi, namun halaman tersebut akan membuka kamera ponsel kamu dan menunjukkan rentang jarak yang tepat secara nyata.
Ponsel kamu akan menggunakan augmented reality dan memberikan jarak yang tepat satu sama lain di sekitar kamu dan memberikan lingkar radius dua meter pada tampilan ponsel kamu.
Dalam pengujian SODAR digunakan Samsung Galaxy S20 dan menggambarkan akurasinya sebagai \'\'cukup dekat\'\'.
Meski tak selalu akurat, namun jarak sosial ini menjadi penting dan menyadarkan siapa pun jika rentang jarak sosial akan lebih tercerahkan dengan bantuan aplikasi.
Hal ini adalah satu yang berguna daripada membayangkan visual dua meter yang tak pasti dalam menentukkan jarak sosial satu sama lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Benarkah film dan drama Korea dapat memicu bunuh diri? Simak kajian tentang Werther Effect, Papageno Effect, serta pentingnya literasi media.
Menkum Supratman Andi Agtas menegaskan perekaman SPG GIIAS tanpa izin merupakan pelanggaran hukum dan berpotensi melanggar sejumlah undang-undang.
Hasto Kristiyanto menegaskan Hari ASI Sedunia menjadi gerakan membangun peradaban. PDIP juga menyoroti pentingnya ASI untuk mencegah stunting.
Anggota DPRD Bantul Herry Fahamsyah mendukung pembahasan RUU LGBTQ agar ada kepastian hukum dan dasar pengaturan yang jelas.
Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan tidak ada surpres pergantian Kapolri. DPR juga membantah kabar tersebut dan meminta publik tak terpengaruh isu.
Pemkab Sleman membentuk KOPI TB untuk memperkuat kolaborasi menuju eliminasi Tuberkulosis pada 2030 setelah sukses eliminasi malaria.