AI Muse Tembus 1,8 Juta Unduhan, Ini Keunggulannya
Muse AI mencatat 1,8 juta unduhan di AS dan Kanada dalam 12 hari, melampaui ChatGPT. Ini fitur fleksibilitas, keamanan, dan kapabilitasnya.
Kru Bus Pariwisata Bintang Laut Holiday mengecek suhu tubuh penumpang sebelum masuk ke dalam bus di Kecamatan Purwantoro, Wonogiri. Foto diambil Juni 2020. /Ist-Solopos.com.
Harianjogja.com, WONOGIRI -- Perusahaan Otobus khusus pariwisata kini banyak yang berinovasi menyediakan armada bus dengan fasilitas layaknya kafe atau dikenal dengan Transbuck Kafe. Seperti yang dilakoni PO Bintang Laut Holiday asal Wonogiri, Jawa Tengah.
Penumpang bus ini bisa bersantai di dalam bus sembari makan minum serta menikmati perjalanan. Inovasi Transbuck Bus Cafe hadir seiring belum banyaknya objek wisata yang belum buka. Bus ini lebih banyak melayani permintaan perjalanan wisata dari Wonogiri dan Ponorogo.
BACA JUGA : Bus Pengangkut Ratusan Penumpang Kembali Berdatangan
Lantas bagaimana daleman bus pariwisata perusahaan otobus Bintang Laut Holiday? Perusahaan yang berbasis di Kecamatan Purwantoro, Wonogiri tersebut menyediakan berbagai fasilitas pendukung agar penumpang bisa naik bus sambil menyeruput minuman di dalam bus.
Trans Buck Bus Cafe sederhananya adalah kafe di dalam bus. Jika bisanya bus pariwisata digunakan untuk membawa penumpang ke tempat wisata, kali ini bus dijadikan kafe. Penumpang bisa menikmati sensasi perjalanan naik bus sembari menyantap hidangan yang disediakan dan pemandangan sekitar.
Desain interior bus pariwisatan ini berbeda. Tidak hanya kursi, di dalam bus ada meja yang digunakan untuk tempat makan dan minum penumpang. Pemilik PO Bintang Laut Holiday, Budi Haryanto, mengatakan inovasi Transbuck Bus Cafe muncul karena kegiatan pelaku usaha pariwisata berhenti saat pandemi Covid-19.
BACA JUGA : Pergerakan Bus di Terminal Jombor Mulai Meningkat
Tempat wisata yang sebagian besar masih tutup menuntut pengusaha bus berinovasi agar tetap bisa menjalankan usaha pariwisata bidang transportasi.
Ia mulai merintis bus pariwisata sejak Februari 2020. Satu bulan beroperasi, usahanya di bidang transportasi pariwisata tersebut terdampak Covid-19. Sopir dan kernet bus tidak bisa bekerja. Lalu pada pekan keempat Juni 2020, ia bersama anaknya meluncurkan Trans Buck Bus Cafe.
Rute perjalanan dan operasi bus, menurut dia, tidak menentu atau terjadwal, tergantung permintaan konsumen. Biasanya, konsumen memesan bus pada akhir pekan. Sejak kali pertama dioperasikan, Transbuck Bus Cafe tersebut sudah melakukan trip atau perjalanan sebanyak lima kali. Artinya, selama dua pekan sudah ada lima permintaan.
"Rata-rata permintaan di wilayah Wonogiri dan Ponorogo. Tidak hanya wilayah perkotaan, tetapi juga wilayah perdesaan. Jadi penumpang bisa melihat keindahan alam Wonogiri dan Kota Reog," kata dia saat dihubungi JIBI/Solopos, Senin (6/7/2020).
Ia memastikan perjalanan di bus tersebut tetap menerapakan protokol kesehatan untuk mencegah persebaran Covid-19. Pemilik bus membuat standar operasional prosedur (SOP) agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Protokol kesehatan yang diterapkan yakni penumpang wajib memakai masker. Sebelum masuk ada pengecekan suhu tubuh dan di dalam bus disediakan hand sanitizer. Selain itu, bus juga rutin disemprot disinfektan.
Model pelayanan Transbuck Bus Cafe kini tengah ngetren di kalangan para pengusaha bus pariwisata. Tetapi di Wonogiri, model tersebut baru kali pertama dikembangkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Muse AI mencatat 1,8 juta unduhan di AS dan Kanada dalam 12 hari, melampaui ChatGPT. Ini fitur fleksibilitas, keamanan, dan kapabilitasnya.
Disdag Jogja menggelar Gemati di 22 pasar selama Oktober 2026. Belanja minimal Rp20.000 berpeluang mendapat smartphone hingga sepeda.
Pemprov Jateng menyalurkan 75,4 juta liter air bersih ke 33 kabupaten/kota untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Komisi XIII DPR menemukan miras di salah satu bangunan Lapas Cibinong. Sebanyak 10 bangunan di bantaran Ciliwung dibongkar.
Empat atlet Indonesia lolos final speed panjat tebing di Nagoya. FPTI membidik medali dan berharap podium dikuasai wakil Indonesia.
DPRD Jogja meminta Rippar 2026–2045 tak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja, tenaga kerja, dan lingkungan.