Kementerian PPPA Turunkan Tim Khusus Usut Pemerkosaan Anak di Luwu Timur
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) akan menurunkan tim khusus untuk mengusut pemerkosaan anak diKabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Logo youtube/JIBI-Bisnis.com-Akbar Evandio
Harianjogja.com, JAKARTA – Baru-baru ini iklan yang tayang di YouTube lebih banyak dari biasanya karena platform berbagi video itu telah mengeluarkan kebijakan baru yang membuat iklan dapat ditayangkan di seluruh video dan bukan hanya di video yang dimonetisasi.
Pemasangan iklan di konten yang tidak dimonetisasi oleh kreatornya merupakan salah satu kebijakan layanan (terms of service) di YouTube. Adapun sebelumnya, iklan hanya dipasang di konten yang terdaftar dalam YouTube Partner Program (YPP).
Sebagai catatan, YPP merupakan program monetisasi konten lewat penayangan iklan. Kreator konten akan mendapatkan pendapatan dari iklan yang tayang di konten-konten mereka. Syarat yang harus dipenuhi oleh kreator konten untuk bergabung dalam program tersebut adalah memiliki setidaknya 1.000 pelanggan (subscribers) dan telah ditonton selama 4.000 jam.
Iklan adalah sumber pendapatan yang besar bagi YouTube dan perusahaan induknya, Google. Pendapatan yang diperoleh YouTube melalui penayangan iklan mencapai US$5 miliar. Tentunya, pendapatan tersebut masih harus dibagi lagi ke kreator konten yang terdaftar dalam YPP.
Iklan juga menjadi sumber pendapatan sebagian besar kreator konten di YouTube. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang tidak bisa hidup atau memproduksi konten-konten baru tanpa adanya dukungan dari iklan.
Melansir The Verge pada Jumat (20/11/2020), kebijakan terbaru dari YouTube itu tidak diterima dengan baik atau mendapatkan penolakan dari para kreator konten. Tentunya hal tersebut merusak hubungan antara kreator konten dengan YouTube yang terjalin selama bertahun-tahun.
Kreator konten di YouTube sebenarnya sudah beberapa kali mengeluhkan kebijakan yang dinilai merugikan mereka. Pada akhir 2016 dan awal 2017, mereka tiba-tiba mengalami penurunan pendapatan iklan karena platform tersebut berjuang untuk memuat video anak-anak yang mengganggu dan konten berbahaya lainnya.
Kemudian pada tahun 2018, insiden Logan Paul menyebabkan perubahan pada kebijakan YPP dan semakin sulit bagi pembuat konten untuk mulai mendapatkan pendapatan.
YouTube tidak mengatakan berapa banyak pembuat konten yang akan melihat iklan dijalankan di videonya tanpa membayarnya, tetapi perusahaan mengonfirmasi bahwa saluran dari semua ukuran dapat melihat iklan muncul.
YouTube juga mengonfirmasi bahwa iklan tetap tidak akan berjalan di video dari pembuat non-mitra yang berpusat pada topik sensitif. Ini termasuk politik, agama, alkohol, dan perjudian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) akan menurunkan tim khusus untuk mengusut pemerkosaan anak diKabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Sony resmi membawa PS5 Pro ke Indonesia mulai 20 Mei 2026 dengan harga Rp15,499 juta. Ini spesifikasi, fitur AI, dan peningkatannya.
Libur panjang mendongkrak wisata Bantul. Sebanyak 35.011 wisatawan berkunjung dengan retribusi mencapai Rp506,3 juta.
Fitur Instants Instagram bikin banyak pengguna salah kirim foto. Berikut cara menonaktifkan dan membatalkan Instants agar privasi tetap aman.
Alex Marquez diduga melaju lebih dari 200 km/jam saat mengalami crash horor di MotoGP Catalunya 2026. Ini estimasi kecepatannya.
Pengadaan TKD pengganti YIA di Palihan dan Glagah masih stagnan. Warga khawatir dana ganti rugi hangus jika tak segera direalisasikan.