Indonesia Bidik Wisatawan Eropa Lewat 5 Produk Wisata Unggulan
Indonesia menawarkan lima produk wisata unggulan di WTM London 2026 untuk menarik wisatawan Eropa dan memperkuat pasar pariwisata premium.
Supir taksi online melakukan pengisian daya mobil listrik di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Harianjogja.com, JAKARTA–Para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) mengungkapkan strategi yang diperlukan untuk percepatan kendaraan listrik di Indonesia guna mencapai target pemerintah dalam menurunkan emisi bersih nol pada tahun 2060.
Penurunan emisi karbon melalui Kontribusi Penentuan Nasional (NDC) yang dilakukan oleh Indonesia sangat penting untuk mendukung perubahan iklim dan menangani masalah pemanasan global.
"Dalam konteks ini, Indonesia memiliki risiko yang tinggi terhadap dampak perubahan iklim karena merupakan negara kepulauan," kata Agus Purwadi, Ketua Laboratorium Konversi Energi Elektrik ITB, dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, Minggu (21/5/2023).
Sektor energi, transportasi, dan industri merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, sehingga penurunan emisi melalui kendaraan yang terkait dengan ketiga sektor tersebut sangatlah penting.
"Kontribusi emisi karbon dapat terjadi dalam seluruh siklus kendaraan, mulai dari sumber energi hingga penggunaan roda. Kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dapat memiliki emisi karbon nol jika seluruh siklus, termasuk pembangkit listrik dan proses produksi, menggunakan energi hijau," jelas Agus.
Oleh karena itu, salah satu langkah yang dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia adalah dengan secara alami beralih dari kendaraan konvensional bertransmisi manual (Internal Combustion Engine/ICE) ke kendaraan listrik dengan transmisi otomatis (AT).
Selain itu, Agus juga menyarankan untuk menciptakan program LCGC (Low Cost and Green Car) yang serupa dengan program yang diterapkan pemerintah pada tahun 2013, namun kali ini khusus untuk kendaraan listrik. Menurutnya, program LCGC terbukti mendorong minat masyarakat untuk membeli mobil, sehingga penjualan mobil meningkat.
Agus juga mengatakan pentingnya penelitian dan pengembangan baterai khusus untuk kendaraan listrik di Indonesia, mengingat baterai EV yang saat ini dikembangkan umumnya ditujukan untuk negara-negara dengan empat musim.
"Apapun merek kendaraan listrik yang digunakan di Indonesia, agar dapat membangun ekosistem yang lebih kompetitif, baterai sebaiknya diproduksi di Indonesia," ungkap Agus.
Prof. Muhammad Nizam, pakar dari Pusat Unggulan Iptek Penyimpanan Energi Listrik UNS, menambahkan bahwa baterai merupakan inti dari kendaraan listrik, dan perkembangan teknologi baterai di dunia sangat pesat. Oleh karena itu, Indonesia perlu menguasai teknologi baterai terkini dan masa depan.
"Baterai litium ion adalah bahan bakar masa depan kendaraan listrik," katanya.
Meskipun Indonesia memiliki sumber bahan baku baterai seperti nikel, kobalt, dan mangan, penguasaan sumber litium juga sangat penting. Sumber bahan baku litium yang bagus, menurutnya, ada di Australia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Indonesia menawarkan lima produk wisata unggulan di WTM London 2026 untuk menarik wisatawan Eropa dan memperkuat pasar pariwisata premium.
BPBD Sleman mewaspadai banjir lahar dingin Merapi, angin kencang, banjir, petir, dan longsor menjelang musim hujan.
Sebanyak 27 padukuhan di Kapanewon Panggang, Gunungkidul, mendapat bantuan 1 juta liter air bersih dari Buddha Tzu Chi Sinar Mas.
Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,4% sepanjang 2026, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Danantara dan BP BUMN menargetkan groundbreaking 12 kawasan smart city pada Desember 2026. Walini, Batang, dan Medan menjadi lokasi prioritas.
BNPT dan Pemprov Sumbar memperkuat peran guru dalam mencegah intoleransi, radikalisme, dan kekerasan di lingkungan sekolah.