76 Desa Terancam Kekeringan, Sumenep Tetapkan Status Siaga
Pemkab Sumenep tetapkan status siaga kekeringan selama 6 bulan. Sebanyak 76 desa di 19 kecamatan berpotensi krisis air bersih.
Ilustrasi planet. /Ist.
Harianjogja.com, JOGJA—Para ilmuwan telah menemukan reservoir air bawah tanah yang sangat besar di Mars yang berpotensi cukup untuk mengisi lautan di permukaan planet tersebut.
Penemuan mengejutkan itu, yang diterbitkan pada Senin di Proceedings of the National Academy of Sciences, mengungkapkan bahwa air terperangkap dalam retakan dan pori-pori kecil di bawah kerak Mars, yang terletak 7 hingga 12 mil ( 11,2 km-19,3 km) di bawah permukaan planet.
Penulis utama kajian ini, Vashan Wright, seorang ahli geofisika di Scripps Institution of Oceanography, University of California, San Diego, menekankan pentingnya penemuan ini dalam sebuah pernyataan: "Memahami siklus air di Mars sangat penting untuk memahami evolusi iklim, permukaan dan interiornya. Titik awal yang berguna adalah mengidentifikasi di mana air berada dan berapa banyak yang ada."
Para peneliti menggunakan data seismik dari pendarat InSight milik NASA, yang beroperasi dari tahun 2018 hingga 2022, untuk mengidentifikasi lapisan kaya air di kerak dalam planet tersebut. Berbicara kepada BBC, Michael Manga, seorang profesor di University of California, Berkeley, dan rekan penulis kajian itu, membahas implikasi penemuan ini terhadap potensi kelayakan huni di Mars.
"Menetapkan bahwa ada reservoir besar air cair memberikan pengetahuan tentang seperti apa iklim yang ada atau yang kemungkinan ada," kata Manga.
"Dan air diperlukan untuk kehidupan seperti yang kita kenal. Saya tidak melihat alasan mengapa (reservoir bawah tanah) bukan lingkungan yang dapat dihuni," katanya.
Kehadiran air cair di bawah permukaan Mars menawarkan wawasan baru tentang sejarah geologi planet tersebut dan mengisyaratkan kemungkinan bahwa kehidupan bisa ada di akuifer (air cair) bawah tanah ini.
Menurut CNN, Alberto Fairen, seorang ilmuwan planet di Cornell University, juga berkomentar: "Hasil baru ini menunjukkan bahwa air cair memang ada di bawah permukaan Mars saat ini, bukan dalam bentuk danau yang terpisah dan terisolasi, tetapi sebagai sedimen yang jenuh dengan air cair atau akuifer."
Meskipun penemuan ini membuka kemungkinan menarik untuk eksplorasi di masa depan, mengakses air tersebut menghadirkan tantangan yang signifikan. Wright menjelaskan bahwa pengeboran hingga kedalaman seperti itu di Mars akan memerlukan sumber daya dan teknologi yang belum pernah ada sebelumnya.
"Bahkan pengeboran lubang sedalam setengah mil atau lebih di Bumi adalah tantangan yang membutuhkan energi dan infrastruktur sehingga sejumlah besar sumber daya perlu dibawa ke Mars untuk pengeboran hingga kedalaman tersebut," kata Wright.
Penemuan itu merupakan langkah maju yang signifikan dalam memahami masa lalu, masa kini, dan potensi Mars untuk mendukung kehidupan, membuka jalan bagi misi-misi masa depan untuk menyelidiki misteri yang tersembunyi di bawah permukaan Planet Merah ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemkab Sumenep tetapkan status siaga kekeringan selama 6 bulan. Sebanyak 76 desa di 19 kecamatan berpotensi krisis air bersih.
Kasus dugaan penganiayaan di Daycare Jogja bertambah jadi 27 tersangka, dengan 103 anak korban. Polisi masih kembangkan penyidikan.
Bantul lanjutkan restorasi Gumuk Pasir Parangkusumo dengan penebangan vegetasi demi mengembalikan fungsi alami kawasan langka.
Prof Dante tegaskan obesitas adalah penyakit serius yang meningkatkan risiko jantung dan kanker, perlu penanganan menyeluruh.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.