Marquez Belum Podium di MotoGP 2026, Pedrosa Buka Suara
Dani Pedrosa mengungkap penyebab Marc Marquez terpuruk di MotoGP 2026 akibat cedera bahu, mental, dan masalah motor Ducati.
Mark Zuckerberg, CEO Facebook/mashable
Harianjogja.com, JOGJA—Aktivitas renovasi kompleks rumah Mark Zuckerberg selama bertahun-tahun memicu keluhan warga Palo Alto akibat kebisingan dan gangguan lingkungan.
Sebagai bentuk permintaan maaf, pendiri Facebook sekaligus CEO Meta tersebut dilaporkan membagikan headphone peredam bising (noise-canceling headphones) kepada para tetangga terdekatnya di Crescent Park.
Langkah unik ini diambil menyusul keluhan warga akibat proyek konstruksi yang berlangsung hampir tanpa henti selama bertahun-tahun, sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times.
Investasi Properti Senilai 110 Juta Dolar AS
Zuckerberg diketahui telah merogoh kocek lebih dari 110 juta dolar AS untuk membeli sedikitnya 11 rumah di sepanjang Edgewood Drive dan Hamilton Avenue dalam 14 tahun terakhir. Properti-properti tersebut kemudian dimodifikasi dan digabungkan menjadi satu kompleks hunian raksasa dengan berbagai fasilitas mewah.
Kawasan yang awalnya tenang dan dihuni oleh para profesional seperti pengacara, eksekutif perusahaan, hingga profesor Universitas Stanford itu pun kini berubah drastis menjadi zona konstruksi permanen.
Keluhan Warga: Kebisingan Selama 8 Tahun Tanpa Jeda
Warga sekitar mengeluhkan berbagai dampak negatif dari proyek ambisius tersebut, mulai dari lalu lintas yang kerap terblokir, tumpukan puing konstruksi, hingga kebisingan yang berlangsung selama delapan tahun tanpa jeda.
Beberapa poin yang menjadi sorotan warga antara lain:
- Rumah Kosong: Sejumlah rumah yang dibeli Zuckerberg dilaporkan tidak ditempati di tengah krisis hunian di wilayah tersebut.
- Fasilitas Mewah: Properti diubah menjadi rumah tamu, taman luas, lapangan pickleball, hingga kolam renang dengan sistem hydrofloor.
- Sekolah Privat: Adanya fasilitas pendidikan khusus untuk anak-anak Zuckerberg yang diduga tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan zonasi setempat.
Kompleks Bawah Tanah yang Dijuluki "Bunker Miliarder"
Tak hanya pengembangan di permukaan, kompleks hunian ini juga diperluas ke bawah tanah. Penambahan ruang bawah tanah seluas sekitar 7.000 kaki persegi memicu warga sekitar menjulukinya sebagai "bunker" atau "gua miliarder".
Struktur serupa juga diketahui dibangun di properti milik Zuckerberg yang berada di Hawaii. Meskipun demikian, Zuckerberg membantah bahwa fasilitas bawah tanah tersebut disiapkan sebagai bunker untuk menghadapi kiamat.
Upaya Damai: Anggur, Donat, hingga Headphone
Selain membagikan headphone, staf Zuckerberg dilaporkan pernah memberikan paket hadiah berupa minuman anggur berkarbonasi dan donat Krispy Kreme pada periode konstruksi yang paling mengganggu.
Namun, upaya diplomasi ini tidak sepenuhnya meredakan ketidakpuasan warga. Tetangga merasa privasi lingkungan mereka hilang akibat pembatas berlapis serta sistem keamanan ketat yang melibatkan patroli petugas keamanan pribadi selama 24 jam.
Menanggapi keluhan tersebut, juru bicara Zuckerberg menyatakan bahwa pihak keluarga telah menjadikan Palo Alto sebagai rumah selama lebih dari satu dekade. Mereka mengeklaim telah berupaya mematuhi, bahkan melampaui ketentuan lokal untuk meminimalkan gangguan terhadap lingkungan sekitar.
Rekam Jejak Konflik dengan Otoritas Lokal
Ini bukan pertama kalinya proyek properti Zuckerberg bersitegang dengan warga dan otoritas setempat. Pada 2016, Pemerintah Kota Palo Alto sempat menolak rencana pembongkaran empat rumah untuk digantikan bangunan baru dengan ruang bawah tanah besar.
Meski proposal awal ditolak, proyek pengembangan tetap berjalan secara bertahap. Hal ini belakangan dikritik oleh sejumlah anggota dewan kota dan warga karena dinilai memanfaatkan celah regulasi (loophole) yang ada untuk membangun megaproyek di kawasan residensial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dani Pedrosa mengungkap penyebab Marc Marquez terpuruk di MotoGP 2026 akibat cedera bahu, mental, dan masalah motor Ducati.
Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak hingga Rp52 juta akibat sistem adaptive pricing FIFA. Federasi kecil paling terdampak.
Apple resmi menghadirkan iPhone 17e di Indonesia dengan MagSafe, chip A19, dan Action Button. Harga mulai Rp13,4 juta.
Netflix digugat Texas karena dituding membuat fitur adiktif untuk anak dan mengumpulkan data pengguna tanpa izin yang jelas.
Persis Solo berada di ujung degradasi BRI Super League 2025/2026. Dua laga terakhir menjadi penentu nasib Laskar Sambernyawa.
Penelitian AAA mengungkap cuaca panas dan dingin ekstrem dapat memangkas jarak tempuh mobil listrik dan hybrid.