Chery dan BYD Kaji Potensi Kenaikan Harga Mobil di Indonesia

Newswire
Newswire Selasa, 19 Mei 2026 18:37 WIB
Chery dan BYD Kaji Potensi Kenaikan Harga Mobil di Indonesia

BYD Dolphin. - Harian Jogja/Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Sejumlah produsen otomotif mulai mencermati dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap potensi kenaikan harga kendaraan di Indonesia. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi biaya produksi maupun operasional, sehingga membuka peluang penyesuaian harga di pasar.

Produsen asal Tiongkok, Chery, saat ini masih melakukan kajian internal terkait kemungkinan tersebut. Country Director Chery Sales Indonesia (CSI), Zeng Shuo, menyebut pihaknya tengah menghitung dampak kenaikan biaya terhadap harga jual kendaraan di Tanah Air.

“Kita juga lagi lihat karena sekarang salah satu alasannya semua biaya lagi naik jadi ada faktor itu juga. Kita lagi coba kalkulasi, tapi kalau biaya tetap naik ada kemungkinan harganya naik juga,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/5/2026) malam.

Meski demikian, Chery belum mengambil keputusan final dan masih menunggu hasil perhitungan lebih lanjut terkait struktur biaya yang terdampak kondisi ekonomi saat ini.

Di sisi lain, produsen kendaraan listrik BYD juga menyatakan telah melakukan kajian terhadap berbagai skenario dampak kondisi ekonomi global dan domestik, termasuk pelemahan rupiah serta dinamika geopolitik.

Kepala Hubungan Masyarakat dan Pemerintah PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan bahwa perusahaan masih mempertahankan strategi harga yang ada dan belum berencana melakukan perubahan dalam waktu dekat.

“Kami sudah melakukan studi komprehensif dan sampai saat ini masih tetap positif dan percaya diri dengan strategi kami, baik produk, harga, maupun promosi. Kalau ditanya potensi kenaikan, mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek,” ujarnya.

Menurut Luther, kondisi ekonomi global dan ketegangan geopolitik menjadi faktor yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, yang pada akhirnya berdampak ke industri otomotif secara keseluruhan.

Ia juga menyoroti bahwa daya beli konsumen merupakan faktor kunci dalam menentukan permintaan kendaraan, baik kendaraan listrik, konvensional, maupun hybrid.

“Daya beli ini penting buat industri otomotif karena menentukan appetite konsumen untuk membeli kendaraan. Jadi bukan lagi soal EV, ICE, atau hybrid, tapi daya beli secara keseluruhan,” tambahnya.

Sebelumnya, Luther juga menyampaikan bahwa kondisi ekonomi global saat ini turut memberi tekanan tidak langsung terhadap industri otomotif di Indonesia, meski perusahaan tetap berupaya menjaga stabilitas strategi bisnis.

Dengan situasi yang masih dinamis, pelaku industri otomotif diperkirakan akan terus mencermati perkembangan nilai tukar dan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga kendaraan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online