Laba Anjlok 90 Persen, Subaru Hentikan Proyek EV Internal

Jumali
Jumali Rabu, 20 Mei 2026 15:07 WIB
Laba Anjlok 90 Persen, Subaru Hentikan Proyek EV Internal

Logo Subaru/Kisspng

Harianjogja.com, JOGJA— Subaru resmi membatalkan peluncuran mobil listrik internal atau self-developed EV yang sebelumnya direncanakan hadir pada 2028.

Keputusan tersebut diambil setelah perusahaan asal Jepang itu mengalami penurunan laba operasional hingga 90 persen pada tahun fiskal terbaru.

Dilansir dari Nikkei Asia, tekanan terbesar datang dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang disebut menyebabkan kerugian sekitar US$1,4 miliar bagi Subaru. Selain itu, perusahaan juga mencatat kerugian tambahan terkait program kendaraan listrik sebesar US$385 juta.

Kondisi tersebut membuat Subaru memilih menghentikan sementara pengembangan mobil listrik yang dilakukan secara mandiri.

Sebelumnya, Subaru telah menyiapkan fasilitas produksi baru di kawasan pabrik Oizumi, Prefektur Gunma, Jepang, untuk memproduksi kendaraan listrik.

Pabrik tersebut awalnya dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027 dengan target meluncurkan hingga empat model mobil listrik pada 2028.

Namun kini, fasilitas tersebut akan dialihkan untuk memproduksi kendaraan hybrid dan mobil bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE).

Penundaan ini menjadi kali kedua dalam enam bulan terakhir Subaru mengurangi komitmen terhadap kendaraan listrik.

Pada November tahun lalu, Subaru juga mengumumkan pengalihan dana investasi EV senilai US$9,7 miliar menuju pengembangan kendaraan hybrid dan ICE.

Kini, proyek mobil listrik internal perusahaan disebut dihentikan sepenuhnya tanpa kepastian jadwal peluncuran baru.

CEO Atsushi Osaki menyebut kondisi pasar Amerika Serikat menjadi faktor utama perubahan strategi tersebut.

Dalam laporan yang dikutip dari Automotive News, Osaki mengatakan Subaru akan melakukan evaluasi ulang menyeluruh terhadap strategi kendaraan listrik sebelum menentukan langkah berikutnya.

Dampak finansial yang dialami perusahaan juga tergolong besar. Laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT Subaru turun 90 persen menjadi hanya ¥40,1 miliar.

Selain itu, perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar ¥51,36 miliar, berbanding terbalik dengan keuntungan ¥325 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan nilai kredit regulasi lingkungan sebesar ¥28 miliar akibat perubahan kebijakan pemerintahan Amerika Serikat turut memperparah kondisi keuangan perusahaan.

Subaru bukan satu-satunya produsen Jepang yang mulai menahan ekspansi kendaraan listrik.

Mazda sebelumnya juga mengumumkan penundaan peluncuran mobil listrik internal dari 2027 menjadi 2029.

Mazda bahkan memangkas investasi kendaraan listrik hampir setengahnya, dari sekitar US$12,5 miliar menjadi US$7,5 miliar.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah produsen otomotif Jepang seperti Toyota, Honda, Subaru, dan Mazda memang terlihat lebih berhati-hati dalam memperluas program EV mereka.

Strategi tersebut berbanding terbalik dengan produsen otomotif asal Tiongkok yang justru semakin agresif memperluas pasar kendaraan listrik ke Eropa hingga Amerika Latin.

Meski menghentikan proyek EV internal, Subaru memastikan kerja sama kendaraan listrik bersama Toyota tetap berjalan sesuai rencana.

Empat model hasil kolaborasi, yakni Subaru Solterra, Uncharted, Trailseeker, dan Getaway tetap akan diluncurkan sesuai jadwal.

Model-model tersebut dikembangkan bersama Toyota yang memiliki teknologi EV dan rantai pasok lebih matang.

Artinya, Subaru masih akan memiliki lini kendaraan listrik, tetapi tidak lagi sepenuhnya dikembangkan secara mandiri.

Keputusan ini menunjukkan bagaimana gejolak politik, tarif perdagangan, dan tekanan pasar global dapat memengaruhi strategi industri otomotif dunia, termasuk transisi menuju kendaraan listrik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online