Lockdown Mode Diluncurkan, Fitur Baru ChatGPT Cegah Kebocoran Data
Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—OpenAI memperkenalkan fitur keamanan terbaru bernama Lockdown Mode untuk pengguna ChatGPT sebagai upaya memperkuat perlindungan terhadap ancaman siber yang semakin kompleks. Fitur ini dirancang khusus untuk meminimalkan risiko kebocoran data sensitif akibat serangan manipulasi instruksi atau yang dikenal sebagai prompt injection.
Peluncuran teknologi keamanan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di lingkungan bisnis dan organisasi. Bersamaan dengan itu, risiko penyalahgunaan sistem AI melalui berbagai metode serangan digital juga ikut berkembang, termasuk teknik penyusupan instruksi tersembunyi yang dapat memengaruhi respons chatbot.
Serangan prompt injection umumnya dilakukan dengan menyisipkan perintah berbahaya ke dalam halaman web, dokumen digital, maupun sumber informasi lain yang diakses sistem AI. Tujuannya adalah mengelabui model agar menjalankan instruksi yang tidak semestinya atau memproses informasi yang berpotensi membahayakan keamanan pengguna.
Lockdown Mode Batasi Akses Web dan Fitur AI
Berdasarkan laporan TechCrunch yang dikutip Senin (8/6/2026), Lockdown Mode bekerja dengan mempersempit ruang operasional ChatGPT ketika fitur tersebut diaktifkan. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah memutus akses pencarian web secara langsung guna mengurangi kemungkinan sistem terpapar konten berbahaya dari internet.
BACA JUGA
Dalam kondisi Lockdown Mode aktif, pengguna hanya dapat mengakses konten yang tersimpan dalam cache atau data yang telah disalin sementara ke perangkat. Mekanisme ini dirancang untuk mengurangi interaksi langsung dengan sumber eksternal yang berpotensi menjadi jalur masuk serangan siber.
Tidak hanya membatasi pencarian web, fitur keamanan ini juga menonaktifkan sejumlah kemampuan lain yang bergantung pada akses internet, termasuk pengambilan gambar dari web, fitur riset mendalam, hingga Mode Agen yang memungkinkan AI menjalankan serangkaian tugas secara otomatis.
Belum Menutup Semua Celah Keamanan
Meski menghadirkan lapisan perlindungan tambahan, OpenAI menegaskan bahwa Lockdown Mode bukanlah solusi yang sepenuhnya menghilangkan risiko prompt injection. Perusahaan mengakui masih terdapat sejumlah skenario yang memungkinkan serangan serupa memengaruhi respons AI.
Menurut OpenAI, instruksi berbahaya masih dapat muncul melalui konten web yang tersimpan dalam cache maupun dokumen yang diunggah langsung oleh pengguna. Dalam kondisi tertentu, informasi tersebut tetap berpotensi memengaruhi perilaku sistem atau menurunkan tingkat akurasi jawaban yang diberikan ChatGPT.
OpenAI mencontohkan bahwa serangan dapat “muncul dalam konten web yang di-cache atau dalam file yang diunggah, dan masih dapat memengaruhi perilaku atau keakuratan respons”.
Ditujukan untuk Pengguna dengan Data Sensitif
Meskipun memiliki keterbatasan, Lockdown Mode dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat keamanan penggunaan AI, terutama bagi organisasi yang menangani data bernilai tinggi dan informasi rahasia. Fokus utama pengembangan fitur ini adalah mengurangi peluang terjadinya kebocoran data ketika pengguna menghadapi serangan siber.
Karena mekanismenya membatasi sejumlah fitur yang biasa digunakan pengguna sehari-hari, OpenAI menilai Lockdown Mode tidak ditujukan untuk seluruh pengguna ChatGPT. Fitur tersebut lebih relevan bagi kalangan profesional, perusahaan, lembaga, maupun individu yang membutuhkan tingkat keamanan lebih tinggi dibandingkan pengguna umum.
“Lockdown Mode tidak ditujukan untuk semua orang. Ini dirancang untuk individu dan organisasi yang menangani data sensitif dan menginginkan perlindungan yang lebih ketat dari risiko kebocoran data terkait injeksi cepat," tulis manajemen OpenAI.
Pada tahap awal peluncuran, OpenAI menghadirkan Lockdown Mode secara terbatas untuk pengguna ChatGPT Business self-serve dan sejumlah akun pribadi yang memenuhi kriteria keamanan tertentu. Perusahaan berharap fitur ini dapat membantu organisasi yang mengandalkan AI dalam operasional harian untuk mengurangi risiko kebocoran informasi sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap penggunaan teknologi kecerdasan buatan di lingkungan kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share