Perang Harga EV Paksa Lucid Motors Lakukan PHK Massal

Jumali
Jumali Selasa, 23 Juni 2026 10:37 WIB
Perang Harga EV Paksa Lucid Motors Lakukan PHK Massal

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) - ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Produsen kendaraan listrik Lucid Motors resmi memangkas sekitar 18 persen tenaga kerja di Amerika Serikat di tengah tekanan besar industri kendaraan listrik (EV) yang semakin kompetitif. Langkah ini menjadi salah satu restrukturisasi paling signifikan yang dilakukan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir di tengah melemahnya permintaan pasar.

Kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut tidak hanya menyasar karyawan tetap, tetapi juga kontraktor dan pekerja manufaktur per jam, seiring upaya perusahaan menekan biaya operasional. Berdasarkan data akhir 2025 yang mencatat sekitar 9.000 karyawan secara global, pemangkasan ini diperkirakan berdampak pada lebih dari 1.600 pekerja di berbagai lini produksi dan operasional.

Selain PHK, Lucid juga mengonfirmasi kepergian Chief Operating Officer (COO) Marc Winterhoff dari jajaran eksekutif perusahaan. Pergantian ini menambah daftar perubahan struktur manajemen di tengah upaya perusahaan menghadapi tekanan industri EV yang semakin ketat.

Salah satu dampak langsung dari kebijakan efisiensi ini adalah dihentikannya shift kedua di fasilitas utama AMP-1, yang menjadi pusat produksi kendaraan listrik Lucid. Pengurangan jam kerja ini menandakan adanya penyesuaian besar pada kapasitas produksi akibat menurunnya permintaan pasar.

Sebelumnya, perusahaan juga telah melakukan pemangkasan sekitar 12 persen tenaga kerja di Amerika Serikat pada Februari 2026, sebagai bagian dari strategi penghematan biaya. Namun tekanan pasar yang berlanjut membuat langkah tambahan kembali harus diambil dalam waktu relatif singkat.

Mengutip laporan Reuters pada Selasa (23/6), tingginya biaya produksi menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja Lucid. Harga jual kendaraan yang belum mampu bersaing di segmen mass market membuat perusahaan kesulitan menghadapi kompetisi dengan pemain besar seperti Tesla dan General Motors.

Situasi semakin menantang setelah perusahaan menangguhkan proyeksi produksi tahun 2026 untuk mengevaluasi ulang kondisi pasar EV yang masih fluktuatif. Perubahan harga bahan baku serta pergeseran perilaku konsumen pascapandemi turut memperburuk ketidakpastian industri.

Di tengah tekanan tersebut, Lucid masih bertumpu pada model SUV Gravity serta rencana pengembangan kendaraan listrik segmen menengah untuk mendorong penjualan. Perusahaan juga menjajaki kemitraan strategis dengan layanan transportasi daring Uber serta startup kendaraan otonom Nuro untuk pengembangan layanan robotaxi.

Namun para analis menilai keberhasilan strategi ini masih penuh ketidakpastian. Jika gagal memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan, perusahaan berpotensi menghadapi restrukturisasi lanjutan di tengah pasar EV global yang mulai memasuki fase konsolidasi.

Kondisi ini sekaligus menjadi gambaran bahwa persaingan kendaraan listrik tidak lagi hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga kemampuan bertahan dalam perang harga yang semakin ketat di pasar global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online