Meta Akui AI Belum Mampu Bendung Banjir Spam Judol

Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko Rabu, 01 Juli 2026 13:02 WIB
Meta Akui AI Belum Mampu Bendung Banjir Spam Judol

Logo Meta. Ist

Harianjogja.com, JAKARTA—Meta mengakui teknologi kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memoderasi konten di Facebook dan Instagram belum mampu sepenuhnya menekan penyebaran spam judi online di kolom komentar. Perusahaan menyebut para pelaku terus mengubah pola dan metode promosi sehingga sistem deteksi otomatis kerap tertinggal dalam mengenali modus baru yang muncul di platform mereka.

Persoalan ini menjadi sorotan karena Facebook dan Instagram masih menjadi salah satu kanal utama penyebaran komentar promosi judi online di Indonesia. Di tengah tingginya aktivitas pengguna media sosial, pelaku memanfaatkan celah algoritma untuk menyebarkan ribuan komentar secara otomatis pada akun-akun dengan tingkat interaksi tinggi.

Head of Public Policy Indonesia and Philippines Meta, Berni Moestafa, mengatakan perusahaan sebenarnya telah menerapkan berbagai mekanisme pengawasan untuk mendeteksi pelanggaran di platformnya.

Namun, menurut dia, tantangan terbesar datang dari kemampuan pelaku yang terus beradaptasi terhadap sistem penyaringan yang digunakan perusahaan.

"Langkah-langkah pelaku memberikan iklan itu selalu berubah, mereka selalu beradaptasi, sehingga bagi kami tentunya ada kesempatan juga untuk bisa mengambil tindakan yang lebih preventif ketika si pelakunya sudah melakukan inovasi untuk me-evade langkah detection kami," ujar Berni di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Meta selama ini mengandalkan kombinasi penyaringan berbasis kata kunci, pengenalan pola visual, dan teknologi AI untuk mendeteksi konten yang melanggar aturan. Namun pendekatan tersebut belum sepenuhnya efektif karena pelaku terus mengembangkan metode baru agar promosi mereka tetap lolos dari sistem moderasi.

Kondisi tersebut membuat tim pengembang Meta harus terus memperbarui basis data dan model deteksi agar mampu mengenali pola penyamaran terbaru yang digunakan jaringan spam.

Berni menilai penanganan masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan teknologi internal perusahaan. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi faktor penting untuk mempercepat identifikasi pola-pola baru yang muncul di lapangan.

Meta membutuhkan masukan dan data dari berbagai pemangku kepentingan agar sistem AI yang dikembangkan dapat mengenali ancaman baru dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Di tengah tantangan tersebut, Meta tetap meningkatkan investasi besar-besaran pada pengembangan AI. Perusahaan memproyeksikan belanja modal global pada 2026 mencapai US$125 miliar hingga US$145 miliar, atau sekitar Rp2.243 triliun hingga Rp2.602 triliun.

Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan pengeluaran pada 2025 yang tercatat sebesar US$72,2 miliar. Investasi itu digunakan untuk memperkuat infrastruktur komputasi, pusat data, serta pengembangan model AI generasi terbaru.

Meski demikian, besarnya investasi tersebut belum otomatis membuat persoalan spam judi online terselesaikan. Pelaku dinilai terus memanfaatkan teknologi yang sama untuk menciptakan metode penyebaran konten yang semakin sulit dideteksi.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa jaringan penyebar spam judi online kini bekerja dengan sistem yang jauh lebih terorganisasi dibandingkan sebelumnya.

Menurut laporan yang diterima kementerian, sistem milik pelaku mampu memantau aktivitas media sosial secara real-time untuk mencari akun yang sedang mengalami lonjakan interaksi.

Setelah menemukan akun dengan tingkat keterlibatan tinggi, sistem tersebut secara otomatis mengirimkan komentar promosi dalam jumlah besar menggunakan akun yang dijalankan bot maupun mesin otomatis.

"Ini memerlukan kerja sama lintas lembaga dan tidak hanya pemerintah, tetapi juga pihak swasta dalam hal ini platform untuk menangani persoalan tersebut," kata Meutya.

Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan sasaran utama spam judi online kini bergeser ke akun-akun dengan tingkat engagement tinggi, terutama milik pemengaruh daerah.

Meutya menyebut akun influencer daerah menjadi target terbesar penyebaran spam judi online.

"Target utama (spam komentar judol) bergeser teman-teman sekalian. Distribusi sasaran menunjukkan bahwa akun yang paling banyak di spam itu menyasar mereka yang memiliki engagement (interaksi) tinggi," ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, 52% komentar judi online ditemukan pada akun influencer daerah, disusul 31% pada akun instansi pemerintah, 12% pada akun media massa, dan 5% pada akun tokoh publik serta politisi.

Lonjakan aktivitas spam juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sepanjang Juni 2026, jumlah komentar judi online tercatat meningkat 128% dibandingkan periode sebelumnya.

TikTok menjadi platform dengan proporsi komentar judi online terbesar sebesar 35%, diikuti Facebook 28%, Instagram 22%, YouTube 10%, dan platform X sebanyak 5%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyebaran promosi judi online masih menjadi tantangan besar bagi platform digital, pemerintah, maupun masyarakat pengguna internet di Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis