Jangan Campur B50 dan Dexlite, Risiko Rusak Injektor Mengintai

Jumali
Jumali Kamis, 02 Juli 2026 13:57 WIB
Jangan Campur B50 dan Dexlite, Risiko Rusak Injektor Mengintai

Foto ilustrasi BBM. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah resmi menerapkan penggunaan Bio Solar B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi meningkatkan kemandirian energi nasional, menekan impor bahan bakar, serta mengurangi emisi karbon. Namun, di tengah penerapan kebijakan tersebut, muncul kebiasaan sebagian pengguna kendaraan diesel yang mencampurkan B50 dengan Dexlite dengan harapan mendapatkan performa lebih baik atau menghemat biaya operasional.

Praktik tersebut ternyata tidak direkomendasikan oleh para ahli maupun pelaku industri otomotif karena berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem bahan bakar, khususnya pada kendaraan diesel modern yang menggunakan teknologi common rail.

Scientific.net mengungkapkan, secara komposisi, B50 merupakan campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 50% solar fosil. Sementara Dexlite merupakan bahan bakar diesel fosil dengan angka cetane minimal 51 yang dilengkapi paket aditif pembersih untuk menjaga kualitas pembakaran dan kebersihan sistem injeksi.

Perbedaan karakteristik kedua bahan bakar tersebut menjadi alasan utama mengapa pencampuran tidak dianjurkan.

B50 memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air dari lingkungan. Selain itu, kandungan biodiesel yang tinggi juga memiliki efek pelarut yang dapat mengangkat kerak dan endapan lama yang berada di dalam tangki maupun saluran bahan bakar.

Dalam kondisi tertentu, efek tersebut dapat menyebabkan kotoran terbawa menuju filter solar dan mempercepat penyumbatan.

Pada penggunaan B50 murni, sejumlah konsekuensi teknis sebenarnya sudah menjadi perhatian. Konsumsi bahan bakar dapat meningkat sekitar 1% hingga 3% dibandingkan campuran biodiesel dengan kadar lebih rendah.

Selain itu, kandungan biodiesel yang tinggi berpotensi mempercepat degradasi pelumas akibat fenomena fuel dilution atau pencampuran bahan bakar dengan oli mesin. Risiko lain adalah percepatan kerusakan komponen berbahan karet yang tidak dirancang untuk menghadapi kandungan biodiesel tinggi.

Meski demikian, berbagai pengujian menunjukkan B50 tetap aman digunakan selama kendaraan mendapatkan perawatan sesuai rekomendasi dan sistem bahan bakar dalam kondisi baik.

Permasalahan muncul ketika B50 dicampur dengan Dexlite.

Pencampuran tersebut dapat mengganggu keseimbangan formulasi bahan bakar yang telah dirancang masing-masing produsen. Aditif pembersih yang terdapat pada Dexlite berpotensi tidak bekerja optimal ketika bercampur dengan karakteristik biodiesel dalam B50.

Akibatnya, manfaat utama dari aditif tersebut tidak dapat diperoleh secara maksimal.

Risiko yang lebih besar terjadi pada sistem filtrasi dan injeksi bahan bakar. Mesin diesel modern menggunakan injektor berpresisi tinggi dengan lubang penyemprotan yang sangat kecil sehingga sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar.

Ketika efek pelarut dari B50 meluruhkan endapan lama dalam tangki, partikel-partikel tersebut dapat mempercepat penyumbatan filter solar. Jika lolos ke sistem injeksi, kotoran dapat mengganggu pola penyemprotan bahan bakar dan menurunkan performa mesin.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mempercepat kerusakan injektor yang biaya penggantiannya tidak murah.

Selain itu, pencampuran juga dapat memengaruhi kualitas pembakaran. Angka cetane campuran akan berubah mengikuti komposisi kedua bahan bakar sehingga tidak lagi sesuai dengan karakteristik yang dirancang pabrikan.

Kondisi ini berpotensi membuat pembakaran kurang sempurna, suara mesin lebih kasar, akselerasi menurun, serta meningkatkan pembentukan deposit karbon pada ruang bakar dan injektor.

Pakar konversi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, sebelumnya mengingatkan bahwa pencampuran B50 dengan Dexlite tidak memberikan keuntungan signifikan dari sisi performa maupun efisiensi konsumsi bahan bakar.

Menurutnya, pengguna justru perlu memberikan perhatian lebih pada perawatan sistem bahan bakar karena karakteristik B50 yang lebih mudah menyerap air dan mengikat kotoran.

Dari sisi ekonomi, potensi kerugian akibat kerusakan komponen jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang diharapkan dari pencampuran bahan bakar. Kerusakan injektor, pompa bahan bakar tekanan tinggi, hingga sistem common rail dapat menimbulkan biaya perbaikan mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.

Karena itu, pemilik kendaraan diesel disarankan mengikuti spesifikasi bahan bakar yang direkomendasikan pabrikan. Penggunaan satu jenis bahan bakar yang sesuai serta perawatan berkala pada filter dan sistem injeksi menjadi langkah penting untuk menjaga performa kendaraan sekaligus memperpanjang usia mesin.

Di tengah era baru penggunaan B50, pemahaman terhadap karakteristik bahan bakar menjadi kunci agar manfaat program transisi energi dapat dirasakan tanpa mengorbankan keandalan kendaraan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online