FBI Sita 600+ Drone di Piala Dunia 2026, Miami Jadi Kota Terbanyak

Jumali
Jumali Selasa, 07 Juli 2026 19:27 WIB
FBI Sita 600+ Drone di Piala Dunia 2026, Miami Jadi Kota Terbanyak

Foto ilustrasi drone. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pengamanan ketat yang diterapkan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko berhasil mengungkap pelanggaran besar-besaran di ruang udara. Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan telah menyita lebih dari 600 drone di 11 kota tuan rumah di AS sejak turnamen dimulai, meningkat drastis dari sekitar 15 drone yang disita pada pertengahan Juni lalu.

Meskipun peringatan telah disampaikan sejak jauh hari, pelanggaran tetap terjadi dalam jumlah besar. AP mengungkapkan, para operator drone yang melanggar pembatasan penerbangan sementara (temporary flight restriction/TFR) terancam denda hingga US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,63 miliar, serta berpotensi menghadapi tuntutan pidana berdasarkan hukum federal AS.

FBI Kerahkan Sistem Antidrone di Seluruh Lokasi

FBI menyatakan telah mengerahkan sistem pendeteksi sekaligus penangkal drone di seluruh fasilitas yang berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pengamanan terpadu yang melibatkan berbagai lembaga federal dan aparat penegak hukum di kota-kota tuan rumah. "Melindungi ruang udara di atas lokasi kegiatan Piala Dunia sama pentingnya seperti melindungi darat," demikian pernyataan FBI.

Sebelumnya, pada akhir Mei 2026, Dinas Penerbangan Federal AS (FAA) mengumumkan pemberlakuan pembatasan penerbangan sementara di sekitar stadion dan kawasan yang diperkirakan menjadi titik berkumpulnya suporter. Kebijakan tersebut diterapkan bersama Departemen Keamanan Dalam Negeri serta Departemen Kehakiman AS.

Miami Jadi Kota dengan Pelanggaran Tertinggi

Miami menjadi kota dengan jumlah penyitaan tertinggi, yakni sebanyak 99 drone, diikuti Los Angeles dengan 91 drone, Dallas 78 drone, dan Atlanta 77 drone. Kansas City mencatat 61 penyitaan, sementara Seattle menyumbang 52 drone, San Francisco 48 drone, Boston 44 drone, wilayah New York/New Jersey 38 drone, Philadelphia 29 drone, dan Houston 24 drone. Tingginya angka pelanggaran menunjukkan masih banyak operator drone yang mengabaikan aturan meski pembatasan telah diumumkan secara luas.

Teknologi Canggih dan Zona Larangan Terbang

FBI mengoperasikan berbagai teknologi canggih di sekitar stadion maupun kawasan festival suporter, termasuk deteksi frekuensi radio (RF), pemantauan radar, hingga tim khusus counter drone enforcement. FAA menetapkan zona larangan terbang sementara dengan radius tiga mil laut (sekitar 5,6 km) dari stadion hingga ketinggian 3.000 kaki selama pertandingan berlangsung, serta zona pembatasan lebih ketat di sekitar area festival suporter.

Dampak pada Regulasi Drone di Masa Depan

Besarnya jumlah penyitaan drone selama Piala Dunia 2026 memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan regulasi penggunaan drone sipil di AS. Lebih dari 600 pelanggaran dalam satu turnamen dinilai menjadi salah satu operasi penegakan hukum terbesar sepanjang sejarah FAA dan berpotensi mengubah pendekatan regulator. Data ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperketat aturan menjelang Olimpiade Los Angeles 2028, termasuk memperluas zona larangan terbang dan memperkuat penerapan sistem Remote ID.

Gelombang pelanggaran ini diperkirakan akan menjadi bahan evaluasi penting bagi regulator dalam memperkuat penegakan aturan di masa mendatang, sekaligus memberi alasan lebih kuat bagi penerapan kebijakan yang lebih ketat terhadap penggunaan drone pada berbagai acara berskala internasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online