AI Makin Canggih, Pakar Tegaskan Peran Jurnalis Tetap Tak Tergantikan

Sunartono
Sunartono Selasa, 07 Juli 2026 18:47 WIB
AI Makin Canggih, Pakar Tegaskan Peran Jurnalis Tetap Tak Tergantikan

Pakar UII Teduh Dirgahayu menegaskan AI membantu kerja jurnalistik, tetapi tidak dapat menggantikan peran wartawan dalam verifikasi dan keputusan editorial. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus meluas, termasuk di industri media. Teknologi ini dinilai mampu mempercepat berbagai proses kerja jurnalistik, mulai dari riset hingga penyuntingan. Namun, di balik kemampuannya yang terus berkembang, AI tetap tidak dapat mengambil alih fungsi utama seorang wartawan dalam menghasilkan karya jurnalistik yang kredibel.

Pandangan tersebut disampaikan Pakar IT Universitas Islam Indonesia (UII), Raden Teduh Dirgahayu, saat menjadi narasumber dalam pelatihan bertajuk Pemanfaatan AI untuk Meningkatkan Keterampilan Praktis Wartawan, Selasa (7/7/2026). Kegiatan itu dirancang untuk memperkuat kemampuan jurnalis memanfaatkan AI dalam proses produksi berita sekaligus memahami batas-batas etika penggunaan teknologi tersebut.

"AI adalah alat yang sangat canggih. Seperti kamera yang canggih, ia tidak membuat foto menjadi jurnalistik. Wartawanlah yang melakukannya," ujar Teduh di hadapan para peserta pelatihan.

AI Hadir sebagai Alat, Bukan Pengganti Wartawan

Teduh menjelaskan, AI merupakan teknologi berbasis algoritma yang dilatih menggunakan jutaan data untuk mengenali pola dan menghasilkan keluaran baru tanpa harus diprogram secara rinci satu per satu. Menurutnya, perkembangan AI saat ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda.

AI Tradisional

Jenis ini dirancang untuk menjalankan satu fungsi tertentu, seperti spam filter, autocorrect, maupun sistem rekomendasi yang banyak digunakan dalam aplikasi digital.

AI Generatif

Kategori berikutnya adalah AI generatif yang mampu menciptakan berbagai bentuk konten baru berdasarkan instruksi atau prompt dari pengguna.

Beberapa contoh yang disebut Teduh meliputi ChatGPT, Google Gemini, Midjourney, dan Whisper.

AI Agentik

Pada level yang lebih maju terdapat AI agentik yang memiliki kemampuan bekerja secara lebih mandiri. Teknologi ini dapat merencanakan sekaligus mengeksekusi berbagai tugas, mulai dari melakukan riset, menyusun tulisan, hingga mengirim surat elektronik tanpa banyak intervensi pengguna.

Membantu Setiap Tahapan Produksi Berita

Dalam praktik jurnalistik, Teduh menilai AI dapat dimanfaatkan hampir di seluruh alur kerja redaksi apabila digunakan secara bertanggung jawab.

Pada tahap awal, AI dapat membantu wartawan mencari referensi awal dan membuat ringkasan dari dokumen yang panjang sehingga proses riset menjadi lebih efisien.

Setelah liputan selesai, AI juga mampu melakukan transkripsi otomatis dari rekaman suara menjadi teks, sehingga mempercepat proses pengolahan hasil wawancara.

Di tahap penulisan, teknologi tersebut dapat membantu menyusun draf pertama berdasarkan bahan mentah maupun hasil transkripsi dengan memanfaatkan prompt yang disusun secara rinci, termasuk menyesuaikan gaya selingkung masing-masing media.

Kemampuan AI juga dapat dimanfaatkan saat proses penyuntingan, seperti memperbaiki salah ketik (typo), memeriksa konsistensi penulisan, hingga menyederhanakan kalimat agar lebih mudah dipahami pembaca.

Tidak hanya itu, AI dinilai mampu mendukung distribusi konten melalui pembuatan judul yang lebih ramah SEO, menyusun caption media sosial, hingga menerjemahkan artikel ke berbagai bahasa.

Dalam proses verifikasi, AI juga bisa digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan pengecekan fakta awal, mendeteksi deepfake, serta membantu proses konfirmasi sumber informasi.

Verifikasi dan Kepercayaan Tetap Milik Jurnalis

Meski memiliki banyak fungsi, Teduh mengingatkan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan yang tidak dapat diabaikan. Menurutnya, AI tidak mampu memverifikasi fakta secara mandiri, tidak memahami konteks lokal secara utuh, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban ketika menghasilkan informasi yang keliru atau mengalami fenomena hallucination.

"AI tidak bisa menghasilkan eksklusivitas. Sumber berita, hubungan emosional, dan kepercayaan masyarakat tetap menjadi milik jurnalis," tegasnya.

Teduh menekankan bahwa kehadiran AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan dalam proses jurnalistik.

Ia mengingatkan wartawan tetap memegang tiga fungsi utama yang tidak dapat digantikan teknologi, yakni sebagai Penilai yang menentukan kelayakan sebuah isu untuk diberitakan, Verifikator yang memastikan setiap informasi akurat sebelum dipublikasikan, serta Pencerita yang mampu memberi konteks, makna, dan nilai kemanusiaan pada setiap fakta.

"Seluruh keputusan editorial tetap harus berada di tangan jurnalis, sementara AI berfungsi sebagai pendukung untuk meningkatkan efisiensi kerja tanpa mengurangi kualitas maupun integritas pemberitaan," ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online