Samsung Geser Apple di Tengah Krisis Chip

Jumali
Jumali Selasa, 14 Juli 2026 11:07 WIB
Samsung Geser Apple di Tengah Krisis Chip

Samsung Galaxy M13 - Phone Arena

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan industri smartphone global memasuki babak baru pada kuartal II 2026. Di tengah krisis pasokan chip memori yang menekan pasar dunia, Samsung berhasil kembali menduduki posisi sebagai vendor smartphone terbesar berdasarkan jumlah pengiriman perangkat.

Laporan terbaru Counterpoint Research menunjukkan Samsung menguasai 24 persen pangsa pasar smartphone global sepanjang April hingga Juni 2026. Angka tersebut meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di level 20 persen.

Keberhasilan Samsung terjadi saat industri smartphone sedang menghadapi tekanan berat. Counterpoint mencatat pengiriman smartphone global turun 11 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam untuk periode kuartal kedua sejak 2013.

Di tengah perlambatan pasar, Samsung justru menjadi satu-satunya vendor besar yang mampu mencatat pertumbuhan pengiriman paling kuat dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Counterpoint, tingginya minat konsumen terhadap seri Galaxy S26 menjadi salah satu faktor utama. Model Galaxy S26 Ultra mendapat respons positif berkat berbagai fitur kecerdasan buatan (AI) serta teknologi Privacy Display yang menjadi daya tarik baru di segmen premium.

Selain itu, Samsung dinilai berhasil menjaga stabilitas pasokan produk ketika banyak kompetitor mengalami tekanan akibat mahalnya komponen memori. Strategi promosi yang agresif di sejumlah pasar penting seperti India dan Timur Tengah juga ikut mendongkrak performa perusahaan asal Korea Selatan tersebut.

Di posisi kedua terdapat Apple dengan pangsa pasar global sebesar 20 persen. Angka itu naik dibandingkan 17 persen pada periode yang sama tahun lalu dan menjadi pencapaian pangsa pasar kuartal kedua terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Pengiriman iPhone juga tumbuh sekitar 3 persen secara tahunan. Pendorong utamanya berasal dari tingginya permintaan terhadap seri iPhone 17 yang menjadi smartphone dengan volume pengiriman terbesar secara global selama kuartal tersebut.

Apple juga menjadi satu-satunya vendor besar yang tidak menaikkan harga produknya sepanjang kuartal II 2026. Namun memasuki Juli, perusahaan mulai melakukan penyesuaian harga di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan kenaikan yang dalam beberapa model mencapai jutaan rupiah.

Sementara itu, tiga vendor asal China masih melengkapi posisi lima besar dunia.

Xiaomi menempati peringkat ketiga dengan pangsa pasar 12 persen. Oppo berada di posisi keempat dengan 11 persen, sedangkan Vivo menguasai 8 persen pasar global.

Meski tetap bertahan di jajaran teratas, ketiga merek tersebut menjadi kelompok yang paling terdampak krisis memori global. Pengiriman perangkat mereka tercatat turun dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Counterpoint menjelaskan bahwa Xiaomi, Oppo, dan Vivo memiliki portofolio yang kuat di segmen entry-level hingga menengah. Segmen ini menjadi yang paling rentan terhadap kenaikan biaya produksi akibat mahalnya komponen DRAM dan NAND yang digunakan dalam smartphone.

Akibat tekanan harga tersebut, banyak konsumen memilih menunda pembelian perangkat baru, membeli model generasi sebelumnya, atau memperpanjang masa penggunaan ponsel yang sudah dimiliki.

Meski menghadapi tekanan, Xiaomi masih mampu mempertahankan pangsa pasarnya melalui penyederhanaan lini produk serta kebijakan pembiayaan yang lebih fleksibel bagi jaringan ritel.

Di luar lima besar, Counterpoint mencatat Google dan Huawei sebagai dua vendor dengan pertumbuhan tercepat selama kuartal II 2026.

Pengiriman smartphone Google meningkat 16 persen dibandingkan tahun lalu berkat performa seri Pixel 10 dan Pixel 10a. Sementara Huawei tumbuh 6 persen didorong oleh penjualan seri Mate 80, Nova 15, dan Enjoy 90.

Ke depan, Counterpoint memperkirakan tekanan terhadap industri smartphone belum akan mereda. Krisis pasokan chip memori DRAM dan NAND diprediksi masih berlanjut hingga 2027.

Situasi tersebut membuat banyak produsen diperkirakan akan lebih fokus menjual perangkat premium yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi dan mengurangi produksi model murah dengan keuntungan tipis.

Bagi konsumen, kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa harga smartphone, khususnya di segmen entry-level dan menengah, berpotensi terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online