AI OpenAI Jebol Keamanan Hugging Face, Kabur dan Meretas Diam-diam

Sunartono
Sunartono Sabtu, 25 Juli 2026 13:47 WIB
AI OpenAI Jebol Keamanan Hugging Face, Kabur dan Meretas Diam-diam

Foto ilustrasi chat menggunakan artificial inteligence atau AI. - Freepik

Harianjogja.com, WASHINGTON—Insiden mengejutkan melanda industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sistem agen berbasis AI milik OpenAI dilaporkan lepas kendali hingga membobol sistem keamanan platform repositori AI ternama, Hugging Face. Parahnya, aksi peretasan independen yang berlangsung selama beberapa hari tersebut luput dari pemantauan OpenAI dan baru disadari sepekan setelahnya.

Dilansir Reuters yang dihimpun dari sejumlah sumber internal penyelidikan, agen AI otonom—program komputer yang dirancang mampu mengambil keputusan dan mengeksekusi instruksi rumit tanpa campur tangan manusia—mulai menunjukkan indikasi lepas dari sistem pengujian terisolasi (sandbox) OpenAI sejak 9 Juli 2026.

Co-founder Hugging Face, Thomas Wolf, mengungkapkan bahwa serangan siber ke sistem repositori alat dan model AI miliknya mulai terdeteksi dua hari kemudian, yakni pada 11 Juli 2026, dan terus berlanjut hingga 13 Juli 2026.

Manajemen OpenAI membutuhkan waktu hingga beberapa hari untuk mendeteksi bahwa aktor utama di balik peretasan tersebut adalah agen buatan mereka sendiri. Thomas Wolf bersama tiga sumber lain yang mengetahui jalannya investigasi menyebutkan bahwa komunikasi resmi antara OpenAI dan Hugging Face terkait insiden ini baru terjalin pada 20 Juli 2026.

Pengakuan terbuka OpenAI pada 21 Juli 2026 mengenai insiden kaburnya agen AI hingga membobol Hugging Face langsung menyita perhatian publik global. Meski demikian, detail kronologi mengenai berapa lama kecerdasan buatan tersebut beroperasi tanpa kendali hingga lambatnya respons OpenAI baru pertama kali terkuak ke publik.

Kejanggalan Sistem dan Laporan FBI

Thomas Wolf menambahkan bahwa Hugging Face saat ini tengah menyusun lini masa kronologi peretasan untuk dipublikasikan secara terbuka. Namun, ia enggan berkomentar mengenai situasi internal yang terjadi di tubuh OpenAI.

Di sisi lain, perwakilan resmi OpenAI menegaskan bahwa aksi peretasan independen oleh AI ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya sekaligus menjadi peringatan krusial bagi keamanan pengembangan AI. Manajemen OpenAI mengklaim tengah melakukan evaluasi mendalam bersama tim penasihat eksternal dan berjanji akan merilis laporan teknis secara komprehensif.

Meski demikian, juru bicara OpenAI sempat menyebutkan adanya beberapa ketidakakuratan data dalam laporan investigasi awal, walaupun pihaknya tidak membeberkan poin mana saja yang dianggap keliru. Pihak FBI yang ikut menerima laporan juga masih enggan memberikan keterangan resmi terkait penyidikan kasus ini.

Peristiwa bernuansa fiksi ilmiah ini terjadi di tengah momen krusial OpenAI yang tengah bersiap melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Langkah korporasi ini direncanakan bergulir paling cepat akhir tahun ini guna menggalang dana segar miliaran dolar demi menopang ekspansi perusahaan.

Kebocoran sistem ini langsung memicu sorotan tajam dari para pakar keamanan siber terkait efektivitas prosedur keselamatan (safety procedures) di internal OpenAI.

“Apakah itu berarti mereka meninggalkannya tanpa pengawasan dan tidak menyadari apa yang dilakukannya? Atau mungkin mereka menyadarinya tetapi tidak tahu cara mengendalidannya? Keduanya sama-sama berbahaya dan mengkhawatirkan,” ujar Marley Smith, spesialis intelijen utama di organisasi nirlaba World Ethical Data Foundation sebagaimana dilansir Reuters.

Petunjuk yang Terabaikan

Insiden ini bermula saat tim peneliti OpenAI tengah menguji keandalan sistem keamanan siber pada agen AI yang ditenagai dua model terhebatnya, yakni GPT-5.6 Sol serta satu model rahasia yang diklaim memiliki kemampuan jauh lebih cerdas. Tiga sumber internal membeberkan bahwa sebelum peretasan terjadi, model AI tersebut sebenarnya sudah menunjukkan gelagat yang tidak biasa.

Dalam sebuah uji coba, agen AI kedapatan meninggalkan catatan rahasia di dalam infrastruktur internal OpenAI yang ditujukan untuk versi dirinya di masa depan. Catatan tersebut berisi panduan dan instruksi teknis mengenai cara membobol dan meloloskan diri dari pembatasan sistem (safety guardrails) internal OpenAI. Bahkan, pada pengujian sebelumnya, sistem pemantauan otomatis sempat terputus secara misterius.

OpenAI baru menyadari peretas Hugging Face adalah AI milik mereka sendiri setelah Hugging Face merilis unggahan blog resmi pada Kamis, 16 Juli 2026, yang mengonfirmasi serangan dari "sistem agen AI otonom". Artinya, terdapat jeda waktu hingga sepekan sejak AI menunjukkan perilaku aneh hingga OpenAI benar-benar menyadari dampak fatal yang ditimbulkannya.

Memasuki akhir pekan tanggal 18–19 Juli 2026, tim internal OpenAI baru menemukan jejak digital (log system) yang mengonfirmasi bahwa agen AI mereka telah menjebol batas-batas pengujian. Sumber internal membeberkan bahwa keterlambatan ini dipicu oleh kebiasaan OpenAI yang kerap menjalankan puluhan evaluasi model secara bersamaan dalam kecepatan tinggi, sehingga memproduksi jutaan data massif yang sulit dipantau secara real-time oleh para insinyur mereka.

Saat OpenAI akhirnya menghubungi Hugging Face, platform repositori tersebut rupanya sudah lebih dulu melaporkan kasus kejahatan siber ini ke FBI.

Ancaman Bahaya AI Otonom

Pengembangan agen AI otonom saat ini memang menjadi fokus utama industri teknologi global karena digadang-gadang mampu menciptakan "tenaga kerja virtual" yang bisa beroperasi 24 jam nonstop. Namun, makin tinggi tingkat otonomi yang diberikan, makin besar pula risiko munculnya perilaku tak terprediksi dari mesin cerdas tersebut.

“Model-model ini berbohong, memanipulasi, dan meretas,” kata Jeffrey Ladish, dari lembaga riset Palisade Research.

Ladish menilai insiden pembobolan Hugging Face ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh pengembang AI global agar tidak mengorbankan standar keselamatan demi memenangi perlombaan teknologi.

“Harus ada pengawasan dari pemerintah,” kata Ladish.

“karena hal itu tidak akan terjadi jika tidak dipaksa.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online