Mau Lari atau Bersepeda di UGM? Simak Ketentuan Olahraga Terbaru
UGM mengatur waktu dan lokasi olahraga di kawasan kampus. Simak jadwal hari kerja, fasilitas akhir pekan, serta area yang diprioritaskan untuk kegiatan akademik
Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—CEO Microsoft, Satya Nadella, memberikan peringatan keras kepada perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam menjalankan bisnisnya. Menurutnya, sebuah perusahaan berpotensi hancur jika membagikan terlalu banyak informasi sensitif kepada model AI.
Ia menegaskan bahwa pelaku bisnis seharusnya lebih waspada terhadap data maupun instruksi (prompt) yang mereka bagikan ke sistem AI.
"Menurut saya, perusahaan mana pun yang tidak memiliki kendali penuh atas datanya tidak akan bertahan lama. Sebab, pada dasarnya Anda telah mengalihdayakan (outsource) proses berpikir perusahaan Anda," kata Nadella, dikutip dari Futurism, Jumat (31/7/2026).
Ia merekomendasikan agar perusahaan menyimpan seluruh data terkait cara karyawan mereka menggunakan alat-alat AI. Dengan begitu, perusahaan pada akhirnya dapat melatih atau menyempurnakan model AI berjenis open-weight milik mereka sendiri.
Selain itu, Nadella mengimbau perusahaan untuk mulai meninggalkan alat-alat AI berbasis agen (agentic AI) yang bersifat sumber tertutup (closed-source). Sebagai gantinya, ia menyarankan penggunaan platform AI khusus yang dapat mengintegrasikan berbagai jenis model AI, seperti platform yang lebih terjangkau dan bersifat open-source.
"Dengan memisahkan kerangka kerja (framework) dari model, serta memisahkan konteks dan memori dari model tersebut, Anda dapat menggunakan berbagai model AI sesuai keunggulannya masing-masing," jelasnya.
"Pada saat yang sama, model mana pun dapat diganti atau dihapus, sehingga Anda tetap memegang kendali atas arah dan masa depan bisnis Anda sendiri," tambah Nadella.
Meskipun Microsoft berada di garda terdepan dalam perlombaan pengembangan AI bersama banyak raksasa teknologi lain, Nadella memang tergolong rajin menyuarakan kekhawatiran terkait dampak buruk teknologi tersebut.
Sebelumnya, ia juga sempat mengingatkan bahwa para pengguna AI tanpa sadar bisa saja "membayar dua kali" atas penggunaan teknologi ini-bukan hanya dengan uang untuk membeli token, melainkan juga dengan data berharga mereka.
"Pada dasarnya Anda membayar dua kali: sekali dengan uang, dan sekali lagi dengan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu pengetahuan eksklusif perusahaan agar kecerdasan AI tersebut dapat bermanfaat," ungkap Nadella dalam sebuah unggahan blog, dikutip dari TechCrunch.
Bahkan, biaya yang harus "dibayar" perusahaan akan makin tinggi seiring meningkatnya kebutuhan performa AI tersebut.
"Makin tinggi kinerja yang Anda harapkan dari model AI tersebut, makin banyak pula pengetahuan internal yang harus Anda serahkan kepadanya," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM mengatur waktu dan lokasi olahraga di kawasan kampus. Simak jadwal hari kerja, fasilitas akhir pekan, serta area yang diprioritaskan untuk kegiatan akademik
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 20 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal tiap stasiun hingga Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 20 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta 2026 diikuti 1.294 atlet. Satoru Mochizuki melihat peluang lahirnya bibit timnas dari turnamen usia dini.
Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 dan akan start dari posisi ke-19 Moto3 Austria 2026. Brian Uriarte merebut pole position dari David Almansa.
Etomidate merupakan obat anestesi yang disalahgunakan dalam vape. Kenali fungsi medis, status hukumnya di Indonesia, dan risiko kesehatannya.