Claude Dipakai Peretas Rusia untuk Serang Ukraina dan Eropa

Jumali
Jumali Sabtu, 12 September 2026 18:47 WIB
Claude Dipakai Peretas Rusia untuk Serang Ukraina dan Eropa

Foto ilustrasi pereta/hacker. - Freepik


Harianjogja.com, JOGJA— Kecerdasan buatan (AI) Claude dilaporkan dimanfaatkan kelompok peretas yang dikaitkan dengan Rusia untuk menjalankan operasi spionase siber terhadap target di Ukraina dan sejumlah negara Eropa. Anthropic menyebut penggunaan AI tersebut telah membuat sebagian besar tahapan operasi dapat diotomatisasi.

Dalam laporan berjudul Detecting and Countering Misuse of AI: September 2026, Anthropic mengidentifikasi aktor tersebut sebagai GTG-20006. Atribusi perusahaan konsisten dengan laporan publik yang mengaitkan kelompok itu dengan Midnight Blizzard, kelompok spionase siber yang juga dikenal sebagai APT29.

Operasi tersebut berlangsung dari Desember 2025 hingga Agustus 2026. Anthropic menyebut para pelaku menyerang target militer dan intelijen di pemerintahan Ukraina dan Eropa, organisasi diplomatik serta pertahanan, hingga individu yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Ukraina menjadi salah satu fokus utama. Anthropic mencatat para pelaku secara berulang menargetkan pegawai pemerintah, militer, dan diplomatik Ukraina, termasuk dengan memindai layanan email serta sistem akses jarak jauh di lebih dari dua lusin organisasi pemerintah Ukraina.

Teknologi drone juga menjadi sasaran penting dalam operasi tersebut. Para pelaku tidak hanya membidik produsen drone, tetapi juga perusahaan yang berada dalam rantai pasok teknologi tersebut.

Claude Dipakai di Berbagai Tahap Operasi

Menurut Anthropic, Claude digunakan untuk mempercepat berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keterlibatan manusia secara langsung. AI tersebut membantu pelaku dalam pengintaian target, pengumpulan informasi, persiapan infrastruktur phishing, pencurian kredensial, hingga pengambilan data dari sistem yang berhasil ditembus.

Penggunaan Claude juga membantu pelaku menghadapi sistem keamanan. Ketika perangkat lunak berbahaya mereka terdeteksi, AI digunakan untuk menganalisis penyebab deteksi dan membantu melakukan perubahan terhadap program tersebut sebelum digunakan kembali.

Anthropic menilai perkembangan ini menunjukkan perubahan dalam pola operasi spionase siber. Jika sebelumnya pelaku harus membuat perangkat khusus dan mengulang proses ketika alat mereka terdeteksi, penggunaan AI memungkinkan proses tersebut dilakukan dengan lebih cepat.

Rantai Pasok Drone Ikut Dibidik

Salah satu sasaran yang paling menonjol adalah teknologi drone dan perusahaan yang memasok komponennya. Anthropic menyebut pelaku mengambil isi kotak masuk email milik sedikitnya dua produsen komponen drone, menyerang produsen drone militer, serta mencuri perangkat pengembangan perangkat lunak milik perusahaan yang digunakan untuk sistem penglihatan drone.

Perangkat lunak yang dicuri kemudian dianalisis selama beberapa hari. Dari proses tersebut, pelaku berupaya mendapatkan gambaran mengenai arsitektur produk, komponen perangkat keras, ketergantungan pemasok, hingga informasi mengenai produk yang belum diumumkan.

Ketertarikan tersebut menunjukkan bahwa operasi tidak hanya diarahkan untuk mendapatkan data pemerintah, tetapi juga menyasar teknologi yang berkaitan dengan kemampuan drone dan sistem penglihatan berbasis AI. Anthropic menyebut firmware untuk pengendalian drone militer dan teknologi penglihatan berbasis AI termasuk hal yang menjadi perhatian pelaku.

Hotel Wi-Fi Jadi Jalur Menuju Target

Para pelaku juga menggunakan pendekatan tidak langsung untuk menjangkau sasaran tertentu. Anthropic menemukan sedikitnya tiga penyedia layanan Wi-Fi hotel telah dikompromikan dalam operasi tersebut.

Melalui akses yang diperoleh dari penyedia layanan, pelaku mengubah pengaturan DNS sehingga perangkat tamu yang tersambung ke jaringan hotel dapat diarahkan ke layanan yang berada di bawah kendali mereka. Informasi mengenai perangkat dan koneksi tamu kemudian dapat digunakan untuk menentukan target berikutnya.

Anthropic menyebut perangkat berbasis Windows, Android, dan iOS kemudian menjadi sasaran distribusi malware melalui skema tersebut. Data tamu yang diperoleh dari sistem pengelola hotel juga dikombinasikan dengan informasi dari perangkat korban untuk menentukan sasaran lanjutan, terutama individu yang berkaitan dengan Ukraina, termasuk pejabat pemerintah dan produsen drone.

Akun WhatsApp Korban Turut Diambil Alih

Operasi tersebut juga menyasar komunikasi pribadi. Anthropic menyebut para pelaku mengambil alih sejumlah akun WhatsApp milik korban dengan memanfaatkan peramban tanpa antarmuka grafis untuk menghubungkan akun korban sebagai perangkat pendamping.

Dengan cara tersebut, pelaku dapat mengambil percakapan dalam jumlah besar, termasuk komunikasi berbahasa Rusia dan Ukraina. Sedikitnya dua mantan pejabat tinggi Ukraina disebut menjadi target dalam aktivitas tersebut.

Laporan Anthropic menjadi gambaran terbaru mengenai perubahan penggunaan AI dalam spionase siber. Perusahaan tersebut menyatakan operasi yang ditemukan antara Desember 2025 dan Agustus 2026 merupakan contoh penyalahgunaan yang menonjol dan baru, lalu akun yang terlibat diblokir serta informasi ancaman dibagikan kepada pihak berwenang dan mitra industri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online