Permintaan iPhone Meledak, Apple Mengaku Kewalahan
Apple kewalahan hadapi lonjakan permintaan iPhone di kuartal III 2026. Tim Cook akui pasokan tak cukup. Simak dampaknya bagi konsumen
Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan industri kecerdasan buatan (AI) global semakin memanas. OpenAI mengumumkan pemangkasan harga besar-besaran untuk dua model andalannya, GPT-5.6 Luna dan GPT-5.6 Terra, sebagai upaya mempertahankan daya saing di tengah gempuran model AI murah dari China.
Kebijakan tersebut diumumkan CEO OpenAI Sam Altman pada Kamis (30/7/2026). Model GPT-5.6 Luna mendapatkan pemotongan harga paling signifikan, mencapai 80 persen, sedangkan GPT-5.6 Terra dipangkas sekitar 20 persen.
Langkah ini membuat Luna menjadi salah satu model AI dengan rasio kemampuan terhadap biaya yang paling kompetitif di pasar. OpenAI berharap strategi tersebut dapat memperluas adopsi layanan AI di kalangan perusahaan yang kini semakin sensitif terhadap biaya operasional teknologi.
Berdasarkan skema harga terbaru, biaya input GPT-5.6 Luna turun dari US$1 menjadi US$0,20 per satu juta token. Sementara biaya output berkurang dari US$6 menjadi US$1,20 per satu juta token. Untuk GPT-5.6 Terra, biaya input turun dari US$2,50 menjadi US$2, sedangkan biaya output turun dari US$15 menjadi US$12 per satu juta token.
Adapun model unggulan GPT-5.6 Sol tidak mengalami perubahan harga. Namun OpenAI memperkenalkan opsi layanan “Fast” yang memungkinkan kecepatan pemrosesan hingga 2,5 kali lebih cepat dibanding mode standar dengan biaya sekitar dua kali lebih tinggi.
Sebelumnya, saat diperkenalkan ke publik, GPT-5.6 Luna dibanderol US$1 untuk input dan US$6 untuk output per satu juta token. Sementara Terra dipasarkan dengan tarif US$2,50 dan US$15.
OpenAI menyatakan penurunan harga dimungkinkan karena peningkatan efisiensi teknologi yang dicapai selama pengembangan GPT-5.6. Perusahaan mengklaim model terbaru mampu menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan kebutuhan komputasi yang lebih rendah sehingga biaya operasional dapat ditekan.
Menurut OpenAI, efisiensi tersebut berasal dari peningkatan kemampuan model dalam pengoptimalan kode dan proses internal yang lebih hemat sumber daya. Hasilnya, biaya operasional perusahaan dapat ditekan sekaligus memungkinkan harga layanan menjadi lebih murah bagi pelanggan.
Persaingan dengan Model AI China
Penyesuaian harga ini tidak lepas dari meningkatnya tekanan kompetitif dari perusahaan AI China. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah perusahaan Amerika Serikat mulai melirik model AI asal China karena menawarkan kemampuan yang kompetitif dengan biaya yang lebih rendah.
Model-model seperti DeepSeek, Z.ai, Moonshot AI, MiniMax, hingga Zhipu AI semakin banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari pengembangan perangkat lunak hingga otomatisasi layanan pelanggan. Kondisi tersebut memaksa perusahaan AI asal Amerika untuk semakin agresif dalam menetapkan strategi harga.
Kyle Chan, peneliti dari John L. Thornton China Center di Brookings Institution, menilai perusahaan kini jauh lebih berhitung dalam mengadopsi teknologi AI dibanding beberapa tahun lalu.
“Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS hanya memprioritaskan adopsi AI. Namun kini, mereka jauh lebih sadar akan biaya yang harus dikeluarkan,” ujarnya dikutip Reuters.
Data dari platform OpenRouter menunjukkan penggunaan token pada model AI China oleh perusahaan AS terus meningkat. Pangsa penggunaan bahkan dilaporkan melampaui 30 persen setiap pekan sejak Februari dan sempat menyentuh 46 persen, jauh di atas rata-rata historis sebelumnya.
Sorotan Politik di Amerika Serikat
Meningkatnya penggunaan model AI China juga memicu perhatian kalangan pembuat kebijakan di Washington. Beberapa komite di DPR Amerika Serikat dilaporkan mulai menelaah penggunaan teknologi AI China oleh perusahaan-perusahaan domestik karena dinilai berkaitan dengan isu keamanan nasional.
Kekhawatiran utama muncul karena model AI buatan China dianggap berpotensi membawa pengaruh kebijakan sensor dan nilai-nilai politik yang berbeda dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, sebagian pelaku industri menilai pembatasan penggunaan model AI asing justru dapat menghambat inovasi dan kompetisi.
CEO Nvidia Jensen Huang, misalnya, berpendapat perusahaan AS seharusnya tetap diberi keleluasaan menggunakan model AI China yang dinilai memiliki kualitas tinggi. Menurutnya, model open-source dapat memperluas pasar sekaligus memperkuat ekosistem keamanan siber global.
Peluang bagi Pelaku Usaha Indonesia
Perang harga yang terjadi di industri AI global berpotensi menguntungkan pelaku usaha di Indonesia. Biaya penggunaan model AI yang semakin murah memungkinkan perusahaan, startup, hingga UMKM mengakses teknologi yang sebelumnya hanya terjangkau bagi korporasi besar.
Namun demikian, aspek keamanan data, kepatuhan regulasi, lokasi penyimpanan data, hingga transparansi model tetap menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih platform AI tertentu.
Dengan semakin ketatnya persaingan antara perusahaan AI Amerika dan China, pengguna kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan kebutuhan teknologi dengan anggaran yang tersedia. Kondisi ini diperkirakan akan mempercepat adopsi AI di berbagai sektor bisnis dalam beberapa tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Apple kewalahan hadapi lonjakan permintaan iPhone di kuartal III 2026. Tim Cook akui pasokan tak cukup. Simak dampaknya bagi konsumen
Bantul Creative Expo 2026 resmi dibuka di Stadion Sultan Agung. Pemkab Bantul menargetkan transaksi UMKM Rp2,367 miliar dan kunjungan 110 ribu orang selama semb
Timnas Indonesia cetak delapan gol dalam dua laga. Mitchell Baker sumbang empat gol. Siap hadapi Vietnam di Pakansari, Senin (3/8).
Trisno, bassist legendaris PAS Band, meninggal dunia pada usia 55 tahun setelah menjalani perawatan akibat komplikasi penyakit. Musisi dan penggemar menyampaika
Kelemahan taktik Vietnam terbongkar jelang lawan Indonesia. Simak analisis pengamat dan peluang Garuda lolos semifinal Piala AFF 2026
Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menegaskan pembentukan mental calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan harus tetap mengutamakan budaya keselamatan dan manajemen