AI OpenAI dan Anthropic Diduga Dipakai Latih Sistem Militer China

Jumali
Jumali Rabu, 05 Agustus 2026 19:07 WIB
AI OpenAI dan Anthropic Diduga Dipakai Latih Sistem Militer China

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan teknologi kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan. Kali ini, perhatian tertuju pada dugaan pemanfaatan model AI buatan perusahaan teknologi Barat sebagai sumber pelatihan bagi sistem kecerdasan buatan yang dikembangkan institusi-institusi yang berafiliasi dengan militer China.

Temuan tersebut muncul dari investigasi Reuters yang menelaah lebih dari 80 makalah akademis dan dokumen paten. Sejumlah dokumen menunjukkan adanya penggunaan keluaran model AI dari OpenAI dan Anthropic sebagai data sintetis untuk melatih model kecerdasan buatan yang dikembangkan di dalam negeri.

Penelusuran Reuters juga mengacu pada materi penelitian yang dihimpun oleh Jamestown Foundation, lembaga riset yang berbasis di Washington, Amerika Serikat.

Di balik temuan tersebut terdapat teknik yang dikenal sebagai model distillation atau penyulingan model. Metode ini memungkinkan pengembang AI memanfaatkan jawaban atau keluaran dari model yang lebih canggih sebagai bahan pelatihan untuk membangun model baru yang lebih kecil, lebih murah, dan dapat dijalankan secara mandiri.

Apa Itu Model Distillation?

Dalam pengembangan AI modern, model distillation menjadi salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk menekan biaya dan kebutuhan komputasi.

Alih-alih membangun model besar dari awal yang memerlukan investasi miliaran dolar serta ribuan chip AI berperforma tinggi, pengembang dapat mengajukan berbagai pertanyaan kepada model yang sudah ada. Respons yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai data pelatihan untuk model baru.

Menurut peneliti Jamestown Foundation, Sunny Cheung, proses tersebut tidak sekadar menyalin jawaban dari model AI lain.

"Mengajarkan model jawaban yang benar adalah satu hal, namun mengajarkan alasan di balik jawaban tersebut jauh lebih sulit," kata Cheung.

Ia menilai sejumlah dokumen yang dianalisis menunjukkan adanya upaya untuk mentransfer kemampuan penalaran dari model AI Barat ke dalam sistem yang lebih kecil dan dapat dikendalikan secara lokal.

"Makalah-makalah ini menunjukkan para peneliti yang terkait dengan militer Tiongkok mencoba mentransfer penalaran yang mahal dan eksklusif dari model-model Barat ke dalam sistem yang lebih kecil yang dapat mereka kendalikan dan terapkan secara lokal," ujarnya.

Digunakan dalam Berbagai Riset Pertahanan

Sejumlah makalah akademis yang ditinjau Reuters memperlihatkan beragam kemungkinan penerapan teknologi tersebut dalam penelitian pertahanan.

Salah satunya berasal dari National University of Defense Technology (NUDT) pada 2024. Penelitian tersebut membahas penyederhanaan model pemrosesan gambar agar dapat dijalankan pada kendaraan udara nirawak atau drone.

Dengan model yang lebih ringan, drone disebut mampu memproses video secara langsung dan mengambil keputusan navigasi secara real time, termasuk ketika koneksi komunikasi terganggu.

Penelitian lain yang dilakukan Academy of Military Sciences China dilaporkan memanfaatkan pendekatan serupa untuk mengembangkan sistem pengenalan target dalam simulasi operasi maritim yang melibatkan kapal perang, drone, serta kapal selam tanpa awak.

Sementara itu, pada sektor siber, peneliti dari PLA Unit 96941 yang bergerak di bidang perang siber disebut menggunakan GPT-3.5 milik OpenAI untuk membantu merangkum kode sumber militer.

Ringkasan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pelatihan model AI lokal yang dirancang untuk beroperasi pada jaringan militer tertutup.

Tidak hanya OpenAI, model Claude 3 Haiku milik Anthropic juga disebut digunakan oleh peneliti dari North University of China untuk menghasilkan data sintetis dalam pengembangan sistem klasifikasi teks dan pemantauan konten.

Tantangan Baru dalam Persaingan AI Global

Temuan ini menunjukkan bahwa pembatasan ekspor chip dan GPU yang selama ini diterapkan Amerika Serikat mungkin tidak cukup untuk menghambat perkembangan AI di China.

Berbeda dengan pelatihan model besar yang membutuhkan infrastruktur komputasi sangat mahal, model distillation dapat dilakukan hanya dengan memanfaatkan akses ke API publik atau keluaran model AI yang tersedia.

Akibatnya, laboratorium AI yang mengembangkan model mutakhir harus mengeluarkan biaya sangat besar, sementara pihak lain dapat memanfaatkan hasil kemampuan model tersebut untuk melatih sistem yang lebih sederhana sesuai kebutuhan mereka.

Meski demikian, para ahli menilai model hasil distillation tetap memiliki keterbatasan dibanding model sumbernya. Kemampuan yang dimiliki umumnya lebih sempit, tidak memiliki cakupan penalaran seluas model asli, dan berpotensi kehilangan sejumlah fitur keselamatan yang telah diterapkan pada model awal.

Respons OpenAI, Anthropic, dan Pemerintah China

Menanggapi berbagai laporan tersebut, Anthropic menyatakan tidak menyediakan layanan komersialnya di China. Perusahaan itu juga mengaku menerapkan sistem pemantauan aktif untuk mendeteksi penyalahgunaan layanan maupun pelanggaran kebijakan penggunaan.

Anthropic menegaskan bahwa model hasil distillation berpotensi kehilangan berbagai mekanisme keamanan yang dirancang pada model aslinya.

Di sisi lain, sejumlah pejabat Amerika Serikat menilai praktik ekstraksi keluaran model AI tanpa izin dapat merugikan pemilik teknologi karena berkaitan dengan hak kekayaan intelektual sekaligus berpotensi mengurangi efektivitas kebijakan kontrol ekspor.

Sementara itu, Pemerintah China menolak berbagai tuduhan tersebut dan menilai pembatasan teknologi yang diterapkan Washington merupakan bentuk hegemonisme dalam pengembangan AI global.

Efektivitasnya Masih Belum Terbukti

Meski berbagai dokumen menunjukkan adanya penelitian yang memanfaatkan teknik model distillation, hingga saat ini belum ada bukti publik yang menunjukkan sistem AI tersebut telah digunakan secara aktif dalam operasi militer China.

Investigasi Reuters didasarkan pada makalah akademis dan dokumen paten yang menggambarkan arah penelitian serta tujuan pengembangannya.

Karena itu, efektivitas maupun tingkat implementasi teknologi AI hasil distillation dalam sistem pertahanan China masih belum dapat dipastikan.

Namun, temuan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan AI global kini tidak hanya berkaitan dengan perebutan chip dan pusat data, tetapi juga menyangkut bagaimana kemampuan model AI mutakhir dapat ditransfer, ditiru, dan dimanfaatkan untuk kepentingan strategis oleh berbagai negara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online