AI Makin Banyak Dipakai di Industri Gim, Kreator Belum Tergantikan

Prasetyo Agung Ginanjar
Prasetyo Agung Ginanjar Minggu, 30 Agustus 2026 22:37 WIB
AI Makin Banyak Dipakai di Industri Gim, Kreator Belum Tergantikan

Kecerdasan emosional. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri gim terus meningkat. Meski teknologi tersebut mampu mempercepat berbagai tahapan produksi, AI dinilai belum mampu menggantikan peran kreator karena hasil yang dihasilkan masih membutuhkan pemeriksaan dan penyempurnaan manusia.

Laporan AI and the Creative Industries dari LSE Growth Lab mencatat sekitar 36% pengembang gim telah menggunakan AI. Adapun hampir 90% perusahaan gim disebut sudah mengadopsi atau tengah dalam proses mengadopsi AI generatif.

Penggunaan AI generatif juga semakin luas di berbagai sektor industri kreatif. Laporan yang sama mencatat sebanyak 83% pengguna Adobe telah memanfaatkan AI generatif dalam pekerjaan mereka. Sementara itu, 71% pemasar menggunakannya setidaknya sekali dalam sepekan.

Di industri gim, teknologi AI digunakan untuk membantu berbagai kebutuhan, mulai dari riset, pencarian referensi, pemrograman, pengembangan konsep visual, musik, hingga pembuatan aset tiga dimensi.

AI COO Hoop Studio, Irhaz Wijaksana, mengatakan perusahaannya sejak awal menempatkan AI sebagai alat pendukung bagi kreator, bukan sebagai pengganti manusia.

"Kami melihat AI ini sebagai alat pendukung untuk membantu kami, anggaplah kalau dalam konteks pembuatan aset visual, itu untuk membantu menggambarkan ide yang kita punya," kata Irhaz.

AI Percepat Pengembangan Gim

Menurut Irhaz, salah satu manfaat utama artificial intelligence dalam pengembangan gim adalah mempercepat proses yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang.

AI dapat digunakan tim pengembang untuk melakukan riset awal dan mencari berbagai referensi yang dibutuhkan dalam proses kreatif. Teknologi tersebut juga dapat membantu memberikan gambaran awal terhadap konsep yang hendak dikembangkan.

Irhaz mencontohkan pengalaman tim ketika mengembangkan gim Mission Mancala. Dalam salah satu proses riset, tim membutuhkan lima cerita rakyat Nusantara sebagai referensi untuk kebutuhan permainan.

Jika pencarian dilakukan secara manual, proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Dengan bantuan AI, waktu pencarian dan pengumpulan referensi dapat dipangkas menjadi sekitar tiga hari.

Namun, hasil yang diberikan AI tidak langsung digunakan begitu saja. Tim tetap melakukan pemeriksaan untuk memastikan informasi yang diperoleh sesuai dengan fakta dan kebutuhan pengembangan gim.

Hal serupa berlaku pada penggunaan AI untuk membantu pemrograman. Kode yang dihasilkan teknologi tersebut masih berpotensi mengandung kesalahan sehingga harus diperiksa dan disesuaikan oleh pengembang.

"Jadi kita memang tidak bisa serta-merta langsung menggunakan hasil dari AI. Kita harus tetap punya kemampuan dasar untuk mengolahnya dan tahu apakah hasilnya benar atau tidak," ujar Irhaz.

AI Belum Bisa Gantikan Kreator Gim

Meskipun memiliki kemampuan memproses informasi dengan cepat, AI belum sepenuhnya mampu menggantikan kreator gim. Salah satu kendalanya adalah teknologi tersebut belum mampu memahami keseluruhan konsep permainan secara utuh.

Dalam pengembangan gim, sebuah konsep tidak hanya berkaitan dengan satu elemen, tetapi juga mencakup alur, pengalaman pemain, karakter, visual, mekanisme permainan, hingga keseluruhan identitas produk.

Irhaz mengatakan AI generatif juga masih memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk menghasilkan visual. Hasil yang dibuat terkadang belum terasa alami sehingga masih membutuhkan sentuhan dan keputusan dari tim kreatif.

"AI yang pertama tentu tidak bisa menghasilkan bigger picture yang solid. Karena dia pasti hanya akan membahas mengenai kulitnya," katanya.

Karena itu, pemanfaatan AI di industri gim saat ini lebih tepat dipandang sebagai teknologi pendukung yang membantu meningkatkan efisiensi kerja. Kreator tetap memiliki peran penting untuk menentukan arah, melakukan evaluasi, mengoreksi kesalahan, sekaligus memastikan hasil akhir sesuai dengan konsep yang telah dirancang.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa kehadiran AI generatif tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga kreatif di industri gim. Sebaliknya, kemampuan menggunakan AI sekaligus memahami proses kreatif menjadi kombinasi yang semakin penting bagi pengembang gim.

Dengan demikian, semakin luasnya penggunaan AI dalam industri gim lebih banyak mengubah cara kreator bekerja dibandingkan menggantikan keberadaan mereka sepenuhnya. Teknologi tersebut dapat mempercepat pekerjaan teknis dan pencarian referensi, sementara keputusan kreatif dan penyempurnaan akhir tetap berada di tangan manusia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online