Liga Champions 2026/27: Barcelona Menang Telak 5-1 atas Feyenoord
Barcelona mengawali Liga Champions 2026/27 dengan kemenangan 5-1 atas Feyenoord. Raphinha mencetak dua gol di Camp Nou.
Ilustrasi peretasan/Pixabay
Harianjogja.com, JAKARTA—Kemampuan artificial intelligence (AI) frontier membuat lanskap serangan siber berubah semakin cepat. Kehadiran model seperti Mythos dan GPT-5.5 Cyber membuat perusahaan yang menjadi korban serangan memiliki waktu yang makin pendek untuk menemukan celah keamanan yang telah berhasil ditembus peretas.
Perubahan tersebut terjadi karena AI kini tidak hanya digunakan untuk aktivitas defensif, tetapi juga semakin marak dimanfaatkan peretas dalam melakukan serangan. Model AI frontier generasi terbaru mampu mengerjakan tugas-tugas teknis tingkat lanjut, termasuk reverse engineering, penetration testing, hingga riset kerentanan secara otomatis.
Istilah post-Mythos merujuk pada periode setelah munculnya model AI frontier generasi terbaru seperti Mythos. Periode ini menandai lompatan kemampuan AI dalam menjalankan tugas teknis tingkat lanjut, termasuk aktivitas ofensif di bidang keamanan siber.
Head of Solutions Engineering F5 Indonesia, Danang Wijanarko, mengatakan perkembangan tersebut membuat pola serangan menjadi semakin sulit diantisipasi. Serangan dapat dilakukan secara bertubi-tubi dengan menyasar berbagai titik, termasuk bagian sistem yang paling lemah.
"Developer butuh waktu untuk patching. Selama waktu tunggu ini, sistem terbuka dan gampang ditembak, karena serangannya sudah diketahui lebih dulu oleh AI," ujarnya dalam Media Interview di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Lima Kesalahpahaman soal Keamanan Siber
Menurut Danang, perkembangan AI telah memangkas jarak antara waktu ditemukannya sebuah celah keamanan dan saat celah tersebut dieksploitasi.
Dia menyoroti lima kesalahpahaman yang masih dipegang banyak CISO pada era pasca-Mythos.
Pertama, masih ada anggapan bahwa SLA patch 30 hari merupakan jangka waktu yang aman. Padahal, kode eksploit dapat muncul hanya dalam hitungan jam setelah kerentanan diumumkan kepada publik.
Kedua, zero-day masih dianggap sebagai kejadian langka. Menurut Danang, AI frontier justru menurunkan biaya untuk menemukan eksploit baru sehingga ancaman tersebut perlu dipandang secara berbeda.
Ketiga, risiko dengan tingkat menengah sering kali ditunda untuk ditangani. Padahal, AI agent dapat merangkai celah-celah kecil tersebut hingga menghasilkan kompromi penuh terhadap sistem.
Kesalahpahaman keempat adalah menganggap visibilitas sama dengan keamanan. Dashboard memang memberikan visibilitas, tetapi tidak otomatis menghentikan eksploitasi. Karena itu, deteksi perlu terhubung langsung dengan penegakan otomatis.
Kelima, pengujian manual secara berkala dianggap masih cukup untuk menghadapi ancaman. Danang menilai pendekatan tersebut tidak mampu mengimbangi kecepatan reconnaissance yang berbasis AI.
Perlu Bedakan Serangan Manusia dan AI Agent
Selain kecepatan eksploitasi, Danang menekankan pentingnya mengetahui asal traffic yang menyerang sistem. Tim keamanan perlu membedakan apakah serangan berasal dari manusia atau AI agent.
"Ini sangat penting, kita harus tahu serangan ini dari manusia atau dari agent," tegasnya.
Menurut dia, pergeseran tersebut sudah terlihat dalam banyak kasus. Ratusan hingga ribuan permintaan terhadap sebuah aplikasi kini dapat berasal dari agent otomatis, bukan pengguna manusia.
Kondisi itu, lanjut Danang, menjadi perubahan yang wajib disadari oleh setiap tim keamanan. Identifikasi terhadap karakter traffic menjadi semakin penting ketika aktivitas otomatis dapat berlangsung dalam skala besar.
Lima Kapabilitas yang Ditawarkan F5
Menghadapi perubahan pola ancaman tersebut, F5 menawarkan lima kapabilitas untuk memperkuat perlindungan sistem.
Kapabilitas tersebut meliputi WAF bertenaga AI, proteksi aplikasi berbasis AI dan API, deteksi serta pemblokiran AI agent berbahaya, virtual patching, dan kontrol lalu lintas data masuk-keluar.
Salah satu kemampuan yang disoroti adalah virtual patching. Danang menjelaskan teknologi tersebut memungkinkan penutupan celah keamanan tanpa harus menunggu developer merilis patch resmi.
Virtual patching dilakukan melalui manipulasi data plane secara langsung di ekosistem proxy milik F5. Dengan pendekatan tersebut, perlindungan terhadap celah dapat dilakukan sebelum patch resmi dari developer tersedia.
Adopsi AI dan API Jadi Tantangan Indonesia
Danang menilai urgensi menghadapi ancaman tersebut semakin tinggi dalam konteks Indonesia. Adopsi AI dan API di sektor keuangan, kesehatan, dan pemerintahan berjalan lebih cepat dibanding kesiapan keamanannya.
Di sisi lain, anggaran keamanan siber nasional yang tipis serta kelangkaan talenta menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut membuat pendekatan patching manual dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman yang bergerak secepat mesin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Barcelona mengawali Liga Champions 2026/27 dengan kemenangan 5-1 atas Feyenoord. Raphinha mencetak dua gol di Camp Nou.
Dinsos DIY menyebut pemutakhiran DTSEN dilakukan terus-menerus karena perubahan kondisi warga dapat membuat pemeringkatan desil tidak relevan.
Banjir Nagoya sempat mengganggu latihan tim basket Indonesia. Taufik Hidayat memastikan NOC dan CdM mencari solusi.
Jelajah Edukasi Dasar ke-3 di Sleman membahas pendidikan yang memanusiakan, inovasi pembelajaran, perlindungan murid, dan masa depan pendidikan.
BMKG memprediksi kemarau di Jateng selatan, khususnya Cilacap, berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026 akibat El Nino sangat kuat.
Jembo Cable Bimasakti Racing Team Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di ajang internasionaL