Skill AI Saja Tak Cukup, Telkomsel Tekankan Etika Penggunaan

Newswire
Newswire Minggu, 06 September 2026 07:27 WIB
Skill AI Saja Tak Cukup, Telkomsel Tekankan Etika Penggunaan

Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Kemampuan menggunakan kecerdasan buatan (AI) kini semakin penting bagi anak muda yang ingin bertahan dan bersaing di tengah perubahan pasar kerja. Namun, Telkomsel menilai penguasaan teknologi seperti ChatGPT dan Claude harus berjalan beriringan dengan pemahaman etika.

Manager CSR Education and Public Community Development Telkomsel, Gumilar Henda Nugraha Ali, mengatakan kemampuan dasar menggunakan aplikasi AI generatif semestinya sudah menjadi bekal umum bagi generasi muda saat ini.

"Untuk kemampuan basic gen AI, sebetulnya harusnya semua orang sudah bisa, pake ChatGPT, Claude, dan juga OpenAI. Itu banyak yang memang sudah bisa. Sebetulnya penekanannya lebih justru tentang etika, etika menggunakan AI," ujar Gumilar yang ditemui di acara IndonesiaNEXT Summit, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Prompt Engineering hingga Agentic AI

Menurut Gumilar, penguasaan AI tidak berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi. Anak muda juga perlu memahami cara menyusun instruksi atau prompt engineering agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara lebih efektif.

Pelatihan AI, lanjut dia, kini juga mulai mengarah pada penguasaan agentic AI. Sistem tersebut memungkinkan AI menjalankan serangkaian tugas secara mandiri.

Meski demikian, kemampuan menguasai agentic AI tidak mudah dimiliki semua orang, terutama mereka yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan komputer. Karena itu, penerapannya disesuaikan dengan bidang dan peran masing-masing.

Talenta di bidang digital marketing dan programmer, misalnya, lebih banyak memanfaatkan agent AI sesuai kebutuhan pekerjaan mereka.

Sertifikasi Jadi Nilai Tambah

Selain kemampuan teknis, program IndonesiaNEXT juga memberikan pembuktian kompetensi melalui sertifikasi. Peserta yang masuk top 300 memperoleh sertifikasi SCRUM yang berkaitan dengan manajemen proyek.

Sementara itu, 24 peserta teratas mendapatkan sertifikasi tambahan sesuai dengan peran masing-masing, yakni prompt engineering untuk "hipster", IT/HTML untuk "hacker", dan digital marketing profesional untuk "hustler".

"Ini akan jadi value yang berbeda terhadap mahasiswa yang tidak mengikuti (IndonesiaNEXT). Bahkan ketika sekarang melamar kerja menggunakan sertifikasi, mereka lomba-lomba itu untuk mendapatkan sertifikat, nah itu salah satu kelebihan ikut program ini," tegas Gumilar.

Tahun ini, IndonesiaNEXT diikuti sekitar 8.900 peserta dari berbagai universitas. Jumlah tersebut kemudian disaring hingga menjadi 24 finalis yang memperoleh pembekalan secara intensif bersama para pakar industri.

Jembatan Kampus dan Dunia Kerja

Program IndonesiaNEXT dengan pembinaan secara berjenjang dan sertifikasi berdasarkan kebutuhan industri diarahkan menjadi penghubung antara dunia pendidikan dan pasar kerja.

Di tengah gelombang efisiensi yang terjadi di banyak industri, kompetensi AI menjadi salah satu nilai tambah bagi generasi muda. Namun, kemampuan tersebut tidak hanya dipandang sebagai keterampilan menggunakan alat berbasis AI.

Penguasaan AI juga ditempatkan sebagai bagian dari literasi digital yang lebih utuh, termasuk memahami etika ketika teknologi tersebut digunakan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online