Gen Z Angkat Telepon Tanpa Halo, Ternyata Ada Alasannya

Jumali
Jumali Senin, 14 September 2026 12:17 WIB
Gen Z Angkat Telepon Tanpa Halo, Ternyata Ada Alasannya

Foto ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Kebiasaan mengucapkan “halo” ketika mengangkat telepon perlahan berubah di kalangan generasi muda. Sebagian Gen Z kini memilih menjawab dengan “hai”, “apa kabar”, “ya?” atau bahkan tidak mengucapkan apa pun, terutama ketika panggilan berasal dari nomor yang tidak dikenal.

Perubahan kecil dalam cara menjawab telepon tersebut menjadi perhatian setelah The New York Times membahas bagaimana generasi yang tumbuh bersama ponsel pintar mulai memiliki kebiasaan berbeda dalam percakapan suara. Kehadiran caller ID membuat penerima panggilan umumnya sudah mengetahui siapa yang menelepon sebelum percakapan dimulai.

Dalam survei YouGov Inggris, 40 persen responden berusia 18–24 tahun mengatakan mereka menganggap menjawab atau mengakhiri panggilan tanpa sapaan tradisional seperti “halo” atau “selamat tinggal” sebagai sesuatu yang dapat diterima. Namun, angka tersebut berasal dari survei yang dilakukan pada 2024, bukan 2025 seperti disebut dalam naskah awal.

Temuan itu tidak berarti mayoritas Gen Z selalu diam ketika menerima telepon. Survei YouGov yang diterbitkan pada 2026 justru menunjukkan hanya 3 persen Gen Z yang mengaku mengangkat telepon tanpa sapaan ketika yang menelepon adalah teman atau anggota keluarga. Untuk nomor tidak dikenal, 42 persen mengatakan mereka cenderung diam terlebih dahulu dan menunggu penelepon berbicara.

Dari “Halo” ke Sapaan yang Lebih Personal

Bagi generasi yang lebih tua, “halo” selama bertahun-tahun menjadi bagian dari etika dasar percakapan telepon. Namun, kebiasaan tersebut semakin fleksibel ketika komunikasi sehari-hari berpindah ke pesan teks, media sosial, email, dan pesan suara.

The New York Times mencatat bahwa sebagian anak muda kini menggunakan sapaan yang lebih sesuai dengan kedekatan mereka dengan penelepon. Teman dekat bisa dijawab dengan “hi”, “yo”, “what’s up”, “di mana kamu?” atau sapaan khas lain, sedangkan panggilan dari nomor asing terkadang dijawab tanpa kata apa pun.

Perubahan tersebut juga berkaitan dengan cara orang menggunakan ponsel. Ketika identitas penelepon sudah muncul di layar, penerima panggilan tidak lagi menghadapi situasi seperti pada era telepon lama ketika orang harus terlebih dahulu bertanya siapa yang berada di ujung sambungan.

Peneliti linguistik yang dikutip The New York Times menilai smartphone dan caller ID membuat pembukaan percakapan menjadi lebih sederhana. Percakapan melalui telepon juga kini menjadi bagian dari rangkaian komunikasi yang sebelumnya sudah berlangsung lewat pesan, email, atau media sosial.

Fenomena Diam Saat Telepon Jadi Sorotan

Kebiasaan mengangkat telepon tanpa berbicara menjadi viral setelah sejumlah perekrut membagikan pengalaman mereka ketika menghubungi kandidat dari kalangan Gen Z. Salah satu perekrut mengaku dapat mendengar napas dan suara latar dari penerima telepon, tetapi orang yang dihubungi justru menunggu penelepon berbicara lebih dahulu.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di media sosial. Fast Company melaporkan pada September 2025 bahwa sebuah unggahan perekrut mengenai kebiasaan tersebut telah menjadi viral dan memicu pembahasan mengenai kesenjangan etika menelepon antargenerasi.

Namun, fenomena itu perlu ditempatkan dalam konteks. Data YouGov menunjukkan kebiasaan diam tidak secara khusus menjadi perilaku mayoritas Gen Z. Untuk panggilan dari teman atau keluarga, 92 persen Gen Z dalam survei 2025 mengatakan mereka menjawab dengan “halo” atau sapaan lisan lainnya.

Artinya, kecenderungan untuk diam lebih terlihat ketika panggilan berasal dari nomor yang tidak dikenal. Dalam kelompok ini, 42 persen Gen Z mengatakan mereka akan menunggu penelepon berbicara sebelum memberikan respons. YouGov mencatat pola tersebut juga ditemukan pada generasi lain sehingga tidak sepenuhnya merupakan perilaku khas Gen Z.

Ada Faktor Penipuan Suara AI

Selain perubahan budaya komunikasi, ada alasan praktis yang membuat sebagian orang memilih tidak langsung berbicara ketika menerima panggilan asing. Kekhawatiran terhadap spam, robocall, dan penipuan menggunakan teknologi kecerdasan buatan ikut memengaruhi cara orang menyikapi panggilan dari nomor tidak dikenal.

Teknologi kloning suara memungkinkan penipu membuat tiruan suara seseorang dari rekaman suara yang tersedia. Suara tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyamar sebagai korban dan menghubungi orang lain, termasuk anggota keluarga atau kenalan korban. Guardian menyoroti kekhawatiran tersebut dalam laporan mengenai semakin berkurangnya penggunaan kata “hello”.

Kondisi itu membuat sebagian pengguna memilih mendengarkan terlebih dahulu sebelum berbicara. Jika penelepon ternyata merupakan bot atau panggilan mencurigakan, mereka dapat mengakhiri sambungan tanpa memberikan contoh suara yang tidak perlu.

Meski demikian, tidak tepat menyebut bahwa setiap orang yang menghindari kata “halo” sedang berusaha mencegah AI meniru suaranya. Data YouGov menunjukkan alasan dan kebiasaan tersebut jauh lebih beragam, terutama ketika membandingkan panggilan dari orang yang dikenal dengan panggilan dari nomor asing.

Dari Mana Asal Kata “Halo”?

Perubahan cara menjawab telepon juga menarik jika dilihat dari sejarah kata “halo”. Menurut laporan Guardian, kata tersebut merupakan perkembangan dari sejumlah ungkapan dalam bahasa Inggris seperti “holla”, “hollo”, “halloo” dan “hillo” yang digunakan untuk menarik perhatian sejak berabad-abad lalu.

Setelah telepon ditemukan pada akhir abad ke-19, muncul kebutuhan untuk menentukan sapaan yang dapat digunakan ketika seseorang mengangkat sambungan. Thomas Edison kemudian mempopulerkan “hello” sebagai sapaan telepon, sementara Alexander Graham Bell sebelumnya lebih menyukai “ahoy” atau “ahoy-hoy”.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, kata tersebut tidak hilang sepenuhnya. “Halo” masih digunakan dalam berbagai situasi, terutama ketika seseorang menerima panggilan formal atau berkomunikasi dengan orang yang belum dekat. Yang berubah adalah posisinya sebagai satu-satunya sapaan yang dianggap lazim ketika telepon diangkat.

“Halo” Berubah, Bukan Berarti Gen Z Tidak Bisa Menelepon

Perubahan kebiasaan menyapa juga tidak sama dengan anggapan bahwa Gen Z tidak mampu atau tidak mau menggunakan telepon. Survei YouGov pada 2026 menemukan generasi ini memang lebih tidak nyaman ketika harus melakukan panggilan kepada orang asing. Sekitar 65 persen Gen Z mengatakan situasi tersebut membuat mereka tidak nyaman, sedangkan hanya 15 persen yang merasakan hal serupa ketika menelepon keluarga atau teman.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata hilangnya kata “halo”. Cara orang berkomunikasi telah berubah mengikuti teknologi, hubungan sosial, dan risiko baru dalam penggunaan telepon.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online