Pandangan Warga Indonesia soal Media Sosial Berubah, Ini Datanya

Jumali
Jumali Sabtu, 03 Oktober 2026 07:27 WIB
Pandangan Warga Indonesia soal Media Sosial Berubah, Ini Datanya

Ilustrasi Media Sosial - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pandangan warga Indonesia terhadap dampak media sosial bagi demokrasi berubah dalam tiga tahun terakhir. Survei Pew Research Center menunjukkan proporsi warga yang menilai media sosial berdampak buruk terhadap demokrasi di Indonesia naik dari 24% pada 2023 menjadi 43% pada 2026.

Pada saat yang sama, warga yang menilai media sosial membawa dampak baik turun dari 64% menjadi 55%. Perubahan tersebut menjadi bagian dari tren global ketika semakin banyak masyarakat di berbagai negara melihat sisi negatif media sosial terhadap demokrasi.

Pew Research Center mempublikasikan hasil survei tersebut pada 1 Oktober 2026. Penelitian dilakukan terhadap 45.658 orang di 37 negara, dengan wawancara berlangsung pada 8 Februari hingga 13 Mei 2026.

Secara global, median 55% responden di 37 negara mengatakan media sosial lebih banyak membawa dampak baik bagi demokrasi di negaranya. Sebaliknya, median 35% menilainya sebagai sesuatu yang buruk.

Namun, penilaian negatif lebih banyak ditemukan di sejumlah negara berpendapatan tinggi. Di Amerika Serikat, misalnya, 64% responden mengatakan media sosial berdampak buruk terhadap demokrasi, sedangkan 34% melihatnya sebagai sesuatu yang baik.

Pandangan Negatif di Indonesia Naik 19 Persen Poin

Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami perubahan signifikan dalam pertanyaan yang sama. Pada survei 2023, sebanyak 64% warga Indonesia menilai media sosial sebagai hal yang baik bagi demokrasi dan 24% menilainya buruk.

Dalam survei 2026, proporsi tersebut berubah menjadi 55% yang menilai baik dan 43% yang menilai buruk. Artinya, penilaian positif turun sembilan poin persentase, sedangkan penilaian negatif naik 19 poin persentase.

Meski penilaian negatif meningkat, Indonesia masih berada dalam kelompok negara yang mayoritas respondennya menilai media sosial membawa dampak positif. Pew mencatat median global untuk penilaian positif berada di angka 55%, sama dengan persentase Indonesia.

Jika dibandingkan dengan sejumlah negara Asia Tenggara yang masuk survei, proporsi warga yang menilai media sosial buruk bagi demokrasi di Indonesia juga lebih tinggi. Angkanya mencapai 43%, sedangkan Malaysia 27%, Filipina 23%, Singapura 22%, dan Thailand 21%.

Sebaliknya, penilaian positif mencapai 71% di Malaysia, 74% di Filipina, serta 77% di Singapura dan Thailand. Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup lebar di antara negara-negara Asia Tenggara yang disurvei.

Media Sosial Tetap Dianggap Membantu Masyarakat

Meski penilaian terhadap dampak demokrasi berubah, warga Indonesia tetap melihat sejumlah manfaat media sosial dan internet. Sebanyak 77% responden Indonesia mengatakan akses internet dan media sosial membuat masyarakat lebih mengetahui informasi mengenai peristiwa terkini.

Sebanyak 55% lainnya menilai teknologi tersebut membuat masyarakat lebih mampu memiliki suara yang bermakna dalam politik. Angka tersebut menunjukkan bahwa manfaat media sosial dalam penyebaran informasi dan partisipasi politik masih dirasakan oleh masyarakat.

Namun, manfaat tersebut berjalan bersamaan dengan kekhawatiran terhadap dampak negatifnya. Sebanyak 66% responden Indonesia mengatakan akses internet dan media sosial membuat masyarakat lebih mudah dimanipulasi oleh informasi palsu dan rumor.

Sebanyak 55% lainnya mengatakan media sosial dan internet membuat masyarakat semakin terpecah dalam pandangan politik. Persentase tersebut memperlihatkan bahwa responden Indonesia melihat manfaat dan risiko media sosial secara bersamaan.

Pola serupa terlihat secara global. Di 37 negara yang diteliti, median 77% responden mengatakan internet dan media sosial membuat masyarakat lebih mengetahui peristiwa terkini, sedangkan 60% mengatakan teknologi tersebut membuat masyarakat memiliki suara yang lebih bermakna dalam politik.

Pada sisi lain, median 79% mengatakan media sosial dan internet membuat masyarakat lebih mudah dimanipulasi dengan informasi palsu dan rumor. Sebanyak 68% juga menilai teknologi tersebut membuat masyarakat lebih terpecah dalam pandangan politik.

Kelompok Muda Cenderung Lebih Positif

Pew juga menemukan pola perbedaan berdasarkan usia. Secara umum, orang dewasa muda di sebagian besar negara yang disurvei lebih mungkin menilai dampak media sosial terhadap demokrasi secara positif dibandingkan kelompok usia lebih tua.

Namun, Pew hanya menampilkan negara-negara yang memiliki perbedaan usia yang signifikan secara statistik dalam tabel tersebut. Indonesia tidak termasuk di dalam daftar itu. Karena itu, data survei tidak cukup untuk menyimpulkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok usia muda dan tua di Indonesia.

Pew juga mencatat kelompok muda cenderung melihat sekaligus manfaat dan risiko media sosial. Mereka lebih mungkin mengatakan media sosial membuat masyarakat memperoleh informasi dan memiliki ruang bersuara, tetapi juga dapat melihat teknologi tersebut sebagai sarana yang meningkatkan perpecahan politik dan membuat masyarakat lebih mudah dimanipulasi.

Dengan demikian, perubahan pandangan warga Indonesia dalam survei Pew tidak berarti masyarakat sepenuhnya meninggalkan penilaian positif terhadap media sosial. Data 2026 justru menunjukkan dua sisi yang berjalan bersamaan: media sosial masih dianggap membantu masyarakat memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam politik, tetapi kekhawatiran terhadap informasi palsu dan perpecahan politik juga semakin terlihat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online