Zuckerberg Akui Tak Punya Gelar Kuliah Saat Dicecar Soal Risiko Instagram

Jumali
Jumali Rabu, 07 Oktober 2026 19:07 WIB
Zuckerberg Akui Tak Punya Gelar Kuliah Saat Dicecar Soal Risiko Instagram

Mark Zuckerberg, CEO Facebook/mashable

Harianjogja.com, JOGJA—CEO Meta Mark Zuckerberg mengakui dirinya tidak memiliki gelar sarjana ketika dicecar pengacara dalam persidangan mengenai dampak media sosial terhadap anak dan remaja.

Dilansir dari AFP, pengakuan tersebut muncul ketika pengacara penggugat, Mark Lanier, mempertanyakan dasar keilmuan Zuckerberg dalam menilai bukti mengenai risiko fitur Instagram, termasuk penyaring kecantikan atau beauty filter.

Lanier menanyakan apakah Zuckerberg memiliki latar belakang pendidikan yang membuatnya mampu menentukan ada atau tidaknya hubungan sebab-akibat dari penggunaan fitur tersebut.

Zuckerberg menjawab bahwa dirinya tidak memiliki gelar perguruan tinggi dalam bidang apa pun. Namun, ia mengatakan memahami data dan statistik.

Pernyataan itu disampaikan dalam persidangan di Los Angeles yang memperkarakan dugaan dampak buruk penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja.

Kasus tersebut diajukan oleh seorang perempuan California yang dikenal dengan inisial K.G.M. terhadap Meta dan Google, dengan YouTube sebagai salah satu platform yang ikut menjadi tergugat.

Beauty Filter Instagram Jadi Sorotan

Salah satu isu yang mencuat dalam persidangan adalah keputusan Meta terkait filter Instagram yang dapat mengubah penampilan pengguna hingga menyerupai hasil prosedur operasi plastik.

Meta sempat menonaktifkan sejumlah filter tersebut setelah muncul kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap pengguna muda. Namun, perusahaan kemudian mengizinkan sebagian fitur kembali tersedia dengan pembatasan tertentu, termasuk tidak membuat atau merekomendasikan filter tersebut sendiri.

Zuckerberg mempertahankan keputusan itu dengan alasan pengguna tetap perlu memiliki ruang untuk mengekspresikan diri.

Ia mengatakan Meta memilih jalan tengah dengan membiarkan pengguna menggunakan filter yang mereka inginkan, tetapi tidak mendorong pengguna lain untuk menemukannya melalui rekomendasi.

Keputusan tersebut sebelumnya juga memicu perbedaan pandangan di internal Meta.

Margaret Stewart, salah satu eksekutif perusahaan, menyampaikan keberatan terhadap keputusan untuk mengizinkan kembali filter tersebut. Dalam komunikasi internal yang muncul dalam persidangan, Stewart mengatakan keputusan itu bukan pilihan yang tepat jika mempertimbangkan risiko yang ada.

Persidangan juga mengungkap bahwa Meta sebelumnya berkonsultasi dengan sejumlah ahli mengenai dampak filter kecantikan. Dokumen yang diajukan dalam perkara tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa filter semacam itu dapat berdampak terhadap kesejahteraan pengguna, terutama anak dan remaja.

Zuckerberg dan Pertanyaan soal Keamanan Produk

Perdebatan di ruang sidang akhirnya tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya gelar akademik Zuckerberg.

Yang menjadi sorotan adalah bagaimana keputusan mengenai risiko sebuah produk digital dibuat ketika produk tersebut digunakan oleh jutaan bahkan miliaran orang.

Zuckerberg sendiri tidak menyelesaikan kuliahnya di Harvard. Ia meninggalkan kampus tersebut untuk mengembangkan Facebook, jejaring sosial yang kemudian berkembang menjadi Meta.

Forbes mencatat Zuckerberg sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Namun, posisi tersebut tidak mengubah fakta bahwa dalam persidangan ia harus mempertanggungjawabkan dasar pengambilan keputusan perusahaan ketika ditanya mengenai keamanan produknya.

Kasus K.G.M. menjadi salah satu perkara penting dalam gelombang gugatan terhadap perusahaan teknologi terkait dugaan dampak media sosial terhadap anak dan remaja. Persidangan tersebut juga menjadi ujian mengenai sejauh mana perusahaan dapat dimintai pertanggungjawaban atas desain dan fitur produknya.

Dengan demikian, persoalan yang muncul di persidangan bukan semata-mata apakah seorang CEO memiliki ijazah atau tidak. Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa kuat dasar ilmiah dan proses pengambilan keputusan ketika sebuah perusahaan menentukan bahwa fitur yang digunakan anak-anak dianggap cukup aman untuk tetap tersedia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online