3 Chipset Smartphone yang Bersaing pada 2026, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

Jumali
Jumali Jum'at, 09 Oktober 2026 07:17 WIB
3 Chipset Smartphone yang Bersaing pada 2026, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

Kantor Samsung di Seoul Korea Selatan - Bisnis.com

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan chipset smartphone pada 2026 semakin mengarah pada kemampuan kecerdasan buatan (AI), efisiensi daya, dan performa gaming. Qualcomm, MediaTek, dan Samsung mengembangkan prosesor kelas atas dengan teknologi yang ditujukan untuk meningkatkan pengalaman pengguna, mulai dari menjalankan aplikasi hingga mengolah fitur AI langsung di perangkat.

Perkembangan tersebut membuat chipset menjadi salah satu komponen penting yang perlu diperhatikan ketika membeli smartphone. Selain kecepatan pemrosesan, kemampuan prosesor turut memengaruhi respons aplikasi, kualitas grafis, konsumsi baterai, serta fitur yang dapat dijalankan tanpa harus selalu terhubung ke layanan komputasi awan atau cloud.

Data Counterpoint Research menunjukkan MediaTek memimpin pasar smartphone application processor system-on-chip (AP-SoC) global pada kuartal II 2026 dengan pangsa 31%. Qualcomm berada di posisi kedua dengan 23%, sedangkan Samsung mencatatkan 9%, meningkat dari 7% pada kuartal sebelumnya.

Angka tersebut menggambarkan persaingan di pasar chipset smartphone yang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produk flagship. Pangsa pasar juga dipengaruhi oleh jumlah perangkat yang menggunakan chipset tertentu, permintaan konsumen, dan strategi produsen ponsel di berbagai segmen harga.

Qualcomm Andalkan Snapdragon untuk Performa dan AI

Qualcomm mempertahankan persaingannya di segmen premium melalui keluarga Snapdragon. Salah satu produknya, Snapdragon 8 Elite Gen 5, membawa CPU Qualcomm Oryon generasi ketiga dengan kecepatan hingga 4,74 GHz.

Menurut spesifikasi resmi Qualcomm, CPU tersebut menawarkan peningkatan performa 20% dan efisiensi daya 35% dibandingkan generasi sebelumnya. Angka ini merupakan klaim perbandingan dari produsen, sehingga hasil penggunaan sebenarnya dapat berbeda menurut perangkat, sistem pendingin, dan beban kerja.

Untuk kebutuhan gaming, GPU Adreno pada chipset tersebut diklaim meningkatkan performa grafis 23% dan efisiensi daya 20%. Qualcomm juga menyebut adanya peningkatan kemampuan ray tracing, teknologi yang digunakan untuk menghasilkan pencahayaan dan pantulan lebih realistis dalam gim yang mendukungnya.

Dukungan terhadap Unreal Engine 5 turut menjadi bagian dari kemampuan grafis yang ditawarkan. Meski demikian, kualitas pengalaman bermain tetap bergantung pada optimasi gim, layar, sistem pendingin, serta pengaturan grafis pada masing-masing smartphone.

Di sisi AI, Snapdragon 8 Elite Gen 5 menggunakan NPU Hexagon yang diklaim memiliki kinerja 37% lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Pemrosesan AI langsung di perangkat atau on-device AI dapat mendukung fitur seperti asisten pintar dan pengolahan konten tanpa selalu mengirimkan permintaan ke server eksternal.

Bagi pengguna yang sering bermain gim, mengedit konten, atau menjalankan beberapa aplikasi sekaligus, kombinasi performa dan efisiensi menjadi penting. Chipset yang cepat tetapi menghasilkan panas berlebihan atau menguras baterai dengan cepat belum tentu memberikan pengalaman terbaik untuk pemakaian dalam waktu lama.

MediaTek Perluas Persaingan di Kelas Flagship

MediaTek juga memperkuat posisinya di segmen smartphone premium melalui keluarga Dimensity. Pada 15 September 2026, perusahaan tersebut memperkenalkan Dimensity 9600 Pro yang menggunakan teknologi fabrikasi 2 nanometer dan menitikberatkan pengembangan pada performa, efisiensi daya, grafis, serta pemrosesan AI.

MediaTek mengklaim kemampuan pemrosesan LLM prefill pada chipset itu meningkat 51% dibandingkan generasi sebelumnya. LLM atau large language model merupakan model AI yang digunakan untuk memahami dan menghasilkan teks, sedangkan tahap prefill berkaitan dengan pemrosesan awal masukan sebelum model menghasilkan respons.

Angka 51% tersebut tidak berarti semua tugas AI otomatis berjalan 51% lebih cepat. Hasilnya bergantung pada jenis pekerjaan, model yang digunakan, perangkat lunak, dan kondisi pengujian.

MediaTek juga mengembangkan arsitektur yang mengintegrasikan kemampuan CPU, GPU, dan unit pemrosesan AI. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mendukung berbagai kebutuhan, termasuk menjalankan model AI secara lokal, pengolahan gambar, dan grafis gim.

Perusahaan turut menyiapkan Dimensity 9600M berbasis proses 3 nanometer untuk menjangkau perangkat kelas atas yang lebih luas, sebagaimana disebutkan dalam naskah sumber. Informasi mengenai ketersediaan perangkat yang memakai varian tersebut perlu dikonfirmasi melalui pengumuman resmi sebelum dipublikasikan.

Bagi konsumen, semakin ketatnya persaingan di kelas flagship memberi lebih banyak pilihan di antara smartphone dengan spesifikasi tinggi. Namun, nama chipset saja tidak cukup untuk menentukan kualitas perangkat karena performa akhir juga dipengaruhi optimasi sistem, kapasitas memori, pendinginan, kamera, dan dukungan pembaruan perangkat lunak.

Samsung Perkuat Exynos dan Teknologi Fabrikasi

Samsung menempuh strategi berbeda karena mengembangkan chipset Exynos sekaligus memproduksi smartphone Galaxy. Exynos 2600 menjadi salah satu bagian dari upaya perusahaan memperkuat penggunaan prosesor buatannya sendiri di perangkat premium.

Menurut data Counterpoint Research yang dirujuk dalam naskah sumber, pangsa Samsung di pasar smartphone AP-SoC global mencapai 9% pada kuartal II 2026, naik dari 7% pada kuartal sebelumnya. Naskah sumber mengaitkan perkembangan pengiriman Exynos dengan pemakaiannya di perangkat premium, termasuk Galaxy S26 di sejumlah pasar.

Seri Galaxy S26 menggunakan kombinasi chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600 di pasar yang berbeda. Counterpoint Research juga menyebut penggunaan kedua chipset tersebut pada lini Galaxy S26 sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pengiriman SoC premium Qualcomm.

Samsung dan MediaTek sama-sama mengumumkan perkembangan chipset dengan fabrikasi 2 nanometer pada 2026. Karena itu, klaim mengenai perusahaan pertama yang menggunakan teknologi tersebut harus merujuk pada definisi dan bukti yang spesifik, misalnya pengumuman produk, produksi massal, atau pemakaian komersial di smartphone.

Ukuran fabrikasi yang lebih kecil berpotensi mendukung efisiensi dan kepadatan transistor, tetapi angka nanometer bukan satu-satunya penentu kinerja. Desain arsitektur, pengelolaan panas, konsumsi daya, serta optimasi perangkat juga memengaruhi hasil yang dirasakan pengguna.

Pengiriman Chipset Turun, tetapi Kebutuhan AI Tumbuh

Persaingan teknologi berlangsung ketika pasar chipset smartphone menghadapi tekanan. Counterpoint Research mencatat pengiriman SoC smartphone global turun 15% secara tahunan pada semester I 2026. Lembaga riset tersebut mengaitkan penurunan itu dengan kenaikan harga memori, pengelolaan persediaan yang lebih hati-hati oleh produsen ponsel, serta siklus penggantian perangkat yang semakin panjang.

Di tengah penurunan tersebut, pengiriman SoC untuk smartphone dengan kemampuan AI generatif justru tumbuh 24% secara tahunan pada semester pertama 2026. Data ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap fitur AI berkembang meskipun pengiriman chipset secara keseluruhan mengalami tekanan.

Bagi pengguna, perkembangan itu dapat terlihat pada semakin banyaknya fitur AI yang diproses langsung di smartphone. Kemampuan tersebut berpotensi membantu pengolahan foto, penerjemahan, peringkasan teks, dan interaksi dengan asisten digital, bergantung pada dukungan perangkat dan aplikasi.

Pemrosesan lokal juga dapat mengurangi ketergantungan pada koneksi internet untuk tugas tertentu. Namun, tidak semua fitur AI bisa dijalankan sepenuhnya di perangkat; sebagian layanan tetap membutuhkan server, dan penggunaan AI lokal tetap memerlukan daya serta sumber daya komputasi.

Karena itu, saat memilih smartphone, konsumen sebaiknya tidak hanya membandingkan angka benchmark atau nama chipset. Periksa pula kapasitas baterai, hasil pengujian daya tahan, kestabilan performa saat bermain gim, kualitas kamera, dukungan jaringan, serta kebijakan pembaruan sistem. Faktor-faktor tersebut membantu menunjukkan apakah kemampuan chipset benar-benar sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online