AS Larang Kendaraan BYD Masuk Pangkalan Militer di Jepang

Jumali
Jumali Sabtu, 24 Oktober 2026 19:17 WIB
AS Larang Kendaraan BYD Masuk Pangkalan Militer di Jepang

BYD Dolphin. - Harian Jogja/Antara

Harianjogja.com, JOGJA—Kendaraan listrik buatan produsen otomotif China, BYD, dilarang memasuki Pangkalan Udara Kadena milik militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa, Jepang. Kebijakan yang dijadwalkan berlaku mulai Senin (26/10/2026) tersebut diambil karena kendaraan itu dinilai berpotensi menimbulkan risiko keamanan bagi personel dan misi militer.

Mengutip Carscoops dan Reuters, Jumat (23/10/2026), larangan tersebut berlaku bagi seluruh kendaraan BYD yang hendak memasuki kawasan pangkalan. Pembatasan itu mencakup mobil pribadi, taksi, kendaraan pengiriman, kendaraan kontraktor, serta kendaraan komersial lainnya.

Juru bicara Pangkalan Udara Kadena, Letnan Kolonel Alli Stormer, menyatakan kendaraan tersebut menghadirkan risiko yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dimitigasi terhadap personel maupun misi militer di pangkalan tersebut.

Namun, Stormer tidak menjelaskan secara terperinci ancaman keamanan yang menjadi dasar kebijakan tersebut.

Kamera dan Sensor Kendaraan Jadi Sorotan

Laporan media menyebutkan kekhawatiran terhadap kamera dan sensor yang terpasang pada kendaraan modern menjadi salah satu faktor di balik pembatasan tersebut. Teknologi itu dikhawatirkan dapat mengumpulkan informasi sensitif dari lingkungan pangkalan militer dan berpotensi mengirimkannya ke luar kawasan.

Meski demikian, kekhawatiran tersebut belum disertai penjelasan resmi secara terperinci mengenai mekanisme pengumpulan data atau bukti bahwa kendaraan BYD telah digunakan untuk memata-matai instalasi militer.

Pangkalan Udara Kadena merupakan salah satu instalasi penting militer AS di kawasan Indo-Pasifik. Lokasinya di Okinawa membuat pangkalan tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung operasi udara AS di kawasan Asia Timur.

BYD Masuk Daftar Pentagon

Pembatasan kendaraan BYD juga muncul di tengah meningkatnya perhatian pemerintah AS terhadap perusahaan teknologi dan otomotif asal China. Pada Juni 2026, Pentagon memasukkan BYD ke dalam daftar perusahaan yang dinilai mendukung militer China, bersama sejumlah perusahaan lain, termasuk Alibaba, Baidu, dan NIO.

BYD menolak penetapan tersebut dan menyatakan akan menempuh jalur administratif serta hukum untuk melindungi kepentingannya.

Di AS, kendaraan asal China juga menghadapi berbagai hambatan perdagangan dan pembatasan teknologi. Sejumlah anggota parlemen AS berupaya memperketat aturan untuk membatasi masuknya kendaraan China ke pasar domestik.

China Pernah Batasi Kendaraan Tesla

Kekhawatiran mengenai potensi pengumpulan data melalui teknologi kendaraan modern bukan hanya muncul di AS. China sebelumnya membatasi akses kendaraan Tesla ke sejumlah kompleks pemerintahan dan lokasi sensitif karena kekhawatiran terhadap kamera serta pengumpulan data.

Pada April 2024, Tesla Model 3 dan Model Y yang diproduksi di China masuk dalam daftar model kendaraan yang dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan data oleh asosiasi industri otomotif China. Penilaian tersebut membuka peluang pelonggaran sejumlah pembatasan terhadap kendaraan Tesla di negara itu.

Kasus ini memperlihatkan bahwa kamera, sensor, dan konektivitas pada kendaraan modern menjadi perhatian keamanan bagi pemerintah, terutama ketika kendaraan beroperasi di sekitar instalasi strategis. Namun, kekhawatiran mengenai potensi pengumpulan data perlu dibedakan dari bukti bahwa kegiatan spionase benar-benar telah terjadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online