BLBI Dinyatakan Lunas, Hardjuno Pertanyakan Hak Tagih Rp110 Triliun
Pemerintah menyatakan kewajiban BLBI Rp218,3 triliun ke BI lunas. Hardjuno menyoroti hak tagih negara dan beban fiskal yang masih perlu dijelaskan.
Kendaraan listrik - Ilustrasi freepik
Harianjogja.com, TOKYO—Meski semangat menggunakan kendaraan listrik terus disuarakan, faktanya masih banyak orang yang memilih kendaraan listrik sebagai tranportasi kedua. Kondisi ini juga terjadi di negara maju seperti Jepang.
President & Executive Chief Engineer Toyota Daihatsu Engineering & Manufacturing Yoshinki Konishi mengungkap mobil listrik kebanyakan digunakan oleh konsumen bukan sebagai mobil utama, melainkan sekunder. “Kami melihat, setelah berdiskusi dengan konsumen, mobil listrik mereka adalah mobil kedua atau ketiga, bukan mobil utamanya,” kata dia pada diskusi media di Tokyo, Jepang, baru-baru ini seperti dikutip dari Antara.
Baca Juga: Pakai Mobil Listrik? Tak Perlu Cemas, Ini Lokasi Ngecas Baterai Kendaraan Listrik di Gunungkidul
Yoshinki menyebut mobil listrik digunakan sebagai kendaraan sekunder adalah situasi di negara Asia. Di mana mereka menginginkan mobil utama untuk mampu menempuh jarak jauh dan lintas kota. Sedangkan mobil kedua atau ketiga, menurut Yoshinki, penggunaannya terbatas, dan digunakan tidak lebih sering seperti mobil utama.
Kebiasaan konsumen ini juga dikatakan Yoshinki umum terjadi di kota-kota besar negara Asia, di mana biaya listrik tidak begitu mahal, dan infrastruktur yang telah relatif memadai. “Konsumen punya kalkulasi sendiri, dimana sebagai mobil kedua atau ketiga, mobil listrik adalah yang terbaik,” kata dia.
Masalah jarak tempuh mobil listrik yang masih kalah dengan mobil konvensional atau berbahan dasar minyak, ternyata tidak menjadi persoalan. Kembali lagi, mengingat kebanyakan dari konsumen menggunakannya sebagai mobil sekunder.
Sebagai mobil sekunder, mobil listrik sangat menguntungkan, mengingat biaya bensin yang semakin hari semakin tinggi.
“Kami juga bertanya pada konsumen, bagaimana dengan masalah jarak tempuh? Mereka tidak memiliki komplain,” jelas Yoshinki.
Baca Juga: Tak Perlu Bingung! Ini Lokasi Ngecas Mobil Listrik di Wates
Meski begitu, bukan berarti mobil listrik tidak bisa digunakan sebagai mobil utama. Meski butuh waktu, mobil listrik tentu sangat menjanjikan dan akan mendominasi sebagai kendaraan utama di masa depan.
Yoshinki mengatakan saat ini seluruh perusahaan otomotif dan para pemangku kepentingan tengah terus berupaya untuk menekan harga kendaraan listrik, utamanya pada komponen baterai yang masih menjadi komponen termahal dari kendaraan ramah lingkungan tersebut.
Lokalisasi suku cadang kendaraan listrik dan insentif berkelanjutan dari pemerintah setempat juga memegang peran besar, untuk persoalan biaya. Infrastruktur penyediaan stasiun pengisian daya mobil listrik juga perlu terus dibangun.
“Untuk menerima kendaraan listrik hingga merata ke penjuru negeri, tentu membutuhkan waktu yang lebih panjang, mengingat perihal infrastruktur, biaya baterai, biaya kendaraan dan lain-lain,” imbuh Yoshinki.
Baca Juga: Mobil Listrik Subsidi Mulai Populer, PLN Catat Ada Sekitar 7 SPKLU di DIY
Untuk itu, Yoshinki menyebut strategi multi-pathway dari Toyota dilakukan untuk menjamah lebih banyak konsumen kendaraan listrik, sehingga mencapai netralitas karbon di masa yang akan datang.
Dengan pendekatan multi-pathway, Toyota menyajikan beragam pilihan teknologi ramah lingkungan yang bisa diberikan oleh masyarakat Indonesia. Mulai hybrid EV (HEV), plug-in hybrid EV (PHEV), battery electric vehicle (BEV), dan fuell cell electric vehicle.
“Strategi multi-pathway memberikan banyak opsi kendaraan ramah lingkungan untuk mempercepat penggunaannya, sehingga semua orang dapat berkontribusi untuk karbon netral,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemerintah menyatakan kewajiban BLBI Rp218,3 triliun ke BI lunas. Hardjuno menyoroti hak tagih negara dan beban fiskal yang masih perlu dijelaskan.
Bupati Gunungkidul memberi ASN waktu 1,5 jam tiap Jumat awal bulan untuk belanja di pasar tradisional dan UMKM.
inflasi September 2026 diproyeksi mencapai 3,34%-3,35%, dipicu pangan, El Nino, MBG, dan kenaikan harga minyak dunia.
Delapan gerai KDMP Bantul telah diverifikasi. Hasil pemeriksaan akan menjadi bahan laporan tim dan review BPKP terkait pembangunan.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai beroperasi 1 Oktober 2026 dan akan dievaluasi pemerintah pada 7 Oktober.
UGM menilai wacana kuliah gratis perlu memprioritaskan warga kurang mampu dan memperluas akses pendidikan tinggi.