Sisa Roket SpaceX Hantam Bulan, Ilmuwan Cari Kawah Baru
Sisa roket Falcon 9 milik SpaceX menghantam Bulan dekat Kawah Einstein. NASA dan ilmuwan dunia kini memburu kawah baru yang terbentuk untuk kepentingan peneliti
Chat GPT - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kasus kecurangan ujian yang melibatkan AI di Yonsei, SNU, dan Korea University membuka perdebatan baru tentang relevansi metode penilaian tradisional di era teknologi cepat berubah.
Korea Times melaporkan, insiden paling mencolok terjadi di Yonsei University, di mana sekitar 190 dari 600 mahasiswa mata kuliah daring pemrosesan bahasa alami ketahuan melakukan kecurangan saat Ujian Tengah Semester (UTS). Kecurangan ini terungkap melalui jajak pendapat di forum daring kampus, di mana 190 dari 353 responden mengakui menggunakan metode tidak sah.
Menanggapi hal tersebut, profesor pengampu mata kuliah memberikan kebijakan tegas,mahasiswa yang mengakui kesalahan akan mendapat nilai nol untuk UTS, namun terbebas dari sanksi lebih lanjut. Sementara itu, mahasiswa yang tidak mengakui perbuatannya diancam skorsing sesuai peraturan universitas yang berlaku.
Skandal serupa tidak hanya terjadi di kelas daring. Di Seoul National University (SNU), sejumlah mahasiswa mata kuliah statistik tertangkap menggunakan alat AI untuk menjawab soal ujian tatap muka. Pihak universitas kini mempertimbangkan pembatalan hasil ujian dan pelaksanaan ujian ulang. Sementara di Korea University, sekitar 500 dari 1.400 mahasiswa kelas Massive Open Online Class (MOOC) ketahuan bertukar jawaban melalui grup chat selama ujian.
Banyak mahasiswa, meskipun menuntut sanksi tegas, mengakui bahwa AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan belajar mereka.
"AI adalah alat yang sangat diperlukan mahasiswa saat ini," ujar Woo Jung-sik, mahasiswa senior Hanyang University.
Skandal ini memicu kritik terhadap respons kampus. Sebagian mahasiswa Korea University menilai pihak fakultas baru bertindak setelah skandal pecah. Mereka juga menganggap hukuman yang diberikan tanpa panduan yang jelas sebagai tindakan tidak adil.
Para ahli pendidikan menilai bahwa insiden ini merupakan tanda bahwa sistem pendidikan tradisional sudah tidak relevan dan gagal beradaptasi. Profesor Park Joo-ho dari Hanyang University menekankan bahwa skandal ini menunjukkan tantangan yang lebih mendalam, di mana metode penilaian lama tidak lagi sesuai. Seorang mahasiswa senior bernama Kim menambahkan, "Pada era AI yang berubah cepat ini, tugas yang dapat diselesaikan dengan mudah menggunakan AI telah kehilangan maknanya."
Sebagai penutup, para ahli menyimpulkan adanya desakan mendesak untuk menetapkan panduan akademik yang jelas mengenai penggunaan AI. Sebagaimana ditekankan oleh Profesor Song Ki-chang, "Mustahil melarang total penggunaan AI." Namun, tanpa standar yang jelas, ketergantungan mahasiswa pada teknologi ini berpotensi menjadi masalah serius bagi integritas akademik di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sisa roket Falcon 9 milik SpaceX menghantam Bulan dekat Kawah Einstein. NASA dan ilmuwan dunia kini memburu kawah baru yang terbentuk untuk kepentingan peneliti
Pemerintah menyalurkan bantuan Rp20,5 triliun kepada 497 pemda untuk menutup kekurangan anggaran gaji ASN dan PPPK, bukan melunasi DBH.
Selama pameran berlangsung, masyarakat dapat menikmati berbagai layanan kesehatan, edukasi, hingga beragam aktivitas interaktif yang telah disiapkan
Pemerintahan Donald Trump menyiapkan program deposit visa hingga Rp4,46 miliar bagi calon imigran tertentu sebagai bagian dari uji coba kebijakan imigrasi.
Newcastle United resmi menunjuk Matthias Jaissle sebagai pelatih kepala baru menggantikan Eddie Howe menjelang bergulirnya Liga Inggris 2026/2027.
Melalui Program Sedekah Pohon Produktif, DMC Dompet Dhuafa menyalurkan ratusan bibit tanaman buah kepada masyarakat di Kapanewon Pundong, Imogiri, dan Jetis