Dugaan Love Scamming di Semarang, 4 WNA China Ditangkap
Imigrasi Semarang mengungkap dugaan love scamming internasional. Empat WN China diamankan bersama ratusan ponsel dan perangkat elektronik.
Ilustrasi Komet/Dok
Harianjogja.com, JAKARTA—Fenomena langit langka kembali menarik perhatian para astronom dunia. Jika selama ini publik mengenal Komet Halley yang muncul setiap puluhan tahun, kini muncul komet baru bernama C/2025 R3 PANSTARRS yang jauh lebih unik—karena hanya bisa dilihat sekali dalam seumur hidup manusia.
Komet ini mulai terlihat oleh pengamat bintang di belahan bumi utara sepanjang April hingga awal Mei 2026. Berbeda dengan komet periodik seperti Halley yang kembali setiap 72–80 tahun, C/2025 R3 PANSTARRS diperkirakan baru akan kembali setelah sekitar 170.000 tahun.
Artinya, kemunculan kali ini menjadi satu-satunya kesempatan bagi manusia saat ini untuk menyaksikannya.
“Setiap kali kita melihatnya, itu adalah pertama kalinya kita melihatnya, dan itu juga satu-satunya kesempatan kita untuk melihatnya seumur hidup kita,” kata astronom Josh Aoraki.
Lebih Langka dari Komet Halley
Selama ribuan tahun, Komet Halley menjadi objek langit paling terkenal karena siklus kemunculannya yang relatif singkat. Terakhir terlihat pada 1986, komet tersebut dijadwalkan kembali melintas di langit Bumi pada 2061.
Namun, C/2025 R3 PANSTARRS berada di level berbeda. Orbitnya yang sangat panjang menunjukkan bahwa komet ini berasal dari wilayah terluar tata surya dan membutuhkan waktu ratusan ribu tahun untuk kembali.
Fenomena ini menjadikannya bukan sekadar objek langit biasa, melainkan bagian dari sejarah awal pembentukan tata surya.
Jejak Asal Usul Tata Surya
Para ilmuwan meyakini komet seperti PANSTARRS berasal dari awan Oort, wilayah misterius di tepi tata surya yang dipenuhi sisa-sisa material pembentuk planet miliaran tahun lalu.
Komet sering disebut sebagai “bola salju kotor” karena tersusun dari es, debu, dan material purba. Saat mendekati Matahari, material ini memanas dan membentuk ekor panjang yang terlihat dari Bumi.
Menariknya, para peneliti percaya bahwa objek-objek seperti ini mungkin membawa bahan penting yang berkontribusi pada munculnya kehidupan di Bumi.
Penting bagi Ilmu Pengetahuan
Meski bagi pengamat biasa komet ini hanya tampak seperti cahaya samar, bagi ilmuwan ia adalah “arsip kosmik” yang menyimpan informasi tentang masa lalu tata surya.
“Ini adalah peninggalan dari kelahiran Tata Surya, arsip sejarah kosmik yang membeku, dan untuk sesaat, objek ini terlihat dari sini di Bumi,” tulis Woods.
Dengan mempelajari komet seperti C/2025 R3 PANSTARRS, para astronom dapat memahami bagaimana planet terbentuk dan bagaimana material awal tersebar di ruang angkasa.
Karena jaraknya yang terus menjauh dari Matahari, komet ini perlahan akan memudar dan tidak lagi terlihat, terutama bagi astronom amatir.
Pengamatan terbaik biasanya dilakukan menggunakan teleskop atau teropong dari lokasi minim polusi cahaya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa alam semesta menyimpan banyak kejadian langka yang tidak selalu bisa disaksikan dua kali.
Momen Sekali Seumur Hidup
Kemunculan C/2025 R3 PANSTARRS bukan hanya peristiwa astronomi biasa, tetapi juga momen bersejarah. Dalam skala waktu manusia, komet ini bisa disebut sebagai “tamu sekali seumur hidup”.
Bagi siapa pun yang sempat menyaksikannya, momen ini bukan sekadar melihat bintang jatuh, melainkan menyaksikan potongan sejarah kosmik yang telah ada sejak miliaran tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Imigrasi Semarang mengungkap dugaan love scamming internasional. Empat WN China diamankan bersama ratusan ponsel dan perangkat elektronik.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.
Australia memperketat larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan menaikkan denda hingga Rp1,1 triliun dan memperluas pengawasan.