Gen Z Tak Bisa Lepas dari ChatGPT, Dipakai untuk Asmara hingga Karier

Jumali
Jumali Senin, 18 Mei 2026 17:57 WIB
Gen Z Tak Bisa Lepas dari ChatGPT, Dipakai untuk Asmara hingga Karier

Mesin pencari AI - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Cara menggunakan chatbot kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT ternyata berbeda drastis antar generasi.

Dilansir dari Fortune, Senin (18/5/2026) CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkap bahwa generasi muda atau Gen Z kini memanfaatkan ChatGPT jauh lebih personal dan kompleks dibanding pengguna generasi sebelumnya.

Bagi banyak anak muda, ChatGPT bukan lagi sekadar alat pencari informasi seperti mesin pencari internet. AI kini dipakai sebagai penasihat hidup, tempat berdiskusi, hingga membantu mengambil keputusan sehari-hari.

Altman menyebut perbedaan cara penggunaan AI antar generasi sangat mencolok, terutama pada kelompok usia 20-an tahun yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital.

Gen Z Jadikan ChatGPT Asisten Kehidupan

Menurut Altman, Gen Z menggunakan ChatGPT layaknya “sistem operasi kehidupan” atau life operating system.

Mereka tidak hanya mengetik pertanyaan sederhana lalu menerima jawaban. Banyak pengguna muda mulai menghubungkan chatbot AI dengan dokumen pribadi seperti jadwal harian, daftar tugas, catatan pekerjaan, hingga pengelolaan keuangan pribadi.

Selain itu, Gen Z juga cenderung menyimpan prompt atau pola perintah tertentu untuk membangun alur penggunaan yang lebih kompleks dan personal.

AI bahkan mulai dipakai untuk meminta saran mengenai hubungan asmara, karier, pendidikan, hingga keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Altman mengatakan banyak pengguna muda kini merasa perlu “berkonsultasi” dengan ChatGPT sebelum mengambil keputusan tertentu.

Generasi Lebih Tua Masih Gunakan seperti Google

Berbeda dengan Gen Z, pengguna dari generasi lebih tua umumnya memakai ChatGPT seperti mesin pencari biasa.

Mereka cenderung menggunakan AI untuk mencari jawaban cepat atas pertanyaan tertentu tanpa membangun konteks penggunaan jangka panjang.

Pola penggunaan ini dinilai lebih sederhana: bertanya, mendapat jawaban, lalu selesai.

Sementara itu, generasi muda justru memanfaatkan kemampuan memori percakapan ChatGPT untuk membangun interaksi yang lebih mendalam dan berkelanjutan.

Fitur memory atau memori percakapan memungkinkan AI mengingat preferensi, gaya komunikasi, hingga konteks obrolan sebelumnya sehingga respons terasa lebih personal.

Fenomena Mirip Era Awal Smartphone

Altman membandingkan fenomena ini dengan masa awal kemunculan smartphone.

Menurutnya, generasi muda saat itu jauh lebih cepat beradaptasi dengan teknologi layar sentuh dan aplikasi digital dibanding generasi sebelumnya.

Kini pola yang sama kembali terjadi pada perkembangan AI generatif.

Gen Z dinilai lebih cepat memahami cara memanfaatkan AI secara maksimal, bukan hanya sebagai alat bantu pencarian informasi tetapi juga sebagai asisten produktivitas dan konsultasi pribadi.

Meski penggunaan AI semakin luas, para ahli tetap mengingatkan bahwa chatbot seperti ChatGPT memiliki keterbatasan.

AI masih berpotensi memberikan jawaban yang tidak akurat, bias, atau bahkan mengalami halusinasi informasi.

Karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu pendukung, bukan sebagai sumber keputusan mutlak dalam kehidupan.

Pengguna tetap disarankan berpikir kritis dan mempertimbangkan faktor manusia dalam mengambil keputusan penting.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online