Viral Tren Plenger dan Tissue Challenge, Pengamat Soroti Etika Konten

Sunartono
Sunartono Minggu, 21 Juni 2026 15:57 WIB
Viral Tren Plenger dan Tissue Challenge, Pengamat Soroti Etika Konten

TikTok - Antara

Harianjogja.com, JOGJA—Viralnya kembali video lama pasangan selebritas Deni Caknan dan Bella Bonita yang mengikuti tren "Plenger" atau "Tissue Challenge" memicu perdebatan luas di media sosial. Konten tersebut menjadi sorotan karena dinilai menyerupai kondisi fisik penyandang cerebral palsy, sehingga memunculkan kritik terkait sensitivitas terhadap kelompok disabilitas dan etika dalam produksi konten digital.

Perbincangan yang terus bergulir di berbagai platform digital itu turut menarik perhatian akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pengamat media sekaligus dosen Ilmu Komunikasi UMY, Fajar Junaedi menilai fenomena tersebut menjadi pelajaran penting bagi industri kreatif digital mengenai batas antara hiburan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap kelompok rentan.

Etika Konten Digital dan Risiko Ableism di Media Sosial

Menurut Fajar, sebuah konten yang telah lama diunggah tidak otomatis kehilangan relevansi untuk dievaluasi dari sisi moral. Ia menegaskan bahwa komunikasi di ruang digital harus tetap berpijak pada penghormatan terhadap martabat manusia dan menghindari segala bentuk representasi yang berpotensi mendiskreditkan kelompok tertentu.

"Komedi digital semestinya memiliki empati dan tidak mengeksploitasi keterbatasan fisik kelompok tertentu. Tantangan seperti tren Plenger ini mungkin dianggap sekadar guyonan bagi sebagian orang, namun jika dibedah lewat kacamata etika, hal tersebut masuk dalam kategori tindakan ableism yang terselubung dan destruktif," papar Fajar saat dihubungi melalui jaringan daring.

Ia menjelaskan, figur publik memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi dan perilaku masyarakat. Karena itu, kreator dengan basis pengikut yang besar dituntut memiliki kepekaan sosial yang seimbang dengan kreativitas yang mereka tampilkan di ruang digital.

Fajar melihat masih terdapat kecenderungan sebagian pembuat konten mengikuti tren yang sedang populer demi mengejar keterlibatan audiens atau engagement, tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin muncul.

"Selebritas memiliki daya tular yang sangat kuat dalam mengonstruksi paradigma di masyarakat. Oleh sebab itu, modal utama seorang kreator bukan hanya kreativitas visual, melainkan ketajaman nurani untuk memilah mana tren yang edukatif dan mana yang justru mencederai nilai kemanusiaan," imbuhnya.

Permintaan Maaf Dinilai Baru Langkah Awal

Menanggapi klarifikasi dan permohonan maaf yang telah disampaikan oleh Deni Caknan maupun Bella Bonita, Fajar mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab awal. Namun, menurutnya, proses pemulihan dampak sosial tidak berhenti hanya pada penyampaian permintaan maaf kepada publik.

"Pernyataan maaf barulah pintu pembuka dari sebuah pertanggungjawaban. Esensi akuntabilitas yang sebenarnya terletak pada tindakan korektif pasca-kejadian, mulai dari penurunan konten video yang bermasalah, edukasi internal mengenai sensitivitas isu disabilitas, hingga komitmen konkret untuk mengubah haluan gaya berkonten ke depan," urai Fajar.

Lebih lanjut, ia menilai fenomena tersebut juga mencerminkan tantangan yang dihadapi industri kreatif digital saat ini. Banyak kreator, kata dia, berada dalam tekanan algoritma media sosial yang cenderung mengutamakan konten sensasional demi memicu interaksi publik dalam jumlah besar.

Kendati demikian, Fajar menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pembuat konten, bukan algoritma.

"Logika mesin memang memancing lahirnya tayangan yang mengundang kontroversi, namun moralitas personal harus berperan sebagai rem darurat. Seorang kreator tidak boleh berlindung di balik dalih ketidaktahuan atau alasan sekadar meramaikan tren, sebab pemahaman etis adalah kewajiban mutlak setiap kreator," tegasnya.

Hiburan Tak Boleh Mengorbankan Martabat Kelompok Rentan

Dalam pandangan Fajar, teori utilitarianisme menempatkan suatu tindakan sebagai sesuatu yang baik apabila menghasilkan manfaat atau kebahagiaan yang lebih besar bagi masyarakat. Namun dalam kasus video yang memicu kontroversi tersebut, munculnya rasa tersinggung dan ketidaknyamanan dari komunitas disabilitas menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan.

"Ketika sebuah narasi kreatif memicu rasa sakit hati atau merendahkan martabat kelompok tertentu, maka legitimasi hiburan tersebut gugur secara moral, terlepas dari seberapa banyak orang yang tertawa menyaksikannya," jelas Fajar.

Ia juga mengaitkan kasus ini dengan pendekatan virtue ethics atau etika kebajikan yang menekankan pentingnya karakter moral seperti empati, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sosial dalam setiap tindakan.

Momentum Mendorong Gerakan Inklusi

Di tengah derasnya kritik yang muncul, Fajar melihat masih terdapat peluang bagi para figur publik untuk mengubah kontroversi menjadi langkah positif. Salah satunya dengan memanfaatkan pengaruh yang dimiliki guna mendukung kampanye inklusivitas dan edukasi mengenai isu disabilitas.

"Peristiwa ini bisa menjadi titik balik untuk bermutasi menjadi pejuang inklusi. Langkah riilnya bisa berupa kolaborasi produktif dengan asosiasi penyandang disabilitas guna memproduksi konten edukasi kreatif yang menghormati pluralitas kondisi manusia," sarannya.

Selain mendorong refleksi bagi kreator, Fajar juga mengingatkan masyarakat agar menyikapi kontroversi di media sosial secara proporsional. Menurutnya, ruang digital yang sehat tidak dibangun melalui serangan personal atau gelombang kemarahan semata, melainkan melalui kritik yang edukatif dan membuka ruang perbaikan.

"Tindakan boikot massal atau cancel culture bukanlah skenario penyelesaian yang ideal bagi ekosistem digital kita. Kita memerlukan tradisi kritik yang solutif dan membangun agar industri hiburan tanah air bertumbuh menjadi ruang yang lebih humanis, toleran, serta menghargai hak asasi setiap warga negara," tandasnya.

Isu etika konten digital, representasi disabilitas, dan tanggung jawab figur publik diperkirakan akan terus menjadi perhatian seiring meningkatnya konsumsi konten media sosial di Indonesia. Di tengah persaingan menghasilkan konten yang menarik perhatian publik, sensitivitas terhadap kelompok rentan menjadi salah satu aspek yang semakin penting dalam membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online