Profesi dengan Gaji Tinggi Kini Jadi Ladang Pengangguran

Jumali
Jumali Minggu, 05 Juli 2026 15:17 WIB
Profesi dengan Gaji Tinggi Kini Jadi Ladang Pengangguran

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) - ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah peta ketenagakerjaan global secara signifikan. Jika sebelumnya otomatisasi lebih banyak mengancam pekerjaan yang bersifat rutin dan manual, kini giliran profesi kerah putih dengan gaji tinggi yang menghadapi tekanan besar.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan teknologi, keuangan, hingga jasa profesional. Langkah efisiensi yang semula dianggap sebagai respons sementara terhadap kondisi ekonomi kini berkembang menjadi strategi jangka panjang untuk menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan produktivitas.

Data yang dihimpun Janco Associates berdasarkan statistik Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8% pada April 2026, naik dibandingkan 3,6% pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa pasar tenaga kerja di sektor teknologi mulai mengalami tekanan yang lebih besar.

Sejumlah perusahaan teknologi raksasa secara terbuka mengakui bahwa pemanfaatan AI menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan pengurangan tenaga kerja. Meta, misalnya, memangkas sekitar 10% karyawannya atau setara dengan 8.000 pekerja dalam upaya meningkatkan efisiensi perusahaan.

Langkah serupa juga dilakukan sejumlah perusahaan lain. Nike mengurangi sekitar 1.400 karyawan atau 2% dari total tenaga kerjanya, dengan sebagian besar berasal dari posisi yang berkaitan dengan teknologi. Snap juga memangkas sekitar 1.000 pekerja atau 16% dari total karyawan yang dimiliki.

Di saat yang sama, sektor telekomunikasi dan pengolahan data dilaporkan kehilangan sekitar 342.000 pekerjaan atau turun sekitar 11%. Angka tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah yang setara dengan pekerjaan yang hilang.

Tekanan juga dirasakan sektor keuangan. Tingginya suku bunga global dan melambatnya aktivitas investasi membuat banyak perusahaan melakukan penyesuaian biaya secara agresif. Aktivitas merger, akuisisi, hingga penawaran saham perdana (IPO) yang menurun berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja di perusahaan investasi dan konsultan bisnis.

Akibatnya, posisi analis investasi, konsultan manajemen, hingga sejumlah jabatan strategis dengan gaji tinggi mulai menghadapi risiko pengurangan tenaga kerja. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika profesi tersebut menjadi salah satu pekerjaan paling diminati karena menawarkan kompensasi besar dan prospek karier yang menjanjikan.

Perubahan paling besar terjadi karena kemampuan AI yang semakin berkembang. Teknologi ini kini mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga profesional terlatih. Mulai dari analisis data, penyusunan laporan, riset pasar, pengolahan dokumen hukum, hingga pemrograman tingkat dasar dan menengah dapat dilakukan secara otomatis dengan tingkat akurasi yang semakin tinggi.

Banyak perusahaan menilai penggunaan AI memungkinkan mereka mempertahankan produktivitas meskipun jumlah tenaga kerja dikurangi. Dalam beberapa kasus, perusahaan bahkan dapat memangkas ukuran tim secara signifikan tanpa mengurangi output pekerjaan.

Kepala Eksekutif Janco Associates, Victor Janulaitis, menilai ketidakpastian ekonomi membuat banyak perusahaan menahan perekrutan baru.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ujarnya, dikutip dari Wall Street Journal.

Dampak perubahan ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga psikologis. Pekerja dengan pendapatan tinggi umumnya memiliki pola pengeluaran yang menyesuaikan dengan tingkat penghasilannya. Ketika kehilangan pekerjaan, mereka sering menghadapi tekanan finansial yang lebih besar karena harus tetap memenuhi berbagai kewajiban, mulai dari cicilan properti, kendaraan, hingga biaya pendidikan anak.

Selain itu, proses mencari pekerjaan baru bagi profesional senior cenderung lebih sulit dibandingkan pekerja level awal. Banyak perusahaan enggan merekrut kandidat yang dianggap terlalu berpengalaman atau memiliki ekspektasi gaji tinggi.

Kondisi tersebut membuat banyak profesional mulai mempertimbangkan langkah baru untuk bertahan di pasar kerja. Reskilling dan upskilling menjadi pilihan yang semakin penting agar keterampilan mereka tetap relevan dengan kebutuhan industri yang berubah cepat akibat perkembangan AI.

Perubahan ini menunjukkan bahwa era kecerdasan buatan bukan hanya menghadirkan peluang baru, tetapi juga menuntut adaptasi yang lebih cepat dari para pekerja. Mereka yang mampu mengembangkan keterampilan baru dan berkolaborasi dengan teknologi berpotensi bertahan, sementara mereka yang tidak beradaptasi menghadapi risiko semakin tertinggal dalam persaingan pasar kerja global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online